Ritual Larung Sesaji di Laut Selatan Pacitan Berdarah

Bisikan di Antara Deburan Ombak

Ritual larung sesaji diadakan tiap tahun di salah satu pantai di Pacitan, Jawa Timur. Sebagian besar warga percaya bahwa persembahan ini dilakukan untuk memohon berkah dan keselamatan dari Nyai Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Namun, tahun ini, ritual tersebut berubah menjadi sesuatu yang tak pernah dibayangkan.

Pagi hari sebelum upacara, langit mendung menggantung tak biasa. Angin berhembus dingin seolah membawa pesan. Para sesepuh tetap mempersiapkan sesaji—kepala kerbau, bunga tujuh rupa, dan dupa yang diletakkan di atas rakit bambu. Namun bisikan-bisikan gaib mulai terdengar oleh para penjaga pantai. Suara lirih menyebut satu nama… Ratri.


Perempuan yang Tidak Diundang

Ratri, wanita muda pendatang baru di desa pesisir itu, muncul tiba-tiba seminggu sebelum upacara. Ia pendiam, selalu mengenakan kerudung hitam, dan sering terlihat berjalan menyusuri pantai saat malam. Banyak warga tak nyaman, terlebih ketika mereka melihat Ratri berbicara sendiri sambil menggoreskan simbol aneh di pasir.

Malam sebelum ritual, warga melihat Ratri menuju laut, membawa kendi berisi darah ayam hitam. Ia membisikkan sesuatu pada ombak, lalu menghilang begitu saja. Ketika dicari esok paginya, hanya ditemukan sandal dan jepit rambutnya terdampar di bebatuan.


Larung yang Memanggil Darah

Ritual larung sesaji pun tetap dilaksanakan. Sesepuh desa mulai membacakan mantra dan melepaskan rakit ke tengah laut. Ombak yang awalnya tenang, mendadak menggila. Air berubah warna kehijauan, dan angin mengangkat debu pasir membentuk pusaran kecil. Saat rakit mencapai batas pandang, terdengar suara lengkingan wanita—panjang, parau, dan menyayat hati.

Tiba-tiba, laut memuntahkan kembali rakit sesaji yang tadi dilepaskan. Tapi kini, rakit itu berlumuran darah segar. Kepala kerbau menghilang. Di rakit hanya tersisa sehelai kerudung hitam… milik Ratri.

Warga panik, beberapa anak pingsan, dan seekor kambing kurban ditemukan mati dengan mata membelalak ke arah laut.


Kutukan yang Dimulai

Sejak hari itu, satu per satu warga yang terlibat dalam ritual mulai mengalami kejadian ganjil. Sesepuh paling tua ditemukan tewas tenggelam di sumurnya sendiri, tubuhnya membiru seperti diseret arus laut. Penjaga pantai lainnya ditemukan hilang, hanya meninggalkan lumpur basah dan jejak kaki menuju laut.

Tak hanya itu, malam-malam berikutnya, suara tangisan wanita menggema dari tengah ombak. Anak-anak mengigau, menyebut nama Ratri dan menyampaikan pesan: “Aku belum diterima. Darah kalian belum cukup.”

Desa pun berubah sunyi. Ritual larung sesaji berikutnya ditiadakan untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir.


Kisah yang Tak Pernah Selesai

Beberapa orang percaya Ratri adalah tumbal yang gagal. Ia mencoba menempati posisi roh penjaga laut tanpa izin leluhur. Ada pula yang yakin, ia adalah perantara yang salah dipilih, menyebabkan ritus suci jadi celaka.

Meski waktu berlalu, setiap bulan Suro, kerudung hitam selalu ditemukan mengambang di garis pantai. Darah segar muncul kembali di pasir, hanya dalam waktu singkat sebelum tersapu ombak.

Orang tua melarang anak-anak bermain di pesisir saat senja. Para nelayan berhenti melaut selama tiga hari sebelum dan sesudah tanggal keramat ritual. Semua takut, karena konon, roh Ratri belum pergi. Ia menanti… hingga ritual larung sesaji bisa menebus darahnya yang tertahan.

Food & Traveling : Wisata Lereng Gunung: Alam, Tradisi, dan Cita Rasa Lokal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post