Wajah Keriput Nenek Sihir Menghantui Jalan Prawirotaman

Wajah Keriput Nenek Sihir Menghantui Jalan Prawirotaman post thumbnail image

Malam yang Tak Pernah Tenang

Di antara deretan kafe dan penginapan di Jalan Prawirotaman, Yogyakarta, kehidupan malam selalu tampak cerah. Lampu kuning temaram memantul di jalanan basah, turis berjalan santai, dan pedagang kecil menata dagangannya. Namun di balik suasana hangat itu, ada kisah yang tak pernah benar-benar padam—tentang nenek sihir berwajah keriput yang menghantui setiap sudut jalan tua itu.

Orang-orang menyebutnya “Mbah Warti”, seorang dukun tua yang dulu tinggal di gang sempit tak jauh dari perempatan Prawirotaman. Ia terkenal sebagai penyembuh sekaligus sosok yang ditakuti, karena konon banyak yang celaka setelah menolak bantuannya. Sejak kematiannya yang misterius tiga puluh tahun lalu, warga sekitar sering melihat sosok perempuan tua dengan wajah penuh keriput dan mata melotot tajam berkeliaran saat tengah malam.


Awal Gangguan di Kosan Baru

Rani, mahasiswi baru asal Magelang, baru saja pindah ke kos kecil di dekat Jalan Prawirotaman II. Kos itu murah, bersih, dan dekat kampus. Ia tak tahu bahwa bangunan itu dulu adalah rumah bekas praktik Mbah Warti.

Malam pertama berjalan tenang. Namun menjelang pukul dua dini hari, Rani mendengar suara langkah kaki menyeret dari luar jendela. Ia menahan napas.
Cek… cek… cek… suara itu berhenti tepat di depan kamarnya.

“Bu kos?” panggil Rani pelan. Tak ada jawaban, hanya angin malam yang membawa aroma anyir. Ketika ia mengintip lewat celah jendela, matanya terpaku — sesosok wanita berkerudung hitam berdiri membelakanginya, bahunya membungkuk, rambutnya kusut, dan dari bayangannya terlihat wajah penuh lipatan seperti kulit kering terbakar. Sosok itu berbalik cepat, memperlihatkan senyum retak dan gigi hitam berlumur darah.

Rani menjerit, lalu semuanya gelap.


Bisikan di Cermin

Keesokan harinya, teman kosnya, Dina, menenangkan Rani yang masih pucat. “Mungkin cuma mimpi, Ran. Di sini memang agak tua bangunannya.”

Namun malam berikutnya, gangguan semakin aneh. Cermin di kamarnya berembun sendiri, padahal jendela tertutup rapat. Ketika ia usap permukaannya, terlihat tulisan samar:
“Aku belum selesai…”

Setiap kali ia mencoba tidur, suara perempuan tua terdengar di telinganya — seperti bisikan halus bercampur tawa serak.
“Rani… wajahmu cantik… aku ingin meminjamnya…”


Cerita dari Warga Lama

Suatu sore, Rani bertemu Pak Darto, tukang becak tua yang sering mangkal di ujung gang. Ketika Rani menceritakan apa yang terjadi, wajah Pak Darto langsung berubah tegang.

“Nduk, kau tinggal di rumah Mbah Warti. Dulu dia dukun sakti, tapi jahat. Banyak orang yang datang minta tolong, tapi kalau menolak bayar ‘sesaji’, mereka dikutuk. Setelah mati, jasadnya gak pernah ditemukan. Orang bilang dia mati dibakar muridnya sendiri. Tapi setiap malam Jumat Kliwon, dia masih keliling cari tubuh muda buat ditumpangi.”

Rani gemetar. Ia mulai sadar — nenek sihir itu mencari wadah baru.


Malam Jumat Kliwon

Hari itu, langit Prawirotaman mendung pekat. Suara azan Magrib menggema lemah di antara bangunan tua. Dina pamit pulang ke rumahnya di Sleman, meninggalkan Rani sendirian di kos. Ia menutup semua pintu dan menyalakan lilin kecil di meja belajar. Tapi listrik tiba-tiba padam.

Gelap.

Dari arah dapur terdengar bunyi piring jatuh. Lalu langkah kaki menyeret kembali bergema.

Cek… cek… cek…

Pintu kamarnya bergetar pelan, lalu terbuka perlahan. Di baliknya, sosok nenek berkerudung hitam menatapnya. Kulitnya mengeriput parah, matanya putih seluruhnya, dan bibirnya bergerak tanpa suara.

Rani berlari ke belakang, tapi tubuhnya terpaku. Nenek itu berbisik di telinganya,
“Cantik… kulitmu halus… berikan padaku…”


Pertukaran Wajah

Ketika Rani berusaha berteriak, udara di kamarnya terasa membeku. Cermin di depan meja belajar bergetar hebat, dan bayangan nenek itu muncul dari dalamnya, menyeret wajah Rani ke permukaan kaca.
Jeritan menggema di seluruh rumah. Dinding bergetar, lilin padam, dan udara dipenuhi aroma belerang.

Pagi harinya, warga menemukan Rani pingsan di lantai kamar. Ia masih hidup, tapi wajahnya… berubah. Kulitnya keriput, matanya sayu seperti orang berusia delapan puluh tahun. Dokter tak bisa menjelaskan fenomena itu.

Sementara di kaca kamar, samar-samar terlihat bayangan wajah muda Rani tersenyum dingin dari dalam cermin.


Kesaksian Tukang Becak

Seminggu kemudian, Pak Darto melihat sesuatu saat mengantar tamu lewat gang Prawirotaman. Di bawah lampu jalan yang berkelip, ia melihat seorang wanita muda berpakaian seperti Rani, berjalan lambat sambil tertawa kecil. Namun wajahnya samar, seperti kabur oleh kabut.

Ketika mendekat, ia menyadari — wajah itu bukan milik manusia.
Kulitnya retak-retak seperti topeng kering, dan di balik retakan itu tampak kulit keriput nenek tua yang dulu sering ia antar ke pasar.


Penampakan di Tengah Jalan

Beberapa turis juga mengaku melihat penampakan yang sama. Mereka memotret bayangan perempuan tua di tepi jalan, namun dalam hasil foto, yang tampak hanyalah bayangan hitam dengan mata merah menyala.

Sopir ojek online yang sering lewat tengah malam pun menceritakan pengalaman mengerikan. “Saya lihat nenek berdiri di tengah jalan, tangannya melambai. Saya berhenti, tapi begitu menoleh lagi, dia sudah duduk di belakang saya. Bau darahnya menusuk hidung.”


Misteri yang Tak Pernah Usai

Kos Rani akhirnya ditutup permanen. Namun suara langkah kaki menyeret masih sering terdengar di sekitar Jalan Prawirotaman setiap malam Jumat. Warga menghindari lewat gang itu setelah jam dua belas malam.

Beberapa paranormal mencoba memanggil arwah Mbah Warti, tapi mereka justru jatuh sakit satu per satu. Salah satu dari mereka sempat berpesan sebelum koma:
“Dia tidak ingin dibebaskan… dia ingin mengganti wajahnya setiap generasi.


Epilog: Bayangan di Cermin

Dua bulan kemudian, kamar kos Rani dibersihkan untuk disewakan kembali. Seorang mahasiswi baru bernama Laras menempatinya. Malam pertama berjalan tenang, hingga ia bercermin sebelum tidur. Di balik bayangannya, ia melihat sosok perempuan lain — kulitnya keriput, matanya putih seluruhnya, dan bibirnya menyeringai.

Cermin itu bergetar perlahan, menulis kabut halus di permukaannya:
“Aku belum selesai…”


Di akhir cerita ini, legenda nenek sihir di Jalan Prawirotaman tetap hidup. Siapa pun yang berani menantang malam di gang sempit itu, mungkin akan mendengar suara langkah menyeret… dan tawa serak dari balik kegelapan.

Berita & Politik : Debat Capres Semakin Menarik Perhatian Generasi Z

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post