Warisan Televisi Tua
Pada suatu sore kelabu, aku mewarisi sebuah televisi tua antik dari kakek yang baru meninggal. Selain rangka kayunya yang retak-retak, perangkat itu memancarkan aura nostalgia—dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Meskipun awalnya kusambungkan dengan rasa ragu, lampu pijar di panel depan merekah dan bunyi dengung halus memecah keheningan kamar.
Detik Pertama Penyalaan
Ketika malam tiba, aku menyalakan televisi itu untuk pertama kali. Terlebih dahulu, layar memancarkan titik-titik salju putih yang perlahan membentuk pola berderet-deret. Selanjutnya, suara dengung makin keras, lalu muncul garis horizontal. Kemudian, tiba-tiba layar membeku pada satu frame—seolah menolak menampilkan program apa pun.
Wajah di Balik Salju
Tak lama kemudian, di balik butiran salju, kulihat sesosok wajah pucat. Lebih dari itu, matanya menatap lurus, seakan menyergap jiwaku. Bahkan, bibirnya terkatup rapat, tapi bisa kurasakan desahan napasnya yang berat. Oleh karena itu, aku mencoba menyesuaikan knob kecerahan, hanya demi memastikan bukan bayangan—namun wajah itu tetap menempel, melekat di tengah layar.
Bisikan dari Layar
Setelah beberapa menit tercengang, suara serak tiba-tiba terdengar—“keluarkan aku…” Ia bergema pelan, lalu menghilang begitu saja. Lebih parahnya, setiap kali aku menurunkan volume, bisikan itu tetap terngiang di kepalaku, seakan memasuki ruang pikiranku sendiri. Meskipun kulihat ke sekeliling, tak ada sumber suara lain selain televisi tua itu.
Malam Pertama yang Tak Pernah Usai
Semakin larut, aku ketiduran di sofa sambil menatap televisi. Namun, anehnya, meski aku terjaga sebentar untuk mematikan set – perangkat tetap menyala. Selanjutnya, layar menampilkan wajah baru—lebih pucat, dengan mata hitam panjang tanpa pupil. Kemudian, ia bergerak perlahan, merayap mendekat ke kamera sambil menjerit senyap.
Kegilaan yang Mulai Merayap
Keesokan paginya, aku terbangun dengan keringat dingin. Bahkan, saat hendak memeriksa televisi, kulihat layar menampilkan jam analog—padahal tak ada fungsi jam sama sekali. Selain itu, knob terbolak-balik seolah baru dimainkan. Lebih jauh lagi, entah bagaimana, layar menampilkan foto-foto keluargaku di masa kecil, meski aku tak pernah menyetel slide manapun.
Pencarian Jawaban
Karena ketakutan, aku mencari tahu asal muasal televisi itu. Aku menemukan catatan kakek: televisi tersebut dulu milik seorang dukun lokal yang meninggal di dalam ruang tamu saat menonton trance ritual. Selanjutnya, kabar burung mengatakan jiwanya terjebak di dalam tabung CRT—menunggu giliran keluar ke dunia nyata.
Pertemuan Kembali di Tengah Malam
Pada malam berikutnya, aku tak punya pilihan selain menontonnya lagi. Namun, kali ini aku merekam dengan ponsel. Tidak lama setelah lampu redup, layar menampilkan sosok kakek—atau sosok yang mirip dengan kakek—dengan kulit pucat dan mata cekung. Setelah itu, ia membuka mulut dan suara serak kembali terdengar: “Bebaskan aku…” Kemudian, ponselku bergetar hebat, merekam sendiri gambar di luar jendela—sebuah bayangan melintas di belakang tirai.
Usaha Pembebasan dan Petaka
Besoknya, aku menemui sepupu yang paham dunia mistis. Ia menyarankan membaca mantra pemisah jiwa dan memecahkan tabung televisi. Namun, di malam ritual, ketika mantra terucap setengah jalan, layar retak sendiri, memercikkan percikan api ungu. Selain itu, wajah di dalam layar melompat keluar, tepat ke arahku—tapi kemudian lenyap di udara dingin.
Televisi yang Memilih Korban
Akhirnya, televisi tua itu kuhancurkan dengan palu—namun tak sepenuhnya. Tabung kaca retak, tetapi rangkanya tetap utuh, seolah ada kekuatan yang menahan. Meski begitu, aku merasa dia masih ada di sekitarku: di bayangan sudut ruangan, di sela-sela suara desahan angin. Oleh karena itu, aku menulis peringatan ini: jika pernah menemukan televisi tua yang mengundang nostalgia terlalu dalam, pikirkan ulang sebelum menyalakannya, karena mungkin di balik layarnya, wajah yang menunggu bukan kenangan manis, melainkan teror abadi.
Inspirasi & Motivasi : 10 Cara Menumbuhkan Kepercayaan Diri yang Kuat