Kedatangan Penuh Kecurigaan
Pada malam pertama, aku tiba di hotel tua itu dengan rasa penasaran. Jeritan anak hilang telah lama jadi legenda di kalangan penduduk sekitar, sehingga aku memutuskan untuk menginap demi menguak misterinya. Bahkan ketika resepsionis memberiku kunci lantai dua, ekor matanya menatap ke arah pintu loteng yang selalu terkunci—pintu itu tak pernah dibuka, katanya. Namun, aku tetap melangkah, meskipun hati berdetak semakin cepat.
Bisikan di Koridor Gelap
Selanjutnya, aku menjelajahi lorong berkarpet lusuh. Lampu remang-remang berkedip setiap beberapa menit, menciptakan bayangan menari di dinding. Kemudian, terdengar bisikan pelan, seolah ada sosok kecil yang berkata, “Tolong…” Namun saat aku menoleh, lorong kosong. Walaupun napasku memburu, aku melanjutkan langkah, tertarik oleh suara yang semakin jelas.
Suara Menggema dari Loteng
Setelah itu, pukul dua dini hari, suara itu muncul lagi—kali ini lebih jelas: jeritan tertahan, memecah kesunyian. Aku mendekati pintu loteng, menempelkan telinga ke kayu dingin. Hingga akhirnya, jeritan anak hilang itu terdengar makin nyaring, menggema ke setiap sudut koridor. Aku mundur beberapa langkah—jantung seakan berhenti—tapi rasa penasaran memaksaku menulis catatan di buku harian.
Percobaan Membuka Pintu
Kemudian, tiba saatnya aku mencoba membuka pintu loteng. Meskipun gagangnya terkunci rapat, aku menemukan celah kecil di bawahnya. Dengan obeng kecil yang kubawa, aku memaksa masuk. Saat itu juga, hawa dingin menyerang kulit, seperti ratusan tangan es meraba tubuhku. Bahkan senter di tanganku bergetar hebat, padahal aku tak menyentuhnya.
Bayangan yang Bergerak
Lebih dari itu, saat celah pintu sedikit terbuka, kulihat siluet anak kecil—berdiri di ujung tangga loteng. Kepalanya miring, rambut basah menutupi wajahnya. Suaranya serak, “Jangan…,” tapi pintu terpaksa kutarik lebih lebar. Sementara itu, bayangan itu terus menjauh, melangkah ke arah jendela loteng yang retak.
Jejak Kaki yang Membeku
Kemudian, di tangga loteng, aku menemukan jejak kaki kecil tercetak di debu tebal. Jejak itu mengarah ke sebuah peti kayu lusuh. Ketika kukerjakan gagang peti, terdengar ketukan pelan, namun ritmenya semakin cepat. Saat peti terbuka, aku disambut sepatu boneka yang terbelah setengah—dan di sampingnya, boneka yang tangannya dibiarkan terikat.
Kenangan yang Terkunci
Setelah membuka peti, aku menemukan buku harian seorang anak bernama Nadya. Halaman pertama tertanggal sepuluh tahun lalu—hari ia hilang. Dengan gemetar, aku membalik halaman: tulisan tangannya menceritakan betapa ia dikurung di loteng oleh sosok tanpa wajah. Bahkan halaman terakhir tergores, “Aku tak bisa keluar, pintu tak pernah dibuka…”
Jeritan Memuncak di Puncak Loteng
Selanjutnya, aku memanjat tangga ke puncak loteng. Semakin tinggi, udara makin pengap. Kemudian, suara jeritan anak hilang tiba-tiba membahana di dalam kepalaku—seakan ia berada di samping telingaku. Namun ketika kugerakkan tubuh, tak ada siapa pun. Hingga akhirnya, di sudut ruangan, kulihat sosok kabur—anak dengan mata kosong, menatapku penuh penyesalan dan kemarahan.
Konfrontasi di Balik Peti
Kemudian, aku mencoba bicara, “Nadya, aku di sini untuk membebaskanmu.” Namun sosok itu mengangkat tangan, menuntunku kembali ke peti kayu yang terbuka. Ia melayang, mengitari ruangan, lalu berhenti di atas peti. Suaranya menggema: “Tolong… kunci… bukakan…” Awalnya aku ingin menahan diri, tetapi rasa iba mendorongku mendekat.
Pembebasan yang Mengerikan
Setelah itu, kupasang kunci cadangan di pintu loteng—yang ternyata sesuai dengan pintu peti. Aku memutar kunci, dan suara peti berderit panjang. Hingga perlahan, pintu peti terbuka sepenuhnya. Cahaya redup menembus celah, dan sosok Nadya meluncur keluar, menjerit histeris. Lalu ia menatapku sekali—matanya berlubang, lengannya memeluk hampa—kemudian ia lenyap begitu saja.
Keturunan Teror
Namun setelah kejadian itu, teror belum berakhir. Keesokan paginya, resepsionis melihatku lari ketakutan, tapi ia hanya menatap kosong. Bahkan tamu lain mengaku mendengar jeritan setiap tengah malam, meski loteng tetap terkunci. Kini, aku pun merasakan hawa dingin itu menemaniku, seolah Nadya terus mencari pembebasnya—memburu siapa pun yang membuka pintu takdirnya.
Akhir yang Tak Pernah Terhenti
Akhirnya, aku memutuskan pergi. Namun sebelum beranjak, kulirik pintu loteng sekali lagi. Dari celah kecil, pantulan matanya menatap balik—matanya sayu, mengundang belas kasih sekaligus ancaman. Sejak saat itu, jeritan anak hilang itu tak pernah berhenti bergema dalam mimpiku, mengingatkanku bahwa ada pintu yang lebih baik dibiarkan terkunci selamanya.
Food & Traveling : Menikmati Kuliner Khas Banyuwangi yang Menggugah Selera