Awal dari Malam yang Basah
Malam di tepian Sungai Kahayan selalu terasa lebih berat dari biasanya. Kabut turun cepat, menelan cahaya bulan hingga hanya menyisakan kilau pucat di atas air. Di sanalah kisah tentang kepala terpenggal bermula — dari seorang pria bernama Darma yang nekat mencari ikan di tengah malam, meskipun warga kampung telah berulang kali memperingatkannya.
“Jangan lewat jam sembilan,” kata Pak Leman, tetua kampung yang rambutnya seputih kabut. “Sungai itu hidup. Ia menelan yang sombong.”
Namun, Darma menertawakan peringatan itu. Ia tetap mengayuh perahunya ke tengah sungai, membawa jala dan lampu petromaks yang bergetar tertiup angin. Sementara perahunya meluncur perlahan, air di sekitarnya terasa semakin sunyi. Bahkan suara jangkrik pun menghilang, seolah seluruh alam menahan napas.
Tak lama kemudian, angin berhenti. Di kejauhan, hanya terdengar burung hantu melengking. Udara menjadi dingin menusuk, dan sungai tiba-tiba berhenti bergelombang. Keheningan itu menekan dada Darma seperti beban tak terlihat.
Jeritan dari Dalam Air
Ketika jala pertamanya dilempar, Darma merasa sesuatu yang aneh. Bukannya ringan, tali jala justru terasa berat, seperti tersangkut benda besar. Dengan sedikit usaha, ia menariknya ke atas. Namun, begitu lampu petromaks menyorot ke jala, darah merah pekat menetes ke air.
Ternyata, di antara simpul jala itu, muncul kepala terpenggal — matanya terbuka lebar, penuh amarah. Darma tertegun, tubuhnya membeku. Kemudian, tanpa peringatan, mulut kepala itu bergerak… dan berteriak.
Jeritan itu memecah kabut dan menggema di seluruh sungai. Burung-burung beterbangan panik, dan air di sekitar perahu bergetar seperti gempa kecil. Darma spontan menjatuhkan jalanya, namun ia terlambat.
Dari bawah perahu, tangan-tangan pucat muncul dan menggenggam keras sisi perahu. Ia berusaha melepaskan diri, tapi air di sekitarnya mulai berputar seperti pusaran. Lampu petromaks pun padam tiba-tiba, meninggalkan Darma dalam gelap total. Ia hanya bisa mendengar napasnya sendiri, tersengal, sementara jeritan itu berubah menjadi tawa yang menggema panjang di dalam kegelapan.
Kampung yang Tidak Pernah Tidur
Keesokan paginya, kabar itu menyebar cepat. Perahu Darma ditemukan mengapung di tepi sungai, kosong tanpa pemilik. Di dalamnya, hanya tersisa jala berdarah dan bekas cakaran di kayu dayung.
Pak Leman, yang datang pertama kali, hanya bisa menunduk. “Dia sudah dipanggil penghuni Kahayan,” katanya lirih.
Sementara itu, warga berkumpul di tepi sungai. Beberapa berdoa, sementara yang lain hanya menatap air yang terlihat lebih keruh dari biasanya. Menurut legenda, sungai itu dahulu menjadi tempat eksekusi para pemberontak. Kepala mereka dipenggal dan dihanyutkan tanpa pemakaman. Karena itu, setiap purnama, jeritan mereka konon masih terdengar.
Arwah yang Menuntut Tubuhnya
Tiga malam kemudian, kampung kembali diguncang oleh suara jeritan yang sama. Awalnya samar, seperti tangisan anak kecil. Namun, semakin malam, suaranya berubah menjadi pekikan marah yang membuat bulu kuduk berdiri.
Beberapa warga mengaku melihat kepala mengambang di tengah sungai. Ada pula yang mendengar suara tawa di balik kabut. Akibatnya, penduduk mulai takut keluar rumah setelah senja. Bahkan nelayan yang biasanya berangkat dini hari pun kini menunggu matahari terbit.
Namun, rasa takut tidak selalu bisa mengalahkan rasa penasaran. Sinta, anak Pak Leman, merasa semua itu hanya takhayul. Karena itu, suatu malam ia memutuskan membuktikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Sinta dan Sungai yang Terlarang
Dengan membawa ponsel dan senter kepala, Sinta berjalan diam-diam ke tepi sungai. Saat itu, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Air tampak tenang, namun kabut mulai naik pelan-pelan.
“Kalau benar ada arwah, tunjukkan dirimu,” katanya sambil menyorotkan cahaya ke air.
Beberapa detik tak terjadi apa pun. Tetapi kemudian, air di tengah sungai mulai berputar. Gelembung besar naik ke permukaan, disusul suara berat seperti napas seseorang dari bawah air.
Sinta mundur satu langkah. Namun, sebelum ia sempat berbalik, dari kabut itu muncul kepala terpenggal, berlumuran darah dan lumpur, matanya membelalak menatapnya.
Dalam sekejap, kepala itu menjerit keras hingga Sinta menjatuhkan ponselnya. Ia berlari ketakutan ke arah rumah, namun jalan terasa semakin panjang. Sementara itu, suara air mengejar di belakangnya. Ketika akhirnya ia sampai di depan pintu, ia menoleh — tak ada apa pun, hanya bau amis darah yang tertinggal di udara.
Kutukan Sungai Kahayan
Sejak malam itu, Sinta berubah. Ia sering termenung di tepi jendela, berbicara sendiri seolah menjawab suara yang tak terdengar. Kadang, ia menatap sungai sambil tersenyum aneh.
Pak Leman yang khawatir memanggil seorang dukun tua dari hulu, Nenek Ruha. Perempuan itu dikenal sebagai penjaga batas antara dunia manusia dan arwah sungai. Saat ia memeriksa Sinta, tubuhnya langsung bergetar hebat.
“Dia sudah disentuh arwah air,” ucapnya. “Dan arwah itu tidak sendiri.”
Menurutnya, di dasar sungai ada banyak roh yang belum tenang. Mereka mati terpenggal dan tak pernah disucikan. Darma menjadi korban pertama karena menyinggung mereka, sementara Sinta menjadi jembatan antara dunia hidup dan mati.
Ritual Air yang Terlupakan
Untuk menenangkan arwah itu, Nenek Ruha mengusulkan ritual kuno bernama balas sungai. Upacara ini memerlukan air dari hulu, tanah dari tebing, dan api suci yang tak boleh padam hingga pagi.
Warga kampung berkumpul di tepi sungai pada malam purnama. Kabut turun lebih tebal dari biasanya. Angin membawa suara aneh, seperti bisikan orang yang berdoa dari dalam air.
Sinta dibaringkan di tepi sungai dengan tubuh lemah. Sementara itu, Nenek Ruha mulai menyalakan dupa dan membaca mantra dengan suara berat. Namun, seiring mantra dilantunkan, air sungai mulai beriak.
Tiba-tiba, dari tengah kabut muncul kepala-kepala mengambang. Jumlahnya puluhan, wajahnya hancur, rambutnya meneteskan darah. Mereka menatap warga satu per satu sebelum mengeluarkan jeritan panjang yang membuat semua orang berlutut ketakutan.
Jeritan Terakhir di Kahayan
Api dupa hampir padam ketika Nenek Ruha berteriak memanggil nama sungai. Dengan cepat, ia mencelupkan obor ke air dan membaca mantra terakhir. Seketika air mendidih dan kabut menebal.
Satu per satu, kepala-kepala itu lenyap ke dalam air, kecuali satu — kepala yang pertama kali ditemukan Darma. Ia mendekat perlahan dengan mata kosong dan berkata, “Kembalikan tubuhku…”
Sinta menjerit, lalu diam. Tubuhnya terkulai, sementara air menjadi tenang kembali. Saat kabut menghilang, wajah-wajah arwah sudah tak ada. Namun, wajah Sinta tampak pucat seperti mayat.
Nenek Ruha menunduk. “Sungai sudah tenang,” katanya pelan. “Tapi ia memilih pengganti.”
Setelah Air Menjadi Sunyi
Beberapa hari kemudian, warga menemukan ponsel Sinta di tepi sungai. Video terakhir memperlihatkan air berputar, lalu wajah Sinta ketakutan disusul suara jeritan nyaring. Setelah itu, layar menjadi gelap.
Sejak malam itu, tak seorang pun berani mendekati sungai setelah senja. Jika kabut turun dan air tampak lebih gelap dari biasanya, warga menutup jendela dan mematikan lampu. Mereka tahu, arwah itu belum sepenuhnya pergi.
Dan terkadang, di tengah malam yang sunyi, terdengar suara perempuan tertawa pelan dari arah air — diikuti bisikan lirih yang berkata, “Tubuhku masih di sini…”
Lifestyle : Gaya Hidup Sederhana untuk Meningkatkan Kualitas Kehidupan