Awal dari Aroma yang Tidak Wajar
Di tengah senja yang merambat di Desa Baduy, sekelompok pemuda kota datang untuk mencari ketenangan. Mereka tidak tahu bahwa asap dupa yang mulai mengepul dari sebuah batu besar di tengah desa akan menjadi awal dari mimpi buruk mereka.
Langit temaram terasa berat, dan desir angin membawa aroma yang semakin pekat. Awalnya hanya samar, namun kemudian menjadi begitu nyata hingga menusuk dada. Warga sekitar menyebutnya “hati batu” — sebuah batu besar yang dipercaya sebagai tempat bersemayam roh leluhur.
Desau Angin dan Bayangan Asap Dupa
Malam pertama, mereka mendengar bisikan samar dari balik pepohonan. Asap dupa seakan-akan membentuk wujud bayangan, melingkar di atas batu itu. Sesekali terdengar jeritan lirih, entah dari mana. Raka, salah satu pemuda, mencoba mendekat, tetapi tubuhnya mendadak gemetar hebat, seakan ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.
“Jangan dekat-dekat,” ucap seorang tetua desa yang tiba-tiba muncul. “Itu bukan sekadar dupa, itu jalan bagi mereka yang sudah lama diam.”
Kengerian di Tengah Malam
Malam semakin larut. Udara yang seharusnya sejuk terasa pengap, karena asap dupa terus berputar di udara tanpa arah. Dari kejauhan, terlihat sosok hitam berjubah putih lusuh berjalan pelan menuju hati batu. Sosok itu berhenti, lalu menoleh dengan mata kosong bercahaya merah.
Seketika salah satu pemuda menjerit, tubuhnya jatuh tersungkur. Tubuhnya kejang-kejang, lalu dari mulutnya keluar bau dupa yang sama pekatnya dengan yang mengepul dari batu.
Rahasia Hati Batu
Keesokan paginya, tetua desa akhirnya bercerita. Hati batu dulunya adalah tempat para leluhur melakukan ritual pemanggilan arwah. Mereka membakar dupa sebagai jembatan antara dunia manusia dan dunia roh. Namun, dupa yang dipakai bukanlah dupa biasa. Ia terbuat dari ramuan hutan yang dipercaya bisa mengikat jiwa orang yang tidak tenang.
“Asap dupa di hati batu tidak pernah padam,” kata tetua itu. “Siapa pun yang datang dengan hati goyah, akan disapa oleh mereka yang masih terperangkap.”
Jeritan yang Menggema
Malam berikutnya, situasi semakin mengerikan. Asap dupa menebal hingga menutupi langit, seakan menghalangi cahaya bulan. Dari dalam kepulan asap itu, terdengar suara tangisan wanita, bercampur dengan suara laki-laki yang berteriak meminta tolong.
Raka dan teman-temannya mencoba berlari, tetapi jalan keluar seakan berputar kembali ke batu yang sama. Mereka terperangkap di lingkaran tak kasat mata.
Tiba-tiba, salah seorang dari mereka terhuyung lalu menghilang ditelan asap. Yang tertinggal hanya bau dupa yang semakin tajam.
Teror yang Tidak Pernah Usai
Warga desa akhirnya berkumpul, membawa sesajen dan doa. Namun, meski mereka melantunkan mantra, asap dupa itu tidak juga menghilang. Malah semakin membesar, mengalir hingga ke pemukiman. Anak-anak menangis, orang dewasa berteriak panik, dan suara-suara asing terus terdengar dari balik kabut tebal itu.
Ada yang bersumpah melihat sosok perempuan berambut panjang melayang di atas batu. Ada pula yang mendengar suaranya sendiri dipanggil berulang-ulang dari balik asap.
Akhir yang Menggantung
Raka, dengan keberanian yang tersisa, melangkah ke tengah batu. Tangannya menggenggam dupa yang ia temukan di tanah. Dengan sisa tenaga, ia menyalakannya, berharap bisa menutup jalur yang terbuka. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Asap dupa itu semakin meledak, mengeluarkan suara jeritan seribu orang sekaligus.
Sejak malam itu, Raka tidak pernah kembali. Batu besar itu kini selalu diselimuti asap tipis, seakan menunggu korban baru. Dan setiap malam, jika kau mendekat, kau akan mencium bau dupa yang aneh, lalu mendengar suara samar-samar memanggil namamu.
Teknologi & Digital : Revolusi Fintech Percepat Akses Keuangan di Desa Terpencil