Prolog di Ujung Malam
Pada malam yang sunyi, tepat setelah pukul dua belas, bayangan di cermin kamar mandi kembali menampakkan diri. Selain keheningan yang mencekam, hawa dingin merayap di sekujur tubuh Cahya, membuat bulu kuduknya berdiri. Di paragraf pertama ini, kita memahami betapa kuatnya teror yang dibangkitkan oleh satu pantulan gelap—sebuah bayangan yang tak pernah hilang dari cermin itu.
Asal Usul Cermin Tua
Pertama-tama, cermin tersebut berasal dari rumah warisan kakek Cahya, yang pernah dihuni oleh pamannya yang misterius. Selain itu, tersiar kabar bahwa pamannya menghilang tanpa jejak setelah berminggu-minggu terobsesi menghadapi pantulan sendiri. Oleh karena itu, keluarga memutuskan untuk tidak memajang cermin itu—hingga Cahya memindahkannya ke kamar mandi.
Getaran Tak Terjelaskan
Selanjutnya, getaran halus sering terdengar setiap pukul dua pagi. Bahkan, demi memastikannya bukan gempa kecil, Cahya menaruh gelas di meja sudut. Namun, bukannya tumpah, air di dalamnya justru beriak pelan—seolah ada sesuatu yang mengusiknya dari bawah permukaan. Dengan demikian, gelas itu menjadi saksi bisu munculnya bayangan di cermin yang menyembul lebih lama daripada biasanya.
Pertemuan Pertama
Kemudian, pada malam kedua, Cahya memberanikan diri menyalakan lampu lustrasi di atas wastafel. Namun, ketika menoleh ke cermin, yang ia lihat bukanlah pantulan wajahnya. Melainkan, sosok bayangan gelap dengan mata menyala redup, yang berdiri tanpa badan. Bahkan, bayangan itu terlihat menatapnya—seakan menuntut sesuatu. Oleh sebab itu, Cahya tergagap mundur, hampir terjatuh ke lantai keramik yang licin.
Penyelidikan Sendiri
Lebih jauh, Cahya mulai menggali sejarah cermin tersebut. Pertama, ia menelusuri dokumen warisan kakek, yang menyebutkan mantra pelindung agar pemilik cermin tidak terganggu makhluk halus. Namun, entah mengapa, mantra itu sudah pudar—mungkin terkena lembap di kamar mandi. Oleh karena itu, bayangan di cermin makin sering muncul, bahkan di siang hari, meski hanya sekilas.
Teror yang Meningkat
Lebih lanjut, getaran di sekitar cermin berubah menjadi dentuman keras, seolah ada benda berat yang dibanting. Selain itu, air keran tiba-tiba menyala sendiri, menetes rata di depan cermin hingga membentuk genangan kecil. Kemudian, dari genangan itu, timbul pecahan suara bisikan: “Kembalilah… jangan biarkan aku sendiri…” Suara itu merasuk ke otak Cahya, membuatnya gemetar tidak terkendali.
Pencarian Bantuan
Karena itu, Cahya memutuskan mengundang sahabatnya, Bima, yang pernah belajar paranormal. Saat Bima tiba, ia membawa kitab kecil dan lilin hitam. Bahkan, sebelum ritual dimulai, Bima memperingatkan, “Bayangan itu adalah sisa jiwa penasaran yang terperangkap.” Namun, Cahya hanya bisa mengangguk gemetar, berusaha menenangkan diri.
Ritual Pelindung
Selanjutnya, ritual pun dimulai. Pertama, lilin diletakkan mengelilingi cermin, lalu Bima membacakan doa pelindung. Namun, tak lama kemudian, lilin-lilin itu padam mendadak. Kemudian, bayangan di cermin muncul lebih jelas: sosok tinggi, berjubah gelap, tanpa wajah. Bahkan, ia merentangkan tangan samar, menyeret cahaya lilin yang nyaris padam. Cahya merasakan dingin menusuk hingga tulang.
Pertarungan di Antara Dua Dunia
Setelah itu, Bima mencoba memukul cermin dengan kitab sakral. Namun, alih-alih pecah, cermin bergetar hebat—memancarkan kilatan cahaya merah. Bahkan, bayangan tertawa seram, lalu mencengkeram lengan Cahya, menariknya mendekati permukaan kaca. Pada detik-detik genting itu, Cahya menjerit, memukulkan buku harian di tangannya ke cermin. Tiba-tiba, cermin retak, lalu suara lolongan nyaring menggema.
Keheningan yang Menghancurkan
Kemudian, keheningan kembali menyelimuti kamar mandi. Cahya tergeletak lemas, sementara Bima terengah. Namun, saat mereka menoleh ke cermin, retakan itu telah menghilang—menggantikan kilatan kaca baru, tanpa noda. Lebih jauh, yang tersisa hanyalah kesunyian menyesakkan dan sisa lilin yang telah meleleh berserakan.
Epilog yang Menghantui
Akhirnya, cahaya pagi mulai merayap masuk. Namun, Cahya tahu bahwa malam berikutnya, bayangan di cermin itu mungkin akan kembali. Meskipun cermin tampak utuh, jiwa yang terperangkap tak akan mudah melepaskan dendam. Oleh karena itu, setiap kali ia melewati kamar mandi, napasnya tercekat—takut terperangkap dalam pantulan kelam selamanya.