Awal Dari Buku Tua yang Terlupakan
Di tengah keramaian Pasar Beringharjo, aku tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku berdebu bisa mengubah hidupku. Saat itu sore hari, dan bau kain batik bercampur aroma jamu masih memenuhi lorong-lorong sempit pasar. Meskipun suasana cukup ramai, aku tetap merasa ingin mencari sesuatu yang berbeda. Karena itu, ketika aku melihat buku tua dengan sampul hitam kusam, aku langsung tergerak untuk mendekatinya. Selain itu, pedagang tua yang menjualnya menatapku seolah tahu aku akan membelinya. Tepat ketika tanganku menyentuhnya, hawa dingin menyusup dari sela-sela kulit buku.
Buku itu tampak rapuh, tetapi justru terasa berat seakan menyimpan beban yang tidak terlihat. Bahkan, judulnya telah memudar sehingga hampir tidak mungkin dibaca. Walau begitu, pedagang tua itu berbisik lirih bahwa buku tersebut tidak boleh dibuka pada malam hari. Mendengar itu, aku justru semakin penasaran. Karena itu, tanpa pikir panjang, aku membelinya.
Peringatan Pedagang Tua
Setelah transaksi selesai, pedagang itu menatapku dengan sangat serius. Kemudian ia berkata, “Nak, apa pun yang terjadi, jangan buka buku itu setelah matahari terbenam.” Suaranya bergetar seperti sedang menahan sesuatu. Sementara itu, aku hanya tersenyum kecil, menganggapnya sebagai mitos pasar yang biasa dipakai untuk menakut-nakuti pembeli.
Namun, ketika aku hendak pergi, ia kembali memanggilku. “Kalau sudah terlanjur membuka, jangan lihat halaman yang sobek. Di sana… sesuatu menunggu.” Ucapannya membuat bulu kudukku naik. Meskipun demikian, aku tetap melangkah pergi sambil menertawai diriku sendiri. Pada akhirnya, aku yakin itu hanya omong kosong.
Tentu saja, aku salah besar.
Rumah yang Mulai Berubah
Sesampainya di rumah, aku menaruh buku itu di meja. Karena waktu masih sore, aku merasa aman untuk membukanya. Awalnya, halaman-halamannya berisi aksara Jawa kuno yang tidak kumengerti. Namun, semakin aku membalik, semakin terasa udara menjadi dingin. Bahkan, lampu di kamarku sempat berkedip dua kali.
Kemudian, ketika aku mencapai halaman ke-47, aku menemukan lembaran yang setengahnya robek. Selain itu, noda hitam menyerupai sidik jari memenuhi pinggir halamannya. Karena penasaran, aku mengangkat halaman itu. Tepat saat itu, pintu kamarku menutup sendiri dengan suara keras.
Aku terdiam. Jantungku berdetak sangat cepat. Lalu, tiba-tiba dari dalam buku terdengar suara gesekan seperti kuku yang menyeret kertas. Suara itu semakin jelas, semakin dekat, dan semakin menusuk. Tanpa sadar, aku menyebut dalam hati bahwa mungkin itu adalah tangan hitam yang disebut pedagang tadi.
Malam Pertama Teror: Sesuatu Keluar Dari Buku
Walaupun aku berusaha menutup buku itu, jari-jariku tiba-tiba merasa kaku. Kemudian, halaman itu bergerak sendiri, merayap terbuka seperti ada yang mendorongnya dari dalam. Bayangan gelap muncul dari sela sobekan, dan sesuatu yang tampak seperti ruas jari mulai merangkak keluar.
Pada mulanya hanya bentuk gelap, tetapi seiring detik berlalu, jari itu menjadi semakin jelas. Kulitnya hitam pekat seolah terbakar, sementara kuku panjangnya menggores meja kayu. Aku mundur perlahan, namun makhluk itu merayap semakin keluar, menampakkan telapak tangan hitam legam yang bergerak seperti laba-laba raksasa.
Karena panik, aku terjatuh. Meski begitu, tangan itu tetap merangkak mendekat, sementara buku bergetar hebat seakan sesuatu sedang memaksakan diri keluar darinya. Lampu kamar kemudian padam, ruangan berubah gelap total.
Dalam kegelapan itu, hanya ada satu suara: napas kasar dari makhluk yang belum terlihat seluruhnya.
Kejadian Aneh di Pasar Beringharjo
Keesokan paginya, aku segera kembali ke Pasar Beringharjo. Karena ingin mencari pedagang tua itu, aku masuk ke lorong tempat ia sebelumnya duduk. Namun, anehnya tak ada satu pun pedagang yang mengakui keberadaannya. Beberapa bahkan berkata lapaknya sudah kosong selama bertahun-tahun.
Sementara itu, aku menunjukkan foto buku itu kepada salah satu pedagang batik di dekat sana. Ia langsung pucat dan berkata, “Barang itu… berasal dari kios yang terbakar dua puluh tahun lalu. Pemiliknya meninggal, gosong, dan tangannya… hilang.” Setelah itu, ia menolak bicara lebih lanjut.
Mendengar cerita itu, aku merasa seluruh tubuhku membeku. Kemudian aku sadar bahwa buku itu tidak mungkin sekadar benda lama. Ia menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
Tanda-Tanda Kemunculan Sosok Gelap
Malam kedua, suara gesekan kembali terdengar. Meskipun aku telah mengikat buku itu dengan kain dan menyimpannya dalam laci, suara kuku menyeret dari dalam tetap muncul. Selain itu, bau hangus seperti daging terbakar mengisi ruangan.
Ketika aku memberanikan diri mengintip dari celah laci, aku melihat sesuatu bergerak. Tangan hitam itu muncul kembali, merayap perlahan dari balik halaman, kali ini lebih besar daripada kemarin. Kemudian, jari-jarinya memegang pinggiran laci, mencoba memaksanya terbuka.
Aku menahan laci sekuat tenaga. Namun, benda itu tetap mendorong, membuat kayu bergetar keras. Setelah perjuangan panjang, akhirnya terdengar suara “krak” pelan dan dorongan itu berhenti. Akan tetapi, suara napas kasar masih terdengar, seolah makhluk itu menempelkan kepalanya ke dalam laci.
Aku tidak tidur sepanjang malam.
Mencari Bantuan dari Penjaga Pasar
Karena semakin takut, aku kembali ke pasar pada hari berikutnya. Kali ini, aku menemui Pak Wiryo, penjaga malam yang konon mengetahui banyak cerita gaib pasar tersebut. Setelah mendengar ceritaku, wajahnya langsung berubah serius.
“Kau harus kembalikan buku itu ke tempat asalnya,” katanya. “Kalau tidak, sosok itu akan terus mengejarmu sampai dia bisa keluar sepenuhnya.”
Ia pun mengajakku ke bagian pasar lama yang telah terbakar dua puluh tahun lalu. Karena bangunannya rusak dan gelap, kami harus memakai senter. Kemudian ia menunjukkan sebuah tiang kayu hangus. “Pemilik buku itu terjebak di sini. Api melahap tubuhnya, tapi saksi mengatakan satu hal… sebelum dia mati, tangannya merayap mencoba keluar dari reruntuhan.”
Jantungku serasa berhenti.
Buku Itu Kembali Aktif
Malam berikutnya merupakan malam terburuk. Karena walaupun aku sudah berencana mengembalikan buku itu ke tempat asalnya, tiba-tiba hujan turun deras sehingga aku terpaksa menunda. Di dalam rumah, buku itu kembali bergetar keras, bahkan laci hampir terbuka sendiri.
Ketika aku mendekatinya, tiba-tiba lampu padam. Suara napas yang kemarin terdengar kini menjadi sangat dekat—terlalu dekat. Perlahan-lahan, dari celah kecil laci, muncul dua jari. Lalu, disusul seluruh tangan hitam merayap keluar, menjerat pinggiran laci, membelah kayunya.
Laci pecah. Buku terlempar ke lantai. Dari dalam sobekan halaman, muncul sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar tangan. Ujung lengan hitam mulai merangkak keluar bersama suara geraman rendah.
Mengembalikan Makhluk Itu
Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku mengambil buku itu dan kabur keluar rumah meski hujan deras. Lengan hitam itu merayap mencengkram kakiku, tetapi aku terus berlari menuju Pasar Beringharjo yang kini nyaris gelap.
Ketika sampai di area kios terbakar, buku itu semakin berat seakan makhluk di dalamnya meronta. Namun, aku ingat kata Pak Wiryo: “Letakkan di tengah puing dan jangan menoleh.”
Aku meletakkan buku itu di dasar lantai yang hangus. Angin malam bertiup keras, membawa bau daging terbakar. Kemudian halaman buku itu terbuka sendiri, dan makhluk itu menjerit dari dalam. Tangan hitam merayap keluar, tetapi kali ini seperti tersedot kembali oleh sesuatu di balik halaman.
Reruntuhan bergetar. Puing kayu yang sudah gosong perlahan bergerak. Dari kejauhan, terdengar suara yang mirip tangisan. Namun, perlahan semuanya mereda. Buku itu menutup sendiri dan berhenti bergerak.
Setelah Semua Berakhir
Ketika aku kembali ke rumah menjelang pagi, suasana terasa lebih ringan. Kamar tidak lagi dingin, dan bau hangus telah hilang sepenuhnya. Meskipun demikian, aku tahu pengalaman itu tidak akan pernah hilang dari ingatanku.
Pasar Beringharjo kembali normal. Para pedagang tidak lagi menatapku aneh. Akan tetapi, setiap kali aku melewati lorong tempat kios terbakar itu dahulu berdiri, aku merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi dari kegelapan.
Mungkin buku itu sudah tenang.
Atau mungkin hanya menunggu pemilik baru.
Kesehatan : Tips Menjaga Keseimbangan Hormon agar Tubuh Tetap Fit