Keheningan yang Penuh Rasa Takut
Pada suatu malam selepas piket malam, sekolah yang biasanya sunyi mendadak terasa lebih mencekam. Hantu penunggu toilet sekolah konon telah menghantui bangunan tua itu selama puluhan tahun, sehingga setiap langkah kaki di lorong menimbulkan dentuman seram. Bahkan ketika lampu-lampu di aula dipadamkan, bayang-bayang panjang menari di dinding, menebar rasa was-was.
II. Bisikan Pertama di Koridor
Selanjutnya, aku melangkah pelan menuju toilet blok B—tempat legenda itu paling sering muncul. Namun di tengah perjalanan, terdengar bisikan lirih: “Rizky…” Seketika, jantungku berdegup cepat. Meskipun kupaksakan diri untuk tidak menoleh, bulu kudukku meremang, dan napasku tercekat di tenggorokan.
III. Penemuan Catatan Tua
Kemudian, demi mencari petunjuk, aku menyusuri ruang perpustakaan. Di sudut rak paling bawah, kutemukan selembar kertas lusuh berisi nama-nama murid yang hilang secara misterius. Bahkan di ujung daftar, terukir satu nama yang terus diulang: “Indahati Sari.” Sejak saat itu, rasa penasaran menguasai setiap langkahku.
IV. Malam Piket yang Menegangkan
Setelah itu, pada malam piket berikutnya, aku ditugasi membersihkan toilet blok B. Ketika aku memasuki ruang berjendela kecil itu, suhu turun drastis. Meskipun kusibakkan pintu, hawa dinginnya meresap hingga ke tulang. Bahkan keran air berderit sendiri tanpa aku sentuh, menimbulkan tetesan berkala seperti detak jam.
V. Suara Panggilan yang Membekukan Darah
Lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara parau: “A…la…na…” Aku menoleh ke arah pintu bocor tempat suara itu keluar. Lagi-lagi, hantu penunggu toilet sekolah itu memanggilku dengan nada menyeramkan. Maka, dengan tangan gemetar, aku meraih senter dan menyorot sudut gelap—namun tak ada apa-apa kecuali pintu kotak tisu yang terbuka sedikit.
VI. Jejak Tangan Berdarah
Kemudian, di lantai keramik yang dingin, kulihat jejak tangan merah mengkilap membekas. Jejak tersebut menuju ke jamban terakhir di pojok kanan. Meski ragu, aku meraih sapu dan membersihkan noda darah itu—tetapi noda itu tetap ada, seolah darah tak mau hilang. Bahkan aroma anyir menyeruak, membuat gagalku menahan mual.
VII. Bayangan di Cermin Pecah
Selanjutnya, saat aku menatap ke cermin retak di atas wastafel, pantulanku memudar, digantikan wujud perempuan putih pucat berkebaya lusuh. Rambutnya terurai menutupi wajah, dan matanya berwarna hitam pekat. Tanpa henti, ia menatapku lalu berseru lirih, “Rizky… Indahati…” Hingga akhirnya aku memalingkan muka, napasku tersengal.
VIII. Konfrontasi di Dalam Kloset
Lebih dari itu, aku terpaksa membuka pintu kloset demi mencari sumber suara. Ketika pintu retak terbuka, kulihat sosok anak perempuan dua belas tahun terkurung di dalam—Ia mengenakan seragam putih merah, namun wajahnya bersimbah luka. Tanpa suara, ia menunjuk ke sudut bawah tangki, lalu menghilang. Kengerian itu terpahat di benakku.
IX. Jejak Kaki Menuju Tangga Darurat
Kemudian, aku berlari keluar toilet, namun jejak kaki kecil berlumuran darah menuntunku meneruskan pelarian ke tangga darurat. Setiap langkah bergetar, sedangkan suara tangisan menyusul dari balik pintu—“Bebaskan aku…” Meskipun ketakutan melumpuhkan, aku tak bisa berhenti.
X. Pintu Terkunci oleh Suatu Kekuatan
Selanjutnya, di lantai dua, pintu tangga darurat terkunci rapat. Aku mengetuk keras, berharap seseorang membukakan—tetapi justru terdengar suara ketukan dari sisi dalam pintu: “Jangan pergi…” Suasana semakin mencekam ketika atap di atasku berderit, seakan ada beban berat menimpanya.
XI. Penelusuran Arsip Sekolah
Setelah berhasil lolos dari tangga, aku mendatangi ruang tata usaha. Walaupun setengah terjaga, stempel surat lama memimpin cariku menemukan arsip tahun 1998—di sana tercatat seorang murid bernama Indahati Sari meninggal tenggelam di jamban perempatan toilet blok B. Tragisnya, tubuhnya tak pernah ditemukan.
XII. Ritual Pengusiran Arwah
Kemudian, pada malam berikutnya, aku memutuskan mengadakan ritual kecil. Dengan menyalakan tujuh lilin ungu di depan wastafel, aku membacakan doa pengusiran. Bahkan aku menaburkan bunga melati putih di lantai, berharap arwah itu tenang. Namun tiba-tiba, lilin-lilin itu padam secara bersamaan, meninggalkan kegelapan total.
XIII. Kemunculan Puncak Mencekam
Lebih jauh, di balik bayang-bayang, sesosok Indahati muncul—tangan kanannya menumpu lantai, sementara mulutnya terkunci rapat. Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah tangent toilet, menuntut pertanggungjawaban. Ketika aku menarik napas untuk menenangkan diri, ia menjerit menembus kegelapan: “Aku belum selesai!”
XIV. Pertarungan Jiwa dan Nyali
Setelah itu, aku meraih salib kayu kecil—satu-satunya perlindungan tersisa. Kemudian, aku mengayunkannya di udara sambil mengucap mantera perlindungan. Sesaat kemudian, wujud Indahati tersapu angin gaib dan melayang ke atas langit-langit. Namun sebelum benar-benar hilang, ia sempat memanggil namaku satu kali lagi, dengan suara yang penuh nestapa.
XV. Kedamaian yang Rapuh
Akhirnya, lampu-lampu di koridor menyala kembali. Ritual selesai, namun jejak tangan berdarah masih membekas sedikit di lantai. Meski hantu penunggu toilet sekolah telah lenyap, ketakutan itu tetap membekas di jiwa setiap murid yang mendengar kisah ini—menjadi peringatan bahwa arwah terlupakan takkan tenang sebelum diperlakukan adil.
Sosial Budaya : Kidung dan Kemenyan: Budaya dan Spiritualitas Mistis