Suara dari Dasar Sumur
Malam itu, bulan purnama menyorot lembut atap-atap kuno Keraton Kesultanan Jogja. Seorang penjaga malam bernama Sastro sedang melakukan patroli seperti biasa. Udara terasa dingin menusuk tulang, dan hanya suara jangkrik yang terdengar. Namun, langkahnya terhenti ketika dari arah sumur kuno di halaman belakang keraton terdengar bunyi seperti seseorang memanggil pelan.
“…to…long… aku…”
Sastro sontak mematung. Suara itu terdengar samar namun jelas. Ia mencoba menenangkan diri, mengira hanya halusinasinya. Namun saat ia menunduk, di dalam kegelapan sumur, terlihat bayangan perempuan dengan rambut panjang yang bergerak perlahan. Ia terpaku, tidak mampu bergerak. Baru setelah suara itu berubah menjadi jeritan panjang, Sastro berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.
Keesokan paginya, wajahnya pucat pasi. Ia tak berani menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun, hanya berpesan kepada rekannya agar tidak mendekati sumur kuno itu setelah tengah malam.
Asal Usul Sumur Kuno yang Terlupakan
Menurut catatan kuno, sumur itu dibangun pada masa awal berdirinya Keraton Yogyakarta, berfungsi sebagai sumber air untuk ritual dan upacara sakral. Namun, ada cerita kelam di baliknya. Konon, seorang abdi dalem perempuan yang difitnah mencuri benda pusaka dihukum mati dan jasadnya dibuang ke sumur itu tanpa ritual pemakaman yang layak.
Sejak saat itu, warga sekitar menyebut sumur itu sebagai tempat roh jahat bersemayam. Setiap malam Jumat Kliwon, orang yang melintas di dekatnya sering mendengar suara tangisan dan bau bunga melati yang menyengat. Banyak juga yang melihat bayangan perempuan mengenakan kebaya putih duduk di tepi sumur.
Cerita ini lama-lama menjadi bagian dari legenda yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Para penjaga keraton hanya menyebutnya sebagai “pamor sing ora kena diganggu” — tempat yang memiliki penjaga tak kasat mata.
Peneliti Muda yang Menantang Larangan
Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa arkeologi bernama Rendra mendapat izin khusus untuk meneliti area belakang keraton. Ia tertarik dengan mitos seputar sumur kuno yang dianggap tempat roh jahat itu. Meskipun para abdi dalem sudah memperingatkannya, rasa ingin tahu membuatnya tetap melanjutkan penelitian pada malam hari.
Dengan membawa kamera dan alat perekam suara, Rendra menuruni anak tangga menuju halaman belakang. Angin berembus pelan, dan aroma bunga melati menyeruak di udara. Ia mulai merekam sekitar sumur, mencoba menyalakan kamera inframerah.
Namun tiba-tiba, alat perekamnya menangkap suara bisikan perempuan yang tidak berasal dari arah mana pun.
“Kenapa kau bangunkan aku…?”
Rendra tersentak. Ia menyorotkan senter ke arah sumur, dan terlihat bayangan hitam merayap naik dari dalamnya. Wajah pucat dengan mata merah menatap langsung ke arah kamera. Seketika, seluruh alat elektroniknya mati total. Ia berteriak, menjatuhkan kamera, dan berlari sekuat tenaga menuju gerbang.
Gangguan yang Tidak Berhenti
Sejak malam itu, Rendra menjadi pendiam. Ia sering melamun dan mengaku mendengar suara air menetes meski di tempat kering. Setiap kali menatap cermin, ia melihat siluet perempuan berambut panjang di belakangnya. Orang tuanya membawa Rendra ke seorang spiritualis di Bantul. Dari hasil penerawangan, roh perempuan yang menghuni sumur itu mengikuti Rendra pulang, marah karena diganggu dalam tidurnya.
Untuk menenangkan roh tersebut, keluarga Rendra harus melakukan ritual khusus di halaman keraton dengan izin dari pihak istana. Namun meski upacara itu selesai, Rendra tidak pernah benar-benar sembuh. Ia sering berteriak saat tengah malam, mengulang kata-kata yang sama,
“Jangan biarkan dia keluar… dari sumur itu…”
Penjaga Keraton yang Hilang Tanpa Jejak
Beberapa bulan setelah kejadian Rendra, seorang penjaga baru bernama Parman ditugaskan menggantikan Sastro yang sudah pensiun. Meskipun sudah diperingatkan agar tidak mendekati sumur, Parman menganggap semua itu hanya cerita untuk menakut-nakuti.
Suatu malam, saat memeriksa area belakang, Parman mendengar suara langkah kaki di dekat sumur. Ia mengira ada penyusup. Namun begitu disorot dengan senter, ia tidak menemukan siapa pun. Hanya ada air di dasar sumur yang beriak, seolah baru saja diganggu sesuatu.
Keesokan paginya, Parman menghilang tanpa jejak. Hanya topi dan senter miliknya yang ditemukan di tepi sumur. Para abdi dalem percaya bahwa roh jahat sumur kuno kembali aktif dan menelan korban baru. Sejak itu, area belakang keraton dipagari dan tidak boleh dimasuki siapa pun tanpa izin khusus.
Misteri yang Tak Pernah Reda
Meskipun pihak keraton jarang membicarakannya, beberapa pengunjung yang menginap di kompleks sekitar mengaku mendengar suara aneh di malam hari — seperti air yang ditimba dan tangisan samar. Beberapa turis bahkan merekam penampakan bayangan kabur di dekat sumur menggunakan kamera ponsel mereka.
Namun, setelah rekaman itu diunggah ke media sosial, video tersebut menghilang sendiri dari ponsel pemiliknya. Banyak yang percaya bahwa roh jahat penjaga sumur tidak ingin rahasianya disebarkan ke dunia luar.
Upaya Pemulihan dan Doa Malam
Untuk menenangkan energi di area tersebut, pihak keraton bekerja sama dengan beberapa kyai melakukan ritual “ruwatan bumi” di sekitar sumur. Mereka menabur bunga tujuh rupa dan membaca doa selama semalam suntuk. Setelah ritual selesai, aroma melati dan suara tangisan menghilang, meskipun beberapa orang masih merasakan hawa dingin menusuk jika mendekat ke area itu.
Sastro, yang kini sudah tua, berkata dengan suara lirih,
“Roh itu bukan sekadar roh jahat… dia korban. Ia marah karena dilupakan.”
Kesunyian yang Tidak Benar-Benar Hilang
Kini, sumur kuno di Keraton Kesultanan Jogja tetap berdiri di balik pagar bambu yang kokoh. Tidak ada yang berani mendekat setelah matahari terbenam. Namun sesekali, pada malam-malam tertentu ketika bulan purnama bersinar terang, terdengar suara gemericik air bercampur bisikan halus.
Beberapa percaya bahwa roh perempuan itu masih menjaga tempat itu — bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memastikan tidak ada lagi manusia yang berani mengusik tidurnya.
Inspirasi & Motivasi : Mahasiswa Biasa yang Raih Juara Dunia Catur Online