Sejak tiga minggu lalu, Damar mengalami mimpi berulang tentang lorong tak berujung. Awalnya hanya tampak seperti mimpi biasa. Dalam mimpi itu, ia berdiri di ujung lorong sempit dengan cahaya redup, dinding kusam yang lembap, dan gema langkahnya sendiri yang seperti datang dari segala arah.
Namun, yang membuatnya gelisah adalah perasaan familiar yang aneh. Ia tahu betul lorong itu—seperti pernah benar-benar berada di sana, meski tak bisa mengingat kapan atau di mana. Setiap malam, saat matanya terpejam, ia kembali ke tempat itu. Dan setiap malam pula, lorong itu semakin panjang… dan lebih gelap.
Keanehan Mulai Mengusik Kehidupan Nyata
Saat mimpi berulang tentang lorong tak berujung semakin sering menghantuinya, dampaknya terasa ke kehidupan nyata. Damar jadi sering terbangun dengan keringat dingin, jantung berdebar hebat, dan rasa takut yang tak beralasan. Ia mulai menghindari tidur.
Di kantor, ia tampak lesu. Saat seorang rekan kerja menyadarkan Damar dari lamunan, ia tersentak kaget seolah baru saja keluar dari mimpi buruk—padahal ia sedang duduk sambil menatap monitor.
Yang lebih mengerikan, suatu malam ia mendengar suara langkah kaki… sama seperti dalam mimpinya. Tapi itu nyata. Ia mendengarnya di lorong apartemennya, pukul dua pagi. Saat ia mengintip melalui lubang pintu, lorong itu kosong. Tapi gema langkahnya masih terdengar… mendekat.
Misteri Lorong Tanpa Akhir
Damar mencoba mencari tahu. Ia mencatat setiap detail mimpi berulang tentang lorong tak berujung yang dialaminya. Ia menggambar denah, mencatat panjang langkah, arah belokannya, hingga warna dinding. Anehnya, detail lorong itu berubah sedikit demi sedikit.
Pertama, ia melihat pintu kayu tua di sisi kanan. Malam berikutnya, pintu itu terbuka. Ia tak masuk, hanya menatap kegelapan di dalam. Lalu, ia melihat bayangan samar berdiri jauh di ujung lorong, tak bergerak, hanya menatap ke arahnya.
Penasaran berubah menjadi ketakutan. Setiap kali ia bermimpi, sosok itu semakin dekat. Damar mulai merasa bahwa sosok dalam mimpi itu menyadari kehadirannya. Bukan sekadar bagian dari mimpi—melainkan entitas yang juga sadar akan Damar.
Batas Antara Mimpi dan Nyata Mengabur
Seminggu kemudian, mimpi berulang tentang lorong tak berujung menjadi lebih nyata daripada sebelumnya. Kali ini, Damar tidak hanya melihat, tetapi juga mencium bau dinding yang lembap, merasakan udara dingin menusuk kulit, dan mendengar bisikan dari arah tak dikenal.
Suatu malam, saat ia mencoba melawan rasa kantuk dengan kopi, kepalanya terjatuh di meja. Ia tertidur sekejap, dan kembali berada di lorong itu. Namun, saat ia membuka mata kembali di dunia nyata, telapak tangannya berdarah.
Bekas luka goresan itu… persis seperti yang ia alami dalam mimpi, saat menyentuh sisi dinding penuh paku berkarat.
Saat itulah Damar menyadari satu hal menakutkan: mimpi itu mulai merusak kenyataan.
Mencari Jawaban di Tempat Mistis
Merasa terdesak, Damar menemui seseorang yang disebut-sebut bisa “membaca mimpi”. Seorang wanita tua bernama Bu Ratmi, tinggal di pinggiran kota. Begitu Damar menceritakan mimpi berulang tentang lorong tak berujung, wajah Bu Ratmi pucat.
“Yang kamu alami bukan mimpi biasa. Itu jalan,” katanya lirih. “Lorong itu adalah batas dunia. Tempat jiwa-jiwa yang belum selesai tinggal. Dan kamu… mungkin sudah melewati sesuatu tanpa sadar.”
Damar menolak percaya. Namun saat Bu Ratmi menggambar simbol pelindung di tangannya dan berkata, “Kalau sosok itu sampai menyentuhmu, kamu tak akan bangun lagi,” tubuh Damar bergetar hebat.
Malam Terakhir di Lorong Tak Berujung
Malam itu, Damar terbangun di tengah malam dengan dada berat. Ia merasa seperti dicekik oleh udara dingin. Saat ia memaksakan diri kembali tidur, ia langsung berada di tengah lorong.
Tapi kali ini berbeda.
Lorongnya terang… namun tidak karena cahaya. Melainkan karena dindingnya memantulkan bayangan aneh. Bayangan manusia. Ada banyak. Dan di ujungnya, sosok itu berdiri. Jelas. Lebih dekat dari sebelumnya.
Sosok wanita. Rambut menutupi wajahnya. Tangan kurus panjang terjulur ke arahnya. Dan ia bicara.
“Sudah waktunya… ikut aku…”
Damar mencoba lari, tapi lorong itu tak pernah berujung. Ia menoleh ke belakang—semua dinding berubah menjadi cermin, memperlihatkan dirinya berteriak ketakutan. Lalu, tangan itu menyentuh bahunya.
Keesokan Paginya…
Damar ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya. Tubuhnya dingin, namun denyut jantungnya normal. Ia tidak bangun selama dua hari. Dokter menyebutnya koma ringan. Namun yang aneh, di tangannya, simbol yang digambar Bu Ratmi menghitam… dan perlahan menghilang.
Setelah sadar, Damar tidak lagi mengalami mimpi berulang tentang lorong tak berujung. Tapi ia juga tak pernah bisa tidur lebih dari dua jam. Karena setiap kali tertidur, ia mendengar suara wanita itu… memanggil namanya… dari balik lorong.
Ketika Mimpi Menjadi Gerbang
Cerita mimpi berulang tentang lorong tak berujung tidak sekadar kisah seram. Bagi Damar, itu menjadi pengingat bahwa mimpi bukan hanya bunga tidur, melainkan jendela ke tempat yang tidak semua orang siap lihat.
Dan hingga kini, di sudut pikirannya… lorong itu masih ada. Menunggu.
Bisnis & Ekonomi : Permintaan Pasar Terbentuk dari Kebutuhan Pokok