Ombak Pelan dan Cerita yang Terlalu Terang
Malam itu aku menyeberang ke Siau dengan perasaan setengah penasaran, sementara gigi emas hanya terdengar seperti judul sensasional dari mulut orang warung. Karena sedang mengumpulkan bahan untuk tulisan tentang nisan dan tradisi pemakaman kuno, aku membawa buku catatan, kamera kecil, serta senter yang kubeli buru-buru di pelabuhan. Sementara itu, angin laut menampar halus, lalu mengirim bau garam yang membuat tenggorokan kering seperti menahan kata.
Di atas perahu, kapten tua tidak banyak bicara. Selain itu, penumpang lain memilih diam, seolah suara bisa mengundang sesuatu dari air. Namun demikian, ada satu kalimat yang akhirnya keluar dari kapten saat lampu pulau mulai terlihat: “Kalau kau dengar panggilan dari makam, jangan jawab. Apalagi kalau yang memanggil memakai senyum.”
Aku tertawa kecil karena gugup. Akan tetapi, kalimat itu tidak terasa lucu ketika kapten menambahkan, “Senyum itu milik gigi emas.”
Jalan Setapak dan Peringatan yang Diulang Dua Kali
Pagi berikutnya aku menuju kampung terdekat. Karena berniat sopan, aku menemui kepala lingkungan lebih dulu, lalu menjelaskan bahwa aku hanya menulis dan tidak mengambil apa pun. Sementara itu, seorang ibu yang menumbuk rempah menatapku lama, kemudian berbisik, “Jangan mendekat kalau matahari sudah rendah.”
Selain itu, seorang pemuda menawarkan diri mengantar. Namun demikian, ia menolak menyebut nama makam secara langsung, seolah kata-kata bisa membuka pintu. Lantas ia hanya menunjuk arah bukit, lalu berkata, “Di sana tempatnya. Kalau kau lihat kilau, jangan kamu kejar.”
Aku mengangkat alis. “Kilau apa?”
Pemuda itu menelan ludah. “Kilau gigi emas.”
Batu Tua, Ukiran Pudar, dan Kilau yang Tidak Wajar
Menjelang sore kami tiba di area makam. Meski lokasinya tidak jauh dari kampung, suasananya terasa terpisah, seolah udara di sana punya aturan sendiri. Selain itu, pepohonan rapat membuat cahaya matahari jatuh seperti pecahan, bukan seperti berkas.
Di tengah area, ada satu batu nisan lebih besar daripada yang lain, dengan ukiran yang sudah pudar. Sementara itu, tanah di sekitarnya terlihat lebih gelap, seakan sering basah meski tidak hujan. Aku menyalakan kamera kecil, lalu membidik pelan, berusaha menjaga jarak demi menghormati.
Kemudian kilau itu muncul.
Bukan dari logam terbuka, bukan dari lampu, melainkan dari celah yang sempit—seperti senyum yang disembunyikan. Kilau itu naik turun pelan, seolah ada mulut yang sedang menguji udara.
Aku menahan napas. Walaupun ingin mendekat agar jelas, kakiku terasa berat. Pada saat yang sama, suara dedaunan mendadak seperti dipelankan.
Lantas bisikan muncul, tipis tetapi jelas.
“Dekat….”
Aku merinding. Namun demikian, aku memilih diam, karena peringatan kapten dan pemuda tadi menempel di kepala seperti paku.
Senyum yang Tidak Terlihat, tetapi Terasa
Pemuda yang mengantarku berdiri jauh, tidak berani melewati batas batu tertentu. Selain itu, wajahnya pucat, seolah ia sudah menyesal mengantar. “Kita pulang sekarang,” katanya terburu-buru.
Aku mengangguk setengah, namun rasa penasaran menahan tubuhku. Karena pekerjaan menuntut detail, aku mengambil satu langkah kecil maju. Sementara itu, kilau gigi emas terlihat lebih terang, lalu memantul ke daun-daun seperti bintang kecil di siang yang redup.
Kemudian udara berubah dingin. Selain itu, bau tanah basah naik terlalu kuat, seperti lubang baru digali. Lantas muncul sensasi aneh: seolah seseorang berdiri tepat di depanku, meski mata tidak melihat tubuhnya.
Suara itu kembali, kini memakai nada yang ramah.
“Bagus… kamu datang….”
Kata-katanya seperti sambutan, namun bagian belakangnya seperti perintah yang tak terlihat.
Aku ingin mundur. Akan tetapi, telapak kakiku terasa menempel, seolah tanah mengingat berat tubuhku dan tidak ingin melepas.
Cerita Kepala Kampung yang Terlambat Diceritakan
Pemuda itu akhirnya menarik lenganku keras. “Jangan,” katanya, suaranya pecah. Sesudah itu, ia menyeretku turun lewat jalan setapak tanpa menoleh.
Di kampung, kepala lingkungan menunggu dengan wajah serius. “Kamu ke sana sore?” tanyanya cepat. Aku mengangguk kaku. Lantas ia menghela napas panjang, seolah baru saja mendengar berita yang ia takutkan.
“Dulu,” katanya, “ada pemburu pusaka. Mereka percaya gigi emas milik Raja Siau menyimpan tuah. Karena itu, makam dibongkar diam-diam, lalu gigi itu diambil. Akan tetapi, yang dibawa pulang bukan cuma emas, melainkan janji.”
Aku menelan ludah. “Janji apa?”
Kepala lingkungan menatapku tajam. “Janji untuk mengembalikan. Kalau tidak, kilau itu akan mencari mulut baru untuk menyebut nama pelakunya.”
Malam Pertama dan Kilau di Dalam Rumah
Malam itu aku menginap di rumah warga. Karena ingin menenangkan diri, aku menulis catatan dan memeriksa hasil foto. Sementara itu, listrik kampung redup, lalu bunyi jangkrik terdengar seperti jarum.
Di salah satu foto, ada pantulan aneh: garis kilau kecil di dekat nisan, padahal aku mengambil gambar dengan sudut berbeda. Selain itu, kilau itu tampak seperti gigi—bukan bentuk utuh, melainkan lengkung yang terlalu “mulut”.
Aku menutup kamera. Namun, tepat saat layar mati, kilau muncul di sudut ruangan—bukan dari lampu, melainkan dari celah lemari. Akibatnya, jantungku memukul dada.
Lantas aku mendengar suara sangat pelan, seolah dari balik kayu.
“Sebut….”
Mulutku kering. Walaupun ingin memanggil tuan rumah, aku takut suara keluar justru menjadi jawaban.
Kemudian kilau gigi emas bergerak, maju sedikit, membuat garis senyum yang menyala.
Nama yang Disodorkan ke Lidah
Di tengah ketakutan, pikiranku tiba-tiba menampilkan satu nama: nama seorang pria yang tadi siang sempat disebut warga sebagai “orang yang dulu suka cari barang tua”. Nama itu muncul jelas, seakan ada tangan menulisnya di dahi.
Akibatnya, aku paham polanya: suara itu bukan sekadar meminta jawaban; ia ingin aku menunjuk orang lain. Selain itu, ia menekan lidahku agar mengucapkan, sehingga beban berpindah dari pintu rumah ke mulutku.
Lantas suara itu membujuk dengan nada lembut.
“Cukup sebut… selesai….”
Aku menggigit ujung lidah sampai perih. Kemudian aku menggeleng pelan, menolak, meskipun air mata keluar tanpa izin. Walaupun tubuh menggigil, aku tetap diam.
Beberapa detik berlalu. Sesudah itu, kilau meredup, lalu menghilang seperti bara yang kehabisan udara.
Namun demikian, aku tahu itu bukan selesai, melainkan jeda.
Kembali ke Makam dengan Garam dan Kain Hitam
Pagi berikutnya kepala lingkungan datang membawa garam dan kain hitam kecil. “Kalau kamu sudah ‘dilihat’, kamu harus bantu menutup,” katanya. Karena tidak punya pilihan, aku mengikut.
Sementara itu, pemuda pengantar ikut, tetapi ia berjalan jauh di belakang. Selain itu, ia berkali-kali meludah kecil ke tanah, seperti membuang sial.
Di area makam, udara terasa lebih berat daripada kemarin. Namun demikian, kepala lingkungan berdiri tegak, lalu menabur garam membentuk setengah lingkar di depan nisan besar. Lantas ia mengikat kain hitam pada batang kecil di samping nisan, seperti penanda batas.
“Ini bukan untuk menantang,” katanya, “ini untuk menolak.”
Aku mengangguk. Kemudian kilau gigi emas muncul lagi dari celah yang sama, lebih terang daripada kemarin. Selain itu, dedaunan mendadak diam, seolah hutan menahan napas.
Suara itu muncul, kali ini memakai nada tertawa.
“Kamu kembali… bagus….”
Senyum yang Menyala dan Bayangan yang Memilih Tubuh
Kilau itu naik, lalu membentuk garis senyum yang jelas, meskipun tidak ada wajah. Akibatnya, perutku mual, karena otak memaksa membayangkan kepala tanpa kulit. Lantas dari tanah di depan nisan muncul bayangan tipis, seperti asap yang dipadatkan.
Bayangan itu bukan manusia utuh, namun bentuk bahunya ada. Selain itu, ia bergerak seperti orang yang berdiri terlalu tegak. Kemudian dari bayangan itu keluar suara yang tidak lagi lembut.
“Kembalikan.”
Kepala lingkungan menunduk, lalu berbisik doa pelan. Sementara itu, ia menabur garam lagi, mempertebal batas. Namun demikian, kilau gigi emas semakin terang, seolah menolak batas itu.
Lantas kepala lingkungan berkata, “Yang mengambil sudah lama pergi. Yang tersisa hanya janji. Kami tidak bisa kembalikan emasnya, tapi kami bisa kembalikan namanya.”
Aku tidak paham maksudnya. Akan tetapi, ia menoleh padaku dan berkata pelan, “Kamu jangan ikut menyebut. Jangan jadi mulutnya.”
Rekaman Sunyi dan Kata yang Tertinggal
Agar menahan panik, aku menyalakan perekam. Namun, indikator bergerak liar seolah ada teriakan besar, padahal telinga hanya menerima sunyi. Akibatnya, jariku dingin dan terasa kaku.
Lantas kilau itu mendekat sedikit. Sesudah itu, bayangan tipis seperti “menempel” di batas garam, seolah mencari celah retak. Selain itu, hutan mengeluarkan bunyi halus seperti kain diseret.
Kemudian suara itu menyodorkan satu kata lagi.
“Sebut….”
Aku menggigit lidah sekali lagi. Walaupun kepala seperti diperas, aku tetap menahan.
Kepala lingkungan tiba-tiba mengangkat kain hitam, lalu menutup celah nisan dengan kain itu, seperti menutup mulut. Lantas ia menabur garam terakhir, kemudian memukul tanah tiga kali dengan ujung kayu.
Sekejap kilau padam.
Bayangan tipis mundur.
Udara kembali bergerak.
Kilau Terakhir di Ujung Perahu
Kami pulang tanpa banyak bicara. Namun, saat turun ke tepi pantai kecil tempat perahu menunggu, aku melihat sesuatu di permukaan air: kilau kecil, sangat jauh, seperti satu gigi yang tersisa.
Selain itu, kilau itu tidak mengejar, tetapi mengikuti dari jarak aman, seolah memastikan aku paham pesan. Lantas suara itu muncul sekali lagi, sangat pelan, hampir seperti pikiranku sendiri:
“Hutang… ingat….”
Aku menutup mata sejenak. Kemudian aku menghembuskan napas panjang, menolak menyebut nama siapa pun. Walaupun tubuh masih gemetar, aku memilih diam, karena diam adalah satu-satunya cara tidak menjadi jembatan.
Saat perahu bergerak, kilau itu perlahan tenggelam. Namun demikian, bayangannya tertinggal di ingatan: gigi emas bukan sekadar benda, melainkan panggilan yang mencari mulut—dan pulau itu akan selalu punya cara untuk membuat orang tergelincir, selama masih ada yang percaya tuah bisa dicuri tanpa membayar.
Olahraga : Cara Memilih Jenis Olahraga yang Tepat bagi Kondisi Tubuh