Bisikan yang Tidak Seharusnya Didengar
Tidak ada yang memperingatkan Damar bahwa malam itu akan mengubah hidupnya selamanya. Karena pada detik pertama ia menatap air kolam Keraton Cirebon, ia mendengar sesuatu yang tidak manusiawi—suara lirih, retak, dan seret seperti tenggorokan yang dipenuhi lumpur. Suara itu menyebut satu hal yang membuat bulu kuduknya meremang: namanya sendiri.
Dan sejak saat itu, wajah berbisik itu terus mengikuti ke mana pun ia pergi.
Awal Kutukan dari Kolam Keraton
Damar datang ke Keraton Cirebon bukan untuk mencari masalah. Ia hanya ingin memotret sudut sejarah untuk tugas kuliah. Namun, ketika ia mendekati kolam ikan kuno tepat di belakang bangunan utama, suasana berubah aneh.
Meskipun angin tidak bertiup, permukaan kolam bergelombang pelan. Bahkan, ikan-ikan yang biasanya muncul mencari makan justru menjauh ke tengah, seolah ada sesuatu yang mereka hindari.
Saat ia membungkuk untuk memotret, air itu tiba-tiba menghitam.
Dan perlahan, sebuah wajah muncul—bukan pantulan, bukan bayangan—melainkan wajah perempuan pucat dengan mata cekung dan mulut separuh robek.
“Kembalikan…,” bisiknya.
Damar terpaku. Kata itu diucapkan langsung di dalam kepalanya.
Bisikan yang Menghantui Tiap Tidur
Sejak mengunjungi kolam itu, hidup Damar berubah drastis.
Malam pertama, ia terbangun karena mendengar suara tetesan air dari kamar mandi. Namun, saat diperiksa, lantai kering. Dan ketika ia kembali ke tempat tidur, ia melihat jejak kaki basah menuju ranjangnya.
Malam berikutnya, bisikan itu kembali. Kali ini lebih jelas:
“Kembalikan… yang kau ambil…”
Damar tidak mengambil apa pun. Ia yakin. Namun suara itu berkata seolah tahu sesuatu yang ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
Dan mulai malam ketiga, wajah berbisik itu muncul di setiap permukaan air—gelas minum, genangan hujan, bahkan layar ponselnya saat ia mematikan cahaya.
Jejak Masa Lalu Keraton yang Dibungkam
Karena semakin dihantui, Damar mencari penjaga tua keraton bernama Mbah Raga. Setelah banyak didesak, Mbah Raga akhirnya bercerita bahwa kolam itu dahulu dipakai untuk ritual pemurnian keluarga bangsawan. Namun, ada insiden kelam tentang seorang gadis kecil pelayan istana yang tenggelam secara misterius.
Tubuh gadis itu tidak pernah ditemukan.
Beberapa saksi mengaku melihat tubuhnya ditarik sesuatu dari dasar kolam, bukan karena tenggelam biasa. Sejak itu, banyak yang percaya bahwa sang gadis menjadi penunggu. Ia mencari “pengganti” agar rohnya bisa bebas.
Damar menelan ludah.
“Lalu… apa hubungannya dengan saya?”
Mbah Raga memandangnya dengan tatapan getir.
“Anak muda… kau punya sesuatu yang ia inginkan. Dan ia tidak akan berhenti… sampai kau kembali ke kolam itu.”
Malam Terakhir yang Tidak Pernah Dituliskan
Malam itu, kamar Damar terasa lebih dingin dari biasanya.
Saat ia membuka mata, ia melihat air merembes dari bawah ranjang. Perlahan, air itu memenuhi lantai. Dan di kejauhan, terdengar suara perempuan kecil tertawa—pelan, bergetar, dan sangat basah.
Damar mencoba bangkit.
Namun, tangan pucat keluar dari air di samping ranjang dan menarik kakinya.
Ia berteriak, tetapi suaranya seperti tenggelam.
Air tiba-tiba naik ke pinggangnya, lalu ke dadanya, meski kamar tidak mungkin tergenang sedalam itu. Dari kegelapan air, wajah itu muncul lagi—lebih jelas, lebih dekat.
“Milikku,” bisik wajah berbisik itu.
Damar menendang, menggaruk, memukul. Namun tangan itu semakin kuat. Ia diseret masuk ke bawah ranjang, ke dalam air yang seharusnya tidak ada.
Dan setelah beberapa detik, seluruh kamar kembali kering.
Damar menghilang tanpa jejak.
Yang tersisa hanyalah foto terakhir di kameranya: sebuah kolam tenang dengan permukaan air yang membentuk siluet wajah menyeramkan… tersenyum.
Bisikan Baru dari Kolam Keraton
Seminggu setelah hilangnya Damar, seorang turis lain memotret kolam ikan Keraton Cirebon. Saat melihat hasil fotonya, ia memicingkan mata.
Ada sebuah wajah pucat di permukaan air.
Namun bukan wajah gadis kecil itu lagi.
Wajahnya kini wajah Damar… dan ia berbisik.
Flora & Fauna : Konservasi Hutan Mangrove untuk Melindungi Habitat Lautan