Pada suatu sore yang kelabu, Aria menemukan sebuah mesin ketik tua di pojok ruang arsip sekolah lama. Selain itu, debu yang menumpuk di atasnya menunjukkan bahwa ia sudah tak pernah dipakai berpuluh tahun. Sementara itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela retak seolah menyorot mesin itu dengan sengaja. Oleh karena itu, Aria merasa tergerak untuk menyalakan kembali tuas demi tuasnya. Namun, sekalipun tuas ditekan, kertas tak juga bergeser; seakan ada kekuatan lain yang mengendalikannya. Kemudian, sebelum Aria pergi, ia menancapkan selembar kertas kosong, berharap setidaknya suara klik-klik tradisional akan mengobati rasa rindu masa lalu.
Dentang Kebangkitan
Kemudian, pada tengah malam berikutnya, suara ketikan bergema di ruang arsip yang kosong total. Padahal, semua lampu sudah dimatikan, dan pintu dikunci rapat. Selain itu, jam dinding berdetak tersendat, menandai waktu yang tak wajar. Selanjutnya, lampu darurat berkedip, memantulkan bayangan mesin ketik yang tiba-tiba mengeluarkan kertas bertulis pesan:
“Siapa yang menyaksikan, harus membayar janji.”
Tidak hanya mengejutkan, kata-kata itu ditulis dengan tinta hitam gelap, seolah menetes dari ujung jari arwah. Sementara itu, Aria yang mendengar suara ketukan lari terbirit-birit, merasakan ngeri mencekam. Padahal, ia yakin tak ada yang berada di sana kecuali dia dan mesin yang sudah usang itu.
Bisikan dari Masa Lalu
Setelah peristiwa mengerikan itu, rumor tentang mesin ketik tua menyebar di antara teman-teman Aria. Bahkan, beberapa berani masuk ke ruang arsip pada malam hari; maka, suara ketukan dan bisikan samar terdengar bergema di lorong kosong. Selain itu, mereka mengaku mendengar suara perempuan menjerit perlahan, menuntut “keadilan” dan “balas dendam.” Dengan kata lain, segala yang berkaitan dengan mesin ketik ini seolah memiliki kehendak sendiri. Namun demikian, tak satu pun dari mereka mau menyentuh tuas—meski rasa penasaran kian menggerogoti.
Menelusuri Asal Usul
Karena penasaran, Aria bersama sahabatnya, Bima, menyelidiki latar belakang mesin ketik tua itu. Pertama-tama, mereka menggali arsip lama sekolah—dokumen kuno berlubang air mata, catatan rapat, dan surat peringatan. Setelah itu, mereka menelusuri jejak nama “Endang Larasati,” guru bahasa Indonesia yang konon menghilang secara misterius puluhan tahun silam. Bahkan, dalam koran tua yang dipindai, disebutkan bahwa Endang menulis skripsi teater tentang keadilan sosial sebelum lenyap tanpa jejak. Oleh karena itu, terbentuk hipotesis bahwa arwahnya terperangkap dalam mesin ketik ini, mengekspresikan luka batin melalui ketukan kertas.
Ritual Pengundangan Arwah
Selanjutnya, pada malam Jumat kliwon, Aria dan Bima menyiapkan ritual sederhana untuk “mengundang” Endang. Selain itu, mereka menyiapkan kopi pahit, lilin hitam, dan foto hitam-putih sang guru yang mereka temukan di lemari arsip. Meskipun ragu, mereka menancapkan foto itu di atas mesin ketik, lalu menekan tombol huruf “E” berulang kali sambil memanggil namanya. Lantas, aroma kopi terbakar muncul, disusul angin dingin yang menerpa wajah, padahal jendela terkunci. Kemudian, tiba-tiba kertas kosong bergeser, dan ketukan pun terjadi—lebih cepat, lebih berirama—seolah Endang sedang mengetik uneg-uneg terakhirnya.
Puncak Teror
Kemudian, suara ketukan berubah menjadi suara jeritan pelan, menembus keheningan lorong. Bahkan, lilin padam seketika, meninggalkan mereka dalam kegelapan. Sesaat setelah itu, Aria mendengar suara napas berat tepat di sampingnya, sedangkan Bima merasakan tangan dingin menyentuh pundaknya. Padahal, ketika lampu senter menyala kembali, tak ada siapa-saja—kecuali mesin ketik yang kini mengeluarkan kertas kedua:
“Janji dilanggar, darah menuntut.”
Akhirnya, mesin itu berhenti mengetik sendiri dan tetap diam, namun bau darah menusuk lubang hidung mereka. Di lantai, noda merah menetes dari ujung kertas, merembes ke lantai kayu usang.
Upaya Penebusan
Karena genting, Aria dan Bima memutuskan membawa kertas itu ke kepala sekolah. Namun demikian, pejabat yang mereka temui menolak membantu, bahkan menatap foto Endang dengan wajah pucat. Sementara itu, lampu di ruang guru berkedip, menandakan kehadiran entitas yang tak kasat mata. Selain itu, di papan pengumuman, tertera pengumuman soal investigasi lama yang tiba-tiba terhapus—nama guru-guru terlibat digantikan baris kosong. Dengan demikian, kengerian semakin memuncak: bukan hanya arwah yang menuntut, tetapi juga sejarah kelam institusi ini.
Keputusan Akhir
Akhirnya, demi menghentikan teror, Aria dan Bima mengembalikan mesin ketik ke ruang arsip, lalu membacakan doa pengantar agar arwah Endang lekas tenang. Selain itu, mereka merobek kertas berlumuran darah dan menanamnya di kaki pohon beringin tua di halaman belakang sekolah, tepat di lokasi legenda kecelakaan yang menewaskan Endang. Meskipun ragu, mereka yakin itulah cara terbaik untuk menunaikan janji.
Beberapa detik setelah itu, suara ketukan di ruang arsip berhenti sepenuhnya. Bahkan, rasa dingin yang menyelimuti ruangan terangkat, digantikan udara hangat yang menenangkan. Mesin ketik tua kembali sunyi, debunya tak lagi bergetar.
Epilog yang Menghantui
Meskipun arwah Endang sempat mereda, siswa dan guru masih merasakan tatapan kosong setiap melewati pojok arsip. Selain itu, terkadang pada malam tertentu, mesin ketik itu mengeluarkan satu ketukan—tanpa kertas—sebagai pengingat bahwa janji dan keadilan tak pernah benar-benar mati. Dengan demikian, cerita tentang mesin ketik tua itu akan terus bergema, menunggu siapa lagi yang berani mengetik takdirnya sendiri.
Inspirasi& Motivasi : Menjaga Perilaku untuk Menjadi Pribadi yang Disegani