Senja di Halaman yang Tidak Mau Ramai
Sore itu aku tiba untuk meneliti arsip, sementara peti mati masih dianggap sekadar rumor warga. Karena membawa kamera kecil dan senter, langkahku terasa profesional, meski dada sedikit sesak. Sementara itu, cahaya tembaga menyapu dinding gereja tua, lalu menjadikan lumut tampak seperti noda yang hidup. Di halaman, rumput tumbuh tak rata, sehingga pijakan terasa ragu-ragu. Selain itu, pintu gereja terbuka setengah, seolah menunggu seseorang masuk tanpa diundang.
Lantas penjaga paruh baya mendekat dari arah menara lonceng. Dengan nada pelan, ia bertanya apakah aku punya izin tertulis. Kemudian surat itu kuperlihatkan sambil berusaha tersenyum. Namun demikian, matanya tidak ikut ramah, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak kejadian. Akibatnya, kata-katanya terdengar sebagai perintah, bukan saran: jangan jawab kalau ada panggilan. Bahkan ia menambah peringatan yang membuat tengkukku dingin: jangan dekat kalau panggilan datang dari arah peti mati.
Lorong Kayu dan Bau Lilin yang Tidak Masuk Akal
Pertama-tama kami melewati bangku panjang yang berderit halus saat diinjak. Berikutnya altar kusam terlihat di ujung, dengan kain tua yang warnanya nyaris hilang. Setelah itu lampu kecil dinyalakan, lalu berkedip sekali sebelum stabil. Di ruangan arsip, map-map besar disusun rapat, sehingga lorong di antaranya sempit. Selain itu, debu menari di cahaya senter seperti serbuk yang tidak mau jatuh.
Namun bau yang muncul bukan bau kertas. Sebaliknya, aroma lilin gereja terasa seperti baru dipadamkan. Akibatnya, bayangan misa yang “baru selesai” muncul di kepala, padahal ruangan kosong. Lantas penjaga meletakkan kunci di meja dan meminta aku tidak lama-lama. Dengan langkah cepat ia keluar, seolah pintu arsip punya penyedot yang membuat orang ingin menjauh. Kemudian kesunyian mengisi tempat, pelan tapi tebal. Sementara itu, jam ponsel menunjukkan waktu terus berjalan, namun suasana terasa diam di tempat.
Ketukan dari Lemari dan Suara yang Menyuruh Membuka
Di menara, lonceng berbunyi sekali, tetapi bunyinya seperti tersedak besi. Dari pintu arsip, tidak ada suara ketukan sama sekali. Namun demikian, bunyi tok… tok… tok… muncul dari sisi lemari yang menempel tembok. Akibatnya, rambut lenganku berdiri, sebab sumber bunyi tidak mungkin. Lantas tombol senter berkedip sendiri seperti sinyal singkat. Dengan napas tertahan, aku memandangi lemari tanpa bergerak. Kemudian bisikan halus terdengar jelas, seperti dari belakang papan kayu: “Buka….”
Sementara mulutku ingin bertanya “siapa?”, aku menahan karena teringat peringatan penjaga. Selain itu, rasa dingin merambat dari telapak kaki ke lutut, seolah lantai batu menyalurkan sesuatu. Namun otak tetap mencoba menipu diri: mungkin tikus, mungkin kayu mengembang. Akibatnya, tangan gemetar saat aku meraih map berikutnya. Lantas satu map jatuh dan kertas-kertas menyebar. Dengan gerakan panik aku memungutnya kembali. Kemudian kamera di meja menyala sendiri tanpa disentuh.
Foto Tak Diundang dan Peti yang Tiba-Tiba Ada
Pada layar kamera muncul satu foto baru. Di foto itu terlihat lorong utama gereja, padahal aku berada di ruang arsip. Selain itu, ada benda besar di tengah lorong: peti mati kayu tua dengan penutup terbuka setengah. Akibatnya, jantung memukul dada seperti ingin keluar. Lantas pikiranku berlari mencari alasan: glitch, pantulan, error memori. Namun demikian, aroma lilin menjadi makin kuat seperti tanda jawabannya bukan teknis. Sementara itu, suara gesekan kayu terdengar dari luar ruangan, panjang dan berat, seolah benda diseret pelan. Kemudian bisikan berubah memakai suara yang terlalu akrab: “Pulang….”
Karena suara itu mirip suara ibuku, lidahku hampir menjawab refleks. Namun gigitan kecil pada ujung lidah menyelamatkan kata-kata agar tidak keluar. Akibatnya, darah terasa dingin sekaligus panas, campur aduk tanpa pola. Lantas aku berdiri dan membuka pintu arsip pelan. Dengan hati-hati, aku mengarahkan senter ke lorong utama. Kemudian kegelapan terlihat lebih pekat daripada sebelumnya.
Lorong Utama dan Penutup yang Bergetar
Di tengah lorong, peti itu benar-benar ada. Selain itu, posisinya miring sedikit, seperti baru diseret dari arah samping. Akibatnya, lututku melemas, tetapi aku memaksa berdiri. Lantas kain putih kusam tampak di dalam peti, terlipat rapi seperti selimut lama. Dengan napas tertahan, aku menyadari penutupnya bergerak kecil, bukan karena angin. Kemudian suara pelan keluar dari dalam peti, tanpa jelas dari mana mulainya: “Lihat….”
Sementara mata menolak, rasa ingin tahu justru menarik. Namun demikian, langkahku tidak maju karena tubuh terasa menempel pada lantai. Akibatnya, jarak terasa dibuat-buat, seolah ruangan mengubah ukurannya. Lantas lonceng berdentang, tetapi dentangnya patah seperti dipukul dari dalam. Dengan sudut mata, aku melihat kain putih di dalam peti terangkat sedikit, seperti dada yang bernapas. Kemudian tenggorokan kering, dan udara seperti menyempit.
Penjaga Datang, Garis Garam Dibuat
Tiba-tiba penjaga muncul dari sisi altar dengan napas terburu-buru. Tanpa menatap isi peti, ia mengangkat salib kecil dan berdiri tegak. Selain itu, segenggam garam atau abu ia taburkan di lantai sebagai garis batas. Akibatnya, langkahku terasa punya arah: mundur perlahan. Lantas ia berdoa lirih, cepat, seolah memotong sesuatu yang ingin masuk. Dengan suara sangat pelan ia memberi perintah padaku: jangan sebut nama. Kemudian ia menegaskan bahwa jawaban adalah pintu.
Sementara bisikan memanggil lebih lembut, aku memilih diam. Namun demikian, kepalaku tiba-tiba menampilkan satu nama dari arsip: seorang imam tua yang hilang di laut. Akibatnya, aku paham terornya bukan cuma benda, melainkan dorongan untuk menyebut. Lantas suara dari peti membujuk: “Biar selesai….” Dengan gigitan lidah yang sama, aku menahan semuanya. Kemudian penjaga mengetuk lantai tiga kali dengan ujung kayu, seolah memberi tanda penutup.
Isi yang Hampir Terlihat dan Suara yang Meniru Diriku
Penutup peti bergeser sedikit lebih lebar. Selain itu, kain putih terangkat lagi, memperlihatkan jari-jari tangan kurus di bawahnya. Akibatnya, perutku mual, tetapi tidak ada teriakan keluar. Lantas suara dari peti berubah menjadi suaraku sendiri: “Aku ikut….” Dengan gemetar, aku menolak menoleh lebih lama. Kemudian penjaga mengulang taburan garam untuk mempertebal batas.
Sementara pintu utama tampak dekat, langkah mundur terasa sangat panjang. Namun demikian, aku mengikuti instruksinya untuk tidak lari. Akibatnya, napas bisa dikendalikan sedikit demi sedikit. Lantas aroma lilin menyambar kuat, seperti puluhan lilin dipadamkan sekaligus. Dengan asap tipis yang muncul, ruangan terasa seperti mengembun dari dalam. Kemudian penjaga berbisik bahwa peti ini adalah “barang janji” yang tidak ditepati. Sementara ia menutup ambang dengan garam, ia menyuruhku membasuh muka dan tangan dengan air botol kecil.
Pagi Normal, tetapi Bukti di Kamera Tidak Normal
Keesokan pagi, gereja terlihat biasa dari luar. Namun demikian, di galeri kamera muncul video yang tidak kuingat merekam. Selain itu, video itu memperlihatkan penutup peti mati terbuka dan suara suaraku berkata “Aku ikut.” Akibatnya, telapak tangan dingin seperti memegang es. Lantas penjaga hanya berkata bahwa yang paling penting adalah aku tidak mengucapkannya di dunia nyata. Dengan napas panjang, aku menerima bahwa malam itu bukan hal teknis. Kemudian ia menutup pembicaraan dengan satu pelajaran: jangan jadi mulut untuk benda yang meminta nama.
Otomatif : Teknologi Sensor Keselamatan yang Wajib Dimiliki Mobil Baru