Wajah Tanpa Bola Mata di Cermin Hotel Tua Kota Madiun

Wajah Tanpa Bola Mata di Cermin Hotel Tua Kota Madiun post thumbnail image

Koridor Sunyi yang Menelan Suara

Awalnya, Aksara hanya ingin tempat murah untuk singgah, namun pada kenyataannya, ia malah menemukan cerita yang tidak pernah ia niatkan untuk ditulis. Walaupun ia dikenal sebagai penulis urban legend, ia tetap manusia yang punya batas. Meski begitu, hotel tua di sudut Kota Madiun ini seolah memanggilnya jauh sebelum ia mengetahuinya.

Di lobi, aroma kayu lembap dan karpet tua bercampur menjadi bau khas bangunan yang tidak pernah benar-benar “hidup”. Sementara itu, kipas usang berputar searah jarum jam, walaupun angin yang dihasilkannya terasa hangat dan datar, seakan hanya berputar karena kewajiban, bukan fungsi.

Resepsionisnya seorang pria tua, wajah mengerut seperti kertas yang berkali-kali dilipat, lalu dibuka paksa. Ia bicara tanpa nada, tetapi matanya memiliki berat yang berbeda.

“Kamar 312, lantai tiga. Jangan menatap cermin lewat tengah malam.”

Aksara mengangguk, walaupun nasihat itu justru mengunci dirinya pada rasa ingin tahu. Lagipula, semakin sesuatu dilarang, maka semakin kuat daya tariknya. Namun, ia belum menyadari bahwa peringatan itu bukan tantangan. Itu batas.


Kamar 312: Ruang yang Menyimpan Keheningan

Lift terbuka tanpa bunyi ding. Sebaliknya, pintunya bergeser seperti nafas panjang seseorang yang menahan beban bertahun-tahun. Sementara lantai tiga menyambutnya dengan lorong tanpa ujung yang tampak lebih panjang dari fondasi bangunannya sendiri.

Saat pintu 312 terbuka, udara di dalamnya diam total. Walaupun jendela terbuka setengah, tidak ada angin. Meskipun lampu menyala, tidak ada kehangatan. Justru, semua terasa seperti ruang yang sedang menunggu sesuatu… atau seseorang.

Di sudut kamar, cermin berdiri paling mencolok. Bukan karena besar, melainkan karena kejernihannya yang tidak masuk akal. Berbeda dengan furnitur lain yang redup dan tua, pantulan pada cermin itu tajam, seolah ia merawat diri lebih baik dibandingkan hotelnya sendiri.

Aksara menaruh ransel, kemudian menyalakan perekam audio untuk berjaga. Namun sebelum rekamannya menangkap suara apa pun, matanya menangkap sesuatu duluan.

Pantulan di cermin… bergerak sedikit lebih lambat dari gerak aslinya.


Refleksi yang Tidak Meniru, Melainkan Mengamati

Awalnya, gerakannya tipis, hampir tidak terlihat. Walaupun begitu, semakin lama diperhatikan, maka semakin jelas penyimpangannya. Bukan hanya tidak sinkron, tetapi seolah meniru dengan jeda yang disengaja.

Aksara menunduk. Pantulan menunduk.

Aksara menatap lagi. Pantulan tersenyum lebih dulu.

Bulu kuduknya menegak, sementara ruang itu seolah menahan napas bersamanya. Lalu, refleksi itu membuka mata perlahan… dan saat itulah semuanya berubah.

Tidak ada bola mata.

Hanya rongga hitam, mengilap, seakan permukaannya basah oleh sesuatu yang tidak memantulkan cahaya, melainkan menyerapnya. Wajah itu tetap berbentuk manusia, tetapi tanpa identitas, ekspresi, atau kedalaman.

Itulah pertama kali ia melihat wajah tanpa bola mata.


Air yang Menetes, Jejak yang Menyusul

Di belakangnya, muncul bunyi plok… plok… plok… seperti air kental yang menetes ke keramik. Padahal, tidak ada kebocoran. Meskipun demikian, bau tanah basah menyeruak, lalu menyusul bau besi seperti darah yang sudah mengering.

Ia berbalik, kemudian melihat aliran hitam merembes dari bawah pintu kamar mandi.

Langkahnya maju setengah sadar, meskipun nalurinya memaksa mundur. Namun, kaki selalu lebih jujur dari rasa takut ketika rasa penasaran menang.

Pintu terbuka.

Kosong.

Akan tetapi, lantainya dipenuhi jejak kaki berlumpur. Parahnya, jejak itu bukan masuk ke kamar… melainkan keluar darinya, menuju cermin.


Tawa yang Tidak Bisa Ditangkap Mikrofon

Jam 00:13.

Chef logikanya seharusnya sunyi, tetapi hotel tua ini punya jam biologis sendiri. Alih-alih hening, suara tawa pelan melintasi udara. Namun, itu bukan tawa yang lahir dari kebahagiaan, melainkan dari pengulangan memori yang membusuk.

Tawa itu putus-putus, seperti kaset lama yang tersangkut, namun juga penuh ironi, seakan mengejek ruang itu dan siapa pun yang tersesat di dalamnya.

Aksara menyalakan recorder. Tidak tertangkap apa pun.

Tawa itu hanya milik tempat ini, bukan milik dunia yang bisa didokumentasikan.


Asal-Usul yang Tidak Pernah Tamat

Konon, jauh sebelum menjadi hotel, bangunan itu adalah rumah singgah bagi perempuan yang “disingkirkan” oleh narasi keluarganya sendiri. Bukannya dihilangkan fisiknya, melainkan dihapus keberadaannya.

Satu nama hilang dari semua catatan. Tidak punya nisannya, namun punya kamarnya. Tidak punya kenangan keluarga, tetapi punya cerminnya.

Orang bilang, ia tidak mati.

Ia menunggu.

Di setiap pantulan.


Tiga Larangan yang Tidak Boleh Dilanggar

Hotel ini punya aturan bisu yang semua karyawannya ketahui, meskipun tidak pernah tertulis:

  1. Jangan menatap cermin setelah jam 12.
  2. Jangan merespons suara yang tidak menyentuh udara.
  3. Jika bayanganmu melakukan hal yang tidak kamu lakukan… jangan lanjutkan.

Aksara mematahkan semuanya.


Ketika Pantulan Mulai Memimpin

Refleksi itu kini berdiri lebih dulu dari dirinya, lalu meniru gerakan yang tidak ia buat. Meskipun otaknya memerintahkan jangan, ototnya memutuskan ikut.

Tangan terangkat. Mulut pantulan terbuka. Lehernya miring perlahan.

Dan untuk pertama kalinya, wajah tanpa bola mata berbicara tanpa suara, tetapi dengan kalimat yang masuk langsung ke pikiran:

“Tatap aku lama… aku ingin punya bentuk yang lengkap.”

Udara menjadi berat, sementara waktu seolah berhenti menunggu jawabannya. Namun, jawaban tidak diucapkan dengan kata. Jawaban diberikan dengan tatapan.

Dan saat Aksara menatap kembali…

Cermin tidak lagi memantulkan.

Cermin menyerap.


Pagi yang Tidak Selesai

Ia ditemukan duduk di ranjang saat matahari muncul, meskipun tidak ada bukti ia tidur. Namun, sesuatu hilang darinya. Bukan jiwanya. Bukan ingatannya. Melainkan bayangannya.

Tidak ada refleksi ketika ia disapa pagi. Tidak ada siluet ketika ia berdiri di cahaya.

Sementara itu, di cermin kamar 312…

Ada wajah tanpa bola mata yang kini tersenyum lebih utuh.

Ia akhirnya memiliki bentuk.

Otomatif : Perbandingan Efisiensi Mobil Listrik dan Mobil Konvensional

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post