Sosok Di Balik Gorden Rumah Adat Dayak Kalimantan

Sosok Di Balik Gorden Rumah Adat Dayak Kalimantan post thumbnail image

Rumah Adat yang Menyimpan Bisikan

Di tepian hutan Kalimantan Tengah, berdiri sebuah rumah adat Dayak berusia lebih dari seabad. Tiang-tiang kayunya gelap, dan ukiran naga pada dindingnya sudah pudar dimakan usia. Namun bagi warga sekitar, rumah itu bukan sekadar peninggalan leluhur — ia hidup, bernafas, dan kadang berbicara.

Orang kampung menyebut rumah itu Huma Panyugu, rumah penjaga arwah. Di dalamnya tergantung gorden merah tua dari kain tenun lawas. Dan setiap kali malam turun, selalu ada sosok di balik gorden itu.


Malam Pertama di Huma Panyugu

Rendra, mahasiswa antropologi dari Banjarmasin, datang untuk meneliti simbol ukiran Dayak Ngaju. Ia menginap di rumah adat yang kini dijadikan tempat tinggal sementara penjaga situs bernama Nek Iban, seorang perempuan tua yang jarang bicara.

Sore pertama terasa damai. Angin dari sungai membawa aroma damar dan kayu basah. Tapi saat malam menjelang, udara berubah dingin. Gorden merah tua di ujung ruang tengah bergoyang sendiri.

Rendra mendekat, menyorot dengan senter. Di balik kain, tampak siluet tubuh seseorang berdiri diam. “Nek, ada orang di sana?” tanyanya pelan. Tak ada jawaban. Hanya desir angin yang masuk lewat celah papan.

Saat ia menarik gorden itu, ruang kosong menatapnya. Tak ada siapa-siapa. Namun lantai kayu di bawah terasa masih hangat, seolah baru saja diinjak seseorang.


Larangan dari Nek Iban

Pagi harinya, Rendra menceritakan kejadian itu pada Nek Iban. Perempuan tua itu menatapnya dengan mata keruh tapi tajam.
“Jangan buka gorden itu malam hari,” katanya.
“Kenapa, Nek?”
“Karena yang kau lihat bukan manusia. Ia penjaga rumah ini, yang tak suka dilihat.”

Rendra tertawa kecil, menganggapnya mitos. Tapi Nek Iban tidak tertawa. Ia menaruh segenggam beras di bawah gorden dan menyalakan dupa kecil. Asapnya menari-nari di udara. “Kalau kau dengar suara langkah di malam kedua, jangan menoleh. Diam saja.”


Malam Kedua: Suara Langkah

Malam itu hujan datang lebih awal. Angin meniup gorden, membuatnya berayun perlahan. Rendra mencoba fokus pada catatan lapangan, tapi suara itu datang — cetok… cetok… cetok — langkah pelan di atas lantai kayu.

Ia menahan napas. Langkah itu berhenti tepat di belakang gorden. Bayangan kaki terlihat samar, seperti seseorang berdiri di baliknya.

“Nek Iban?” suaranya gemetar. Tak ada jawaban. Gorden bergetar sekali, lalu diam. Rendra menatap kain itu lama, sampai akhirnya ia tertidur di kursi, ditemani suara hujan yang tak berhenti.


Pagi yang Basah dan Sunyi

Ketika bangun, Rendra mendapati lantai basah padahal tak ada bocoran di atap. Bekas jejak kaki kecil menuju gorden. Saat disentuh, kain itu terasa lembab dan berbau dupa terbakar.

Ia berlari keluar mencari Nek Iban. Namun rumah penjaga itu kosong, pintunya terbuka lebar. Di meja dapur hanya ada semangkuk air dan bunga-bunga hutan layu.

Di sisi dinding terukir kalimat Dayak kuno:

“Jangan menatap mata penjaga, atau kau akan jadi bagian dari rumah.”


Catatan Tua di Bawah Lantai

Rendra memeriksa lantai rumah. Di sela papan, ia menemukan gulungan kertas lapuk terbungkus kain merah. Tulisan di dalamnya menjelaskan tentang ritual Panyugu, persembahan roh leluhur penjaga rumah.

Setiap generasi harus menempatkan satu “penunggu baru” di balik gorden agar rumah tidak kehilangan jiwa. Bila tak ada yang bersedia, roh penjaga akan memilih sendiri dari manusia yang tinggal di sana.

Rendra merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia mengingat malam pertama dan langkah di balik gorden. “Apakah dia… sedang memilihku?” pikirnya.


Bayangan di Cermin

Hari mulai gelap. Rendra mencoba mengemas barang, berniat pulang esok pagi. Tapi saat mencuci muka, ia melihat sesuatu di cermin kamar mandi — di belakangnya, gorden merah itu tampak terbuka sedikit.

Di celahnya, sepasang mata hitam menatapnya tajam. Ia berbalik cepat, tapi gorden tertutup lagi seperti semula.

Rendra berlari keluar rumah, tapi hujan turun deras. Sungai di bawah tangga rumah meluap, menutup jalan keluar. Ia kembali masuk dengan tubuh gemetar. Bau dupa memenuhi ruangan, dan suara langkah kembali terdengar.


Bisikan di Balik Kain

Kali ini bukan hanya langkah. Ada suara perempuan berbisik, pelan dan teratur:

“Kau lihat aku… jadi kau harus tinggal.”

Rendra menatap ke arah gorden, dan kain itu bergerak perlahan seperti seseorang bernafas di baliknya. Ia mencoba menahan diri untuk tidak mendekat, tapi rasa ingin tahu menang.

Saat jarinya menyentuh kain itu, udara di ruangan berubah beku. Kain terbuka sedikit, memperlihatkan wajah pucat perempuan muda dengan mata kosong. Rambut panjangnya menutupi separuh muka, dan dari bibirnya menetes darah hitam pekat.


Malam Ketiga: Penjaga Memilih

Rendra menjerit dan terjatuh ke lantai. Wajah itu hilang dalam sekejap, tapi suaranya masih terdengar di telinganya. Ia berlari keluar kamar, namun seluruh pintu tertutup rapat. Lampu padam, dan hanya cahaya petir menyinari ukiran dinding yang kini tampak berubah bentuk — naga dan burung enggang menatapnya dengan mata hidup.

Dari ujung ruangan, gorden merah itu terbuka perlahan. Sosok perempuan yang sama keluar, berjalan dengan langkah pelan. Kulitnya memendar lembut seperti disinari dari dalam.

Ia mendekati Rendra, lalu berlutut. “Penjaga lama sudah menunggu terlalu lama,” katanya dengan suara yang seperti nyanyian jauh. “Sekarang giliranmu.”


Hilangnya Rendra

Keesokan paginya, warga kampung menemukan pintu rumah adat terbuka lebar. Tak ada tanda-tanda perkelahian, hanya buku catatan lapangan dan kamera Rendra di lantai.

Gorden merah kini diam tak bergeming. Tapi saat Nek Iban kembali — entah dari mana — ia menatap rumah itu lama, lalu berbisik, “Penunggu baru sudah datang.”

Ia menaruh segenggam beras di bawah gorden seperti sebelumnya, menyalakan dupa, dan meninggalkan rumah dengan langkah tenang.


Kembalinya Mahasiswa

Tiga bulan kemudian, seorang dosen dari universitas datang mencari Rendra. Warga hanya mengatakan ia hilang di rumah adat. Tapi dosen itu bersikeras masuk.

Saat ia menyalakan senter di ruang tengah, matanya tertuju pada gorden merah yang sedikit terbuka. Di baliknya, siluet seseorang berdiri diam — tinggi, dengan tas ransel di punggung.

“Nak Rendra?” panggilnya. Sosok itu tak menjawab, hanya menunduk pelan.

Lalu, perlahan, tangan pucat itu menutup kembali gorden dari dalam.


Warisan Penunggu

Malam itu, warga kembali mencium bau dupa dari rumah adat. Gorden merah bergoyang lembut meski tak ada angin.

Seorang anak kecil yang lewat melihat bayangan seseorang mengintip dari balik kain, lalu melambaikan tangan. Ia berlari pulang sambil tertawa, tak tahu bahwa yang dilihatnya bukan manusia.

Kini, setiap kali hujan turun di kampung itu, gorden merah di Huma Panyugu selalu bergerak sendiri. Dan bila seseorang nekat membuka kain itu, mereka akan melihat sosok di balik gorden — entah penjaga lama, entah penunggu baru yang tak pernah benar-benar pergi.

Teknologi & Digital : Bahasa Pemrograman Baru Bermunculan di Tahun 2025

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post