“Saat Pintu Tua Itu Berderit, Hatiku Bergetar Lebih Kencang dari Denting Jam Tua…”
Bayangan Kelam Membuka Kisah
Namun, sejak malam pertama aku menginjakkan kaki di lorong itu, “bayangan kelam” selalu mengikutiku. Kabut tipis menyelimuti lantai dingin, sedangkan lampu remang-remang menari tanpa henti. Tanpa disangka, suara langkah kaki—padahal lorong itu kosong—menggema mengikuti detak jantungku yang melaju tak terkendali.
Keheningan Memanggil
Sementara itu, keheningan semakin memegang kendali. Setiap kali aku menahan napas, terdengar desahan lembut di balik pintu-pintu yang tergeletak setengah terbuka. Ketika kuulurkan tangan untuk meraihnya, pintu itu berderit dan menutup sendiri, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menolakku.
Denting Lampu Berkedip
Tiba-tiba, lampu di ujung lorong berkedip lebih cepat. Detik berganti detik, hingga aku merasakan bayangan bergerak, membelakangi. Hidungku mencium aroma obat antiseptik yang memualkan, padahal rumah sakit itu sudah lama ditinggalkan. Tanpa disangka, kursi roda tergeletak terbalik—yang sebelumnya kukira hanyalah boneka tua—tiba-tiba bergeser mendekatiku.
Suara di Balik Pintu
Selaras dengan detak jantung yang semakin cepat, terdengar ketukan pelan di balik pintu kamar terakhir. “Ketuk… ketuk…” Sekejap aku menepi, hanya untuk mendapati pintu itu tertutup rapat. Namun saat aku mengendap mendekat, sebuah bisikan serak mengalir:
“Kau tidak seharusnya di sini…”
Napas Tak Terkendali
Napasku tercekat. Tanpa sadar, keringat dingin menetes di pelipis. Ke mana pun aku menoleh, bayangan itu selalu ada—seakan menantangku untuk menguak rahasia kelam yang tersembunyi. Entah mengapa, langkah kakiku tak mampu mundur; rasa penasaran justru menjeratku lebih dalam.
Jejak Darah Memudar
Namun, di tengah lorong, aku menemukan setetes darah kering di lantai. Perlahan, sebaris jejak memudar mengarah ke sebuah kamar operasi lama. Pintu kayunya berderit parah ketika aku menyingkapnya. Di dalam, kain kasa berserakan dan sebuah meja operasi berlumuran noda hitam.
“Apakah ini… korban?”
Bayangan Menampakkan Diri
Tiba-tiba, bayangan kelam itu menampakkan diri: sosok putih pucat dengan mata hitam pekat. Suaranya bergema:
“Saksikan penderitaanku…”
Puncak Ketegangan
Setetes air mata darah menetes dari kelopak matanya. Aku terperangah—sementara tubuhku menolak untuk bergerak. Suara langkahnya mendekat, dan hawa dingin menjalar ke ruas tulang. Saat ia mengulurkan tangan, rabun mataku menangkap sekelibat wajah yang tak berwajah.
Tanpa disangka, bayangan itu melebur ke dinding, menciptakan jejak tangan berdarah. Pintu kamar operasi menutup dengan sendirinya, memerangkapku di dalam gelap. Aku menjerit, namun suaraku teredam di antara bisikan keras:
“Bantu aku… bebaskan aku…”
Pengungkapan Terakhir
Namun saat lampu kamar berkedip terakhir, semua sirna. Aku terjaga di lorong, di antara kabut dan kursi roda kosong. Hanya jejak bayangan kelam yang tertinggal—seakan menunggu korban selanjutnya.
Gaya Hidup : Rekomendasi Parfum Terbaik untuk Wanita Elegan
Gaya Hidup : Rekomendasi Parfum Terbaik untuk Pria Masa Kini