Kedatangan di Malam Sunyi
Pada malam pertama, aku melangkah ke halaman belakang rumah warisan keluarga, di mana berdiri sumur tua berlumut. Tawa nenek tanpa kepala telah menjadi bisik-bisik penduduk—sehingga aku datang dengan campuran rasa penasaran dan takut. Meskipun bulan purnama menyinari pekarangan, bayanganku terlihat goyah di atas batu-batu kerikil. Bahkan udara malam terasa berat, seolah menahan napas menantikan sesuatu yang mengerikan.
Bisikan di Ujung Sumur
Selanjutnya, ketika aku mendekat, terdengar bisikan pelan. Pertama seperti desir angin, kemudian berubah menjadi suara serak: “Ayo… main…”. Aku terperangah, karena tidak ada siapa pun di sekitar. Namun tawa itu, tawa nenek tanpa kepala, tiba-tiba bergema—seakan berputar di dalam sumur, memantul ke dinding batu hingga telingaku berdengung kencang.
Cahaya Pelita yang Menari
Kemudian, aku menyalakan pelita minyak di sebelah sumur untuk mencari sumber suara. Lampu kuning remang menari di permukaan air, menciptakan kilatan aneh. Meskipun ragu, aku menunduk untuk melihat ke dasar—namun yang terlihat hanya bayangan benda gelap. Bahkan saat kusibakkan kerikil di pinggir, pelita bergetar hebat, membuat nyalanya hampir padam.
Jejak Tangan di Dinding Sumur
Setelah itu, aku mendongak dan melihat dinding sumur dipenuhi lekukan menyerupai tapak tangan tua. Jejak-jejak berlendir menetes, dan aroma tanah basah berbaur dengan bau anyir tak sedap. Meski napasku memburu, aku terpaksa meraba permukaan batu—tiba-tiba dingin membekukan kulit, seolah jemari seseorang menempel memanggilku turun.
Penampakan di Permukaan Air
Selanjutnya, di permukaan air, muncullah bayangan nenek kurus berkebaya putih—namun tanpa kepala. Kepalanya tergeletak di dasar, tepat di samping lingkaran batu. Sesosok tangan keriput terulur, mencoba meraih pelitaku. Bahkan tawa seraknya terdengar makin keras, menyayat keheningan. Aku terhuyung, namun segera mundur karena takut terhisap ke dalam sumur.
Teror di Kegelapan
Kemudian, ketika aku mencoba menenangkan diri, suara langkah kaki di sampingku terdengar ringan. Namun yang muncul adalah sosok pucat berkebaya putih, melayang tanpa kaki, hanya bahu hingga pinggang terlihat. Ia tertawa—tawa nenek tanpa kepala—lalu lenyap di udara dingin. Aku terlonjak, memukulkan pelita ke tanah hingga minyak tumpah membara.
Potongan Kepala yang Mengerikan
Setelah itu, dengan tangan gemetar, aku memungut sebuah kain lap tua yang tergeletak dekat sumur. Ketika kugoyang perlahan, terkuak potongan kepala—kulit kering, rambut uban, gigi menggertak membentuk senyum permanen. Darah mengering di leher yang seharusnya jadi penghubung, menetes pelan ke kerikil. Meskipun mual, aku tertarik menyentuh pipi nenek itu—namun tiba-tiba tawa menggelegar membuat kepalaku pusing.
Konfrontasi di Pinggir Sumur
Selanjutnya, aku mengumpulkan keberanian untuk menghadapi sosok itu. Namun ketika kuberi salam, tawa itu membalas dengan deretan bisikan kasar: “Ambil… kepalamu… bawalah…” Seketika, angin malam berputar liar, mengangkat bayangan kebaya putih ke udara. Bahkan pelitaku tersedot ke dalam sumur, dan aku terdorong hingga hampir terjerembab.
Pelarian yang Mencekam
Kemudian, kulemparkan mata tombak kuno peninggalan nenek moyang yang kubawa untuk perlindungan. Mata tombak itu menancap di bibir sumur dengan suara ngletak. Seketika tawa berubah menjadi ratapan panjang, bergema keluar dari mulut sumur seperti rintihan tak berujung. Aku berlari, namun suara geraman menyusul—seakan akar-akar pohon di sekitar meraih kakiku.
Bayangan Memburuku
Setelah beberapa langkah, aku menoleh dan melihat bayangan nenek berkebaya putih tanpa kepala melayang di atas tanah. Kepalanya terbang bebas, melayang memutari tubuhnya. Tawa-nya pecah menjadi pecahan suara, memenuhi lahan kosong. Aku menjerit, namun suara itu tenggelam di antara riak bisikan “kembalilah… bawalah kepalamu…”
Kembali ke Dalam Rumah
Selanjutnya, aku berhasil mencapai pintu belakang rumah dan menutupnya rapat. Nafasku tersengal, dan tubuhku basah oleh keringat dingin. Meskipun sulit dipercaya, aku menyadari bahwa kepalaku berdarah—seakan gigitan makhluk tak terlihat meninggalkan bekas luka. Bahkan lukanya menganga, menganga seolah siap menelan nyawaku perlahan.
Akhir yang Tak Pernah Padam
Akhirnya, di kamar gelap, aku menatap ke cermin. Tawa itu mulai bergema pelan di balik kaca, memantul di antara bayanganku sendiri. Bahkan ucapanku terdengar bergema: “Aku… bawakan… kepalaku…” Sejak malam itu, tawa nenek tanpa kepala tak pernah berhenti memanggil, menghantuiku setiap kali lampu padam, mengingatkanku bahwa arwah yang terzalimi takkan tenang sebelum kepalanya kembali ke pangkuan sumur tua.
Bisnis & Ekonomi : Dampak Printing Money terhadap Ekonomi Indonesia