Kebisuan yang Tercabik
Setiap malam, tepat pada pukul dua belas, aku terbangun oleh suara langkah di koridor kos—koridor yang seharusnya sunyi karena semua kamar sudah terkunci. Pertama kali aku mendengarnya, kupikir itu hanya imajinasiku. Namun malam berikutnya, suaranya lebih keras, lebih jelas, seakan ingin mengejek ketakutanku.
Bayangan Pertama di Ujung Lorong
Selanjutnya, pada malam ketiga, aku berani mengintip dari balik pintu kamar. Lampu lorong yang remang-remang memantulkan sosok hitam di ujung koridor. Tubuhnya tak berbentuk jelas, namun langkahnya pasti dan teratur. Meskipun pintu dan pegangan besi berderit saat aku menutup mata, gema tapak kakinya tak lekang.
Ketegangan di Setiap Detik
Kemudian, sejak malam itu, suara langkah di koridor kos menjadi lebih intens. Kadang aku mendengarnya berjalan dari kamar nomor empat hingga nomor satu, lalu berbalik lagi. Akibatnya, tidurku goyah. Bahkan saat kupaksakan lampu koridor tetap menyala, tiba-tiba mati mendadak—seolah ada tangan gaib yang memadamkan.
Senter yang Tak Cukup Terang
Oleh karena itu, aku membawa senter kemana pun aku pergi dalam kos. Selain itu, aku menempelkan selotip pada saklar agar lampu tak padam karena saklar longgar. Namun penangkalku sia-sia. Setiap kali senter menyinari dinding, bayangan hitam di koridor tiba-tiba berpindah tempat. Aku sering melihat siluet kaki tanpa kepala, berlebihan dan menyedihkan, melekat di lantai.
Desahan dari Kamar Kosong
Lebih jauh lagi, di tengah malam, terdengar desahan panjang dari balik pintu kamar kosong nomor tiga. Suara itu bergantian dengan suara langkah di koridor kos, membentuk simfoni ngeri. Sekali, aku berani membuka pintu—namun hanya koridor kosong tanpa barang. Satu-satunya jejak hanyalah jejak telapak kaki lembap, tercetak pada ubin dingin.
Jejak Sejarah Kos Tua
Kemudian, kubawa kepala ke pemilik kos, Pak Sutrisno, yang bercerita bahwa bangunan ini dulunya rumah jompo. Konon, seorang penghuni tua meninggal di pinggir koridor dan jasadnya baru ditemukan keesokan harinya. Sejak itu, banyak penghuni pindah cepat. Bahkan lampu lorong tak pernah tahan lebih dari sebulan. Dengan begitu, kutahu ada sebab mengapa suara langkah di koridor kos tak pernah berhenti.
Pengejaran di Tengah Gelap
Setelah mengetahui sejarahnya, rasa penasaranku memuncak—namun juga ketakutanku. Suatu malam, aku menanti hingga suara langkah muncul. Begitu terdengar, aku berlari membuka pintu kamar dan menyalakan senter penuh. Namun koridor berubah memanjang secara perlahan: dinding yang semula dekat, kini menjauh. Sosok itu mengejar, langkahnya menyesuaikan setiap langkahku, memaksa aku lari makin cepat.
Bayangan yang Menyentuh
Oleh karenanya, aku berbalik di ujung lorong—hendak menantang sosok itu. Namun pandanganku tertahan pada tangan hitam berlendir yang menempel di dinding. Dalam perlahan, bayangan itu meraih pintu kamarku, mendorongnya perlahan. Suara ketukan lembut namun berat terdengar—seakan benda besi bertubrukan dengan kayu. Napasku membeku, sabar menunggu teror menyelubungi.
Ritual untuk Meredam Ketakutan
Karena tak tahan, aku mencari cara menghentikan gangguan. Aku mempersiapkan mangkuk air suci, garam, dan bunga putih lalu menaburkannya di ambang kamar. Selain itu, aku menuliskan mantra pelindung di pintu dan jendela. Meski begitu, tiap malam suara langkah di koridor kos selalu berhasil menembus pertahananku. Bahkan garam berhamburan sendiri, berserakan di lantai.
Puncak Malapetaka Malam Ini
Akhirnya, pada malam ketujuh, teror mencapai puncak. Lampu lorong mati total, genggaman saklar copot, dan senterku tiba-tiba padam. Di dalam gelap, aku hanya mendengar satu langkah—lambat dan berat—berjalan mendekat ke kamar. Lalu, desahan panjang menempel di ambang pintu, menuntut ijin masuk. Saat pegangan pintu bergetar, aku tahu ini malam terakhir aku bisa lari.
Keheningan yang Tersisa
Di saat aku berdoa dalam hati, pintu terbuka perlahan dengan suara decit nyaring. Namun yang kudapati di seberang adalah koridor kosong—nirmuka, sunyi, seakan menyesal telah mengejar. Ketika aku menyalakan lampu kamar, tak ada jejak kaki, tak ada garam, hanya dinding polos dan udara dingin menyesakkan.
Jejak yang Tak Hilang
Meskipun kini kos kembali hening, kadang aku masih terjaga. Sekali-kali, terdengar suara langkah di koridor kos—pelan, jauh, namun mengiang di telinga. Aku tak berani keluar kamar sesudah pukul dua belas, dan selebihnya, aku menadah doa sambil berharap teror itu tak kembali.
Karena satu hal pasti: di balik dinding gedung tua ini, bayangan gelap itu masih menanti penghuni berikutnya untuk terus melangkah bersamanya…
Alam & Lingkungan : Gunung Fuji & Kuliner Jepang: Paduan Pesona Sempurna