Mengenang Dermaga Sunyi
Malam itu, embusan angin laut membawa kesejukan menusuk tulang—tanda bahwa pelukan mayat di dermaga makassar telah bersiap menjerat siapa saja yang berani datang. Lampu jalan berpendar ragu, memantulkan riak air yang menepi ke dermaga kayu tua. Di kejauhan, siluet kapal nelayan tampak bergoyang pelan. Namun, di antara bunyi jangkar dan desir ombak, ada sesuatu yang lebih menakutkan: keheningan yang berbisik, seolah mengundang langkah kaki mendekat dengan janji ranjau tak kasat mata.
Bayangan di Bawah Lampu Gantung
Begitu kaki Rafi menjejak ujung dermaga, ia merasakan tatapan dingin dari sosok tak terlihat. Lampu gantung yang retak menorehkan bayangan panjang di sela papan kayu lapuk. Selain dinding dermaga, tiang pilar menampakkan noda tua menyerupai tangan yang merayap. Tanpa diduga, Rafi menoleh, dan dalam kilatan senter, ia melihat sosok berdiri diam—bentuk manusia tetapi tubuhnya pucat dan meneteskan air asin. Sekonyong-konyong, senter itu mati, membiarkannya tenggelam dalam pekat.
Desah Ombak dan Aroma Pembusukan
Lebih jauh, suara ombak bergantian dengan desahan pelan, bagai napas panjang makhluk raksasa di dasar laut. Sementara itu, aroma busuk menusuk hidung, seolah jasad seseorang tergeletak di tepian dermaga. Donderan papan kayu di bawah kaki berubah menjadi rebutan desing angin, menyusun irama kematian yang memabukkan. Dengan bergetar, Rafi menoleh ke belakang—tak ada apa pun, kecuali papan kosong yang bergoyang meski tak ada yang menyentuhnya.
Pertemuan Pertama dengan Sosok
Kemudian, ketika Rafi melangkah mundur, sosok itu mendekat perlahan. Matanya menyala kehitaman, sementara mulutnya terkatup rapat—seakan mengunyah amarah yang terpendam. Tubuhnya mengeluarkan suara gemerisik kain lapuk, menandakan kehadiran mahluk yang terperangkap antara dunia hidup dan mati. Hati Rafi berdegup tak karuan, namun ia terpaksa bertahan menatap sosok yang kian dekat, menantangnya untuk berlari atau tetap berpijak.
Intuisi yang Tertumbuk Rasa Takut
Otaknya berteriak agar menepi, namun kaki bagai tertanam di papan kayu. Keheningan di sekitarnya membentur memori Rafi akan cerita nelayan lama—kisah mayat tanpa kubur yang merengkuh korban di dermaga sepi. Semakin dekat sosok itu, semakin jelas ia mencium aroma garam bercampur darah. Sekejap, sosok itu mengulurkan tangan kering, dan Rafi merasakan kesejukan menusuk lengan, meski kulitnya tak tergores.
Nafas yang Menggigil di Balik Kegelapan
Saat itulah Rafi mendengar suara napas berat—bukan napasnya sendiri, melainkan napas ghaib yang memekikkan kesunyian. Dalam satu hembusan, suhu udara menurun drastis hingga terlihat uap putih menari di depan mulutnya. Tubuhnya menggigil tak terkendali, sementara sosok itu mematung di hadapannya. Setiap detik terasa abadi, seolah waktu berhenti dan hanya ada mereka berdua dalam lorong gelap dermaga.
Pelukan Dingin Menggenggam Jiwa
Akhirnya, sosok itu merentangkan kedua lengannya dan memeluk Rafi dengan kekuatan tak terduga. Dada Rafi tercekat, seolah jantungnya terhenti berdenyut. Pelukan mayat di dermaga makassar ini bukan pelukan ramah; ia meremas hingga rasa hidup pudar, meninggalkan sensasi kesepian abadi. Dalam dekapan itu, Rafi bisa merasakan riuh suara tangisan dan tawa seram dari ribuan jiwa yang dulu terjebak di dermaga sama.
Lari Tanpa Jejak di Dermaga Tua
Secara naluriah, Rafi melepaskan diri dan berlari terbirit ke ujung dermaga. Namun, jejak kakinya hilang dalam kabut tipis yang tiba-tiba muncul. Papan kayu di bawahnya berderit—seolah menghalang jalan keluar. Tangannya menempuh udara, mencari pegangan, tetapi yang didapat hanyalah kekosongan. Derap langkahnya terbalas tawa rendah, memantul di antara pilar kayu, semakin menambah ketakutan.
Jeritan Diam di Hati
Ketika akhirnya berhasil menjejak tanah padat, Rafi terhuyung. Napasnya tersengal, namun bibirnya kelu tak mampu berteriak. Dalam hati, hanya ada jeritan sunyi yang menggema terus-menerus. Ia menoleh ke arah dermaga: lampu gantung kembali menyala terang, papan kayu tampak normal—tak ada noda, tak ada bayangan. Namun, di balik matanya, Rafi tahu bahwa sesuatu yang tak kasat mata telah ikut pulang bersamanya.
Epilog: Dermaga Makassar Tak Pernah Sama
Sejak malam kelam itu, cerita pelukan mayat di dermaga makassar menjadi legenda yang diperbincangkan senja hingga subuh. Mereka yang mendengar kisahnya merinding, takut menjejakkan kaki saat lampu padam. Sementara itu, Rafi sendiri tak pernah bisa kembali tenang—setiap kali mendengar desiran ombak, jiwanya terulang pada pelukan dingin yang memerangkap harapan hidup. Dermaga Makassar kini berdiri sebagai saksi bisu: di balik keindahan senja, tersimpan reruntuhan jiwa yang mengintai dalam diam.
Berita & Politik : Industri Sawit: Perdebatan Ekonomi vs Kelestarian Lingkungan