Senja Turun, dan Pekerjaan Terlihat Aman
Sore itu aku tiba di Pantai Wediombo untuk mengambil footage senja, sementara siluet penari masih terdengar seperti istilah puitis belaka. Karena klienku meminta video pendek bertema “tenang”, aku membawa gimbal, baterai cadangan, dan mikrofon kecil untuk menangkap suara ombak. Sementara itu, matahari mulai turun, lalu menyapu permukaan laut dengan warna tembaga yang hangat, membuat semuanya tampak indah tanpa ancaman.
Di tepi parkiran, beberapa pedagang menyiapkan dagangan terakhir. Selain itu, keluarga yang datang berlibur mulai mengemas tikar, karena angin sore di selatan sering berubah cepat. Namun demikian, ada satu kelompok kecil di sudut pasir yang tampak berbeda: mereka duduk melingkar, menunduk, dan tidak memegang ponsel sama sekali.
Lantas seorang bapak penjaga warung menatapku lebih lama daripada perlu. “Mas mau ambil video?” tanyanya. Aku mengangguk sambil menyalakan gimbal. Kemudian ia menambahkan pelan, “Kalau lihat siluet penari pas matahari nyemplung, jangan kamu ikuti.”
Aku tersenyum kaku. Walaupun mencoba santai, kata siluet penari menempel di kepala seperti nada yang tidak selesai.
Pasir Hangat, Angin Dingin, dan Sudut yang Menggoda
Pertama-tama aku memilih sudut dekat batu karang agar garis ombak terlihat rapi. Berikutnya, aku merekam panning pelan dari langit ke laut supaya perubahan warna senja terasa halus. Setelah itu, aku mengambil beberapa close-up buih ombak, karena klien suka detail yang “relaks”.
Akan tetapi, suara laut berubah cepat. Di sisi lain, ombak yang barusan teratur tiba-tiba terdengar seperti napas berat, seolah pantai sedang menghela. Akibatnya, bulu kudukku berdiri sebentar, meski otak mencoba menepis sebagai sugesti.
Lantas angin mendadak dingin. Sesudah itu, aroma garam bercampur wangi kemenyan tipis, sangat samar namun jelas. Selain itu, aku melihat jejak kaki kecil menuju sudut pantai yang lebih sepi, dekat cekungan batu yang membentuk kolam alami.
Karena penasaran, kakiku melangkah mengikuti jejak itu. Namun demikian, setiap langkah terasa seperti mendekat ke panggung yang tidak dibuat untuk turis.
Kolam Batu dan Daun yang Disusun Terlalu Rapi
Di dekat kolam batu, aku menemukan daun-daun disusun rapi seperti alas. Sementara itu, ada bunga kecil yang diletakkan melingkar, walau tidak ada orang yang kelihatan menyiapkan. Selain itu, sepotong kain tipis berwarna gelap tersangkut di celah batu, bergerak pelan seperti bendera kecil yang lelah.
Lantas aku menunduk untuk memotret detailnya. Namun saat kamera kuangkat lagi, suasana berubah: suara wisatawan terdengar makin jauh, sedangkan suara ombak mendadak seperti dipelankan. Akibatnya, kolam batu terasa seperti ruang tertutup, walau langit terbuka.
Kemudian muncul sosok di ujung pandang.
Sosok itu tidak sepenuhnya jelas. Namun, garis tubuhnya terlihat tipis, dan geraknya seperti orang menari—pelan, terukur, dan seolah mendengar musik yang tidak kudengar.
Dari posisi matahari yang hampir tenggelam, sosok itu tampak sebagai siluet penari.
Gerak Tangan yang Mengundang, tetapi Tidak Memanggil
Siluet itu mengangkat tangan perlahan. Selain itu, kepalanya sedikit miring, seperti mengamati aku tanpa wajah. Namun demikian, geraknya tidak mengancam; ia malah terlihat lembut, seperti menawarkan arah.
Lantas aku mengambil kamera dan merekam. Sesudah itu, layar memperlihatkan sesuatu aneh: background senja tampak wajar, tetapi bagian sosoknya lebih hitam daripada seharusnya, seolah menyerap cahaya.
Akibatnya, aku menahan napas. Walaupun ingin mendekat untuk mendapatkan gambar lebih jelas, peringatan bapak warung terngiang: jangan ikuti.
Sementara aku ragu, siluet itu mundur satu langkah ke arah bibir pantai. Kemudian ombak datang tepat waktu, seakan mengiringi geraknya.
Lantas satu suara muncul—bukan dari luar, melainkan seperti di pinggir telinga.
“Ke… sini….”
Aku merinding. Namun, mulutku tetap diam, karena suara itu terlalu halus untuk dipercaya.
Orang Warung dan Cerita yang Tidak Enak Didengar
Tiba-tiba ada langkah cepat dari belakang. Bapak warung tadi muncul, napasnya terburu-buru. “Mas, jangan di situ!” katanya, lalu menarik lenganku menjauh dari kolam batu. Sesudah aku bergeser beberapa meter, suara pantai kembali normal, seperti tombol volume dinaikkan.
Bapak itu menghela napas panjang. “Kamu tadi lihat, ya?” tanyanya. Aku mengangguk pelan, sambil menelan ludah yang tiba-tiba pahit. Lantas ia berkata, “Itu bukan penari buat hiburan. Itu penanda.”
“Penanda apa?” tanyaku.
Ia menatap laut yang mulai gelap. “Kalau ada sesaji tercecer, kalau ada janji tidak ditepati, siluet penari muncul pas senja—bukan buat menari, tapi buat mengajak.”
Aku ingin tertawa karena tidak masuk akal, tetapi tubuhku tidak bisa ikut tertawa. Selain itu, suara “ke sini” tadi masih terasa menempel di telinga seperti sisa dengung.
Rekaman yang Memutar Gerak yang Tidak Kurekam
Aku duduk di batu besar, mencoba menenangkan napas. Sementara itu, aku memutar ulang footage untuk memastikan tadi hanya efek cahaya. Namun, video yang tampil membuat dadaku jatuh: di rekaman, ada satu frame tambahan—gerak tangan siluet lebih dekat ke kamera, padahal aku merasa tidak mendekat.
Selain itu, ada bunyi samar seperti denting kecil, mirip gelang logam beradu, meski mikrofonku seharusnya hanya menangkap ombak. Lantas di belakang ombak, terdengar bisikan yang lebih jelas dari sebelumnya.
“Satu… putaran… lagi….”
Akibatnya, aku menutup video cepat. Walaupun ingin menghapus file itu, jariku terasa kaku, seolah ada rasa takut menghapus berarti “mengundang ulang”. Bapak warung menepuk bahuku, lalu berkata, “Kalau kamu putar berkali-kali, kamu ikut iramanya.”
Aku menelan ludah. Kemudian aku menyimpan kamera dan mencoba tidak melihat layar lagi.
Senja Berakhir, tetapi Tariannya Tidak
Matahari akhirnya tenggelam. Namun demikian, langit tidak langsung gelap; sisa merahnya masih memantul di air seperti bara. Di saat itulah aku melihat lagi: jauh di bibir pantai, garis hitam bergerak pelan, tetap terukur, tetap seperti menari.
Selain itu, siluet penari kali ini tidak sendiri. Ada satu titik gelap lain, lebih kecil, bergerak seperti mengikuti.
Lantas bapak warung memegang lenganku lebih kuat. “Mas pulang sekarang,” katanya. “Jangan tunggu gelap penuh.”
Aku mengangguk, lalu berjalan cepat ke arah parkiran. Walaupun sudah menjauh, aku masih merasa ombak mengikuti langkah, seperti musik yang tidak bisa dimatikan.
Jalan Pulang dan Musik yang Tiba-Tiba Ada
Di motor, helm menutup telinga, tetapi suara ombak masih terdengar jelas seperti ada di dalam kepala. Selain itu, bunyi denting gelang muncul lagi, bertumpuk dengan suara mesin. Lantas di lampu merah, aku melihat sesuatu di kaca spion: bayangan tipis di jok belakang, seperti tangan yang sedang menekuk pergelangan—gerak yang sama seperti tarian tadi.
Aku menahan napas. Kemudian aku tidak menoleh, karena menoleh terasa seperti memberi panggung. Walaupun lampu hijau sudah menyala, tubuhku butuh dua detik untuk bergerak, sebab takutku menahan.
Sesudah motor melaju, bayangan itu hilang. Namun demikian, bisikan tetap muncul pelan, seperti sisa lagu:
“Satu putaran…”
Aku menggigit ujung lidah agar tidak menjawab. Lantas aku mempercepat motor, berharap jarak bisa memutus irama.
Pagi yang Normal, dan Sisa Pasir di Dalam Tas
Keesokan paginya aku terbangun dengan rasa lelah yang tidak wajar. Sementara itu, di sudut tas kamera ada pasir basah menempel, padahal aku yakin sudah membersihkan. Selain itu, ada bunga kecil kering terselip di tali gimbal, seperti oleh tangan yang teliti.
Lantas aku membuka file rekaman dengan ragu. Namun, alih-alih hanya melihat senja, aku menemukan bagian akhir yang tidak kuketahui: layar gelap, suara ombak pelan, lalu bunyi denting gelang lebih dekat, sangat dekat. Sesudah itu, ada kalimat yang jelas, memakai suaraku sendiri:
“Aku ikut…”
Akibatnya, keringat dingin keluar. Walaupun aku tahu aku tidak pernah berkata begitu, rekaman itu seperti bukti yang menuduh.
Kemudian aku teringat kalimat bapak warung: kalau kamu ikut iramanya, kamu ikut jalannya.
Menutup Irama: Garam, Air, dan Tidak Menjawab
Sore itu aku kembali ke pantai, tetapi aku tidak masuk ke area kolam batu. Selain itu, aku datang dengan niat berbeda: bukan merekam, melainkan menutup. Bapak warung sudah menunggu, seolah ia tahu aku akan kembali.
Lantas ia memberiku garam dan segelas air. “Cuci tangan, cuci muka,” katanya. “Terus jangan sebut apa pun yang kamu dengar.”
Aku menuruti. Sesudah itu, ia menabur garam kecil-kecil di tepi jalan setapak menuju kolam batu, seperti membuat batas. Sementara itu, ia berbisik pelan, entah doa entah permintaan maaf kepada laut.
Namun demikian, angin sore kembali dingin. Di kejauhan, garis hitam bergerak pelan di bibir pantai. Siluet penari muncul lagi, tetapi kali ini jaraknya lebih jauh, seolah menunggu apakah aku akan mendekat.
Lantas bisikan muncul lembut.
“Ke sini….”
Aku menelan ludah, lalu tetap diam. Walaupun hati berdebar, aku tidak menjawab. Kemudian bapak warung menepuk pundakku sekali, seperti memberi tanda bahwa diamku benar.
Sesudah beberapa menit, siluet itu memudar bersama turunnya gelap. Selain itu, bunyi denting gelang menghilang, seolah irama kehilangan penonton.
Sisa Senja dan Pelajaran yang Menetap
Malam tiba dengan tenang. Namun, ketenangan itu bukan berarti lupa; ketenangan itu terasa seperti peringatan yang berhasil ditahan. Sementara itu, aku menyadari satu hal: pantai selatan tidak selalu marah, tetapi ia punya cara menagih janji yang ditinggalkan.
Lantas aku pulang tanpa merekam lagi. Walaupun klienku mungkin kecewa, aku lebih memilih kehilangan footage daripada kehilangan pulang. Kemudian satu kalimat menempel di kepalaku: siluet penari bukan penyebab, melainkan cermin—ia muncul ketika manusia meninggalkan sesuatu yang seharusnya ditutup, dan ia hilang ketika manusia memilih tidak memberi suara pada ajakan yang salah.
Lifestyle : Membangun Kebiasaan Membaca sebagai Rutinitas Berkualitas