Wajah Putih Di Jendela Puskesmas Lama Banyuwangi Menatap

Wajah Putih Di Jendela Puskesmas Lama Banyuwangi Menatap post thumbnail image

Bangunan yang Seharusnya Sudah Ditutup

Mula-mula aku mengira tugas jaga malam ini akan mudah. Namun, sejak melangkah ke halaman puskesmas lama Banyuwangi, wajah putih terasa lebih dekat daripada bayanganku sendiri. Selain itu, pagar besi berderit pelan meski tak ada angin, seolah menyambut dengan enggan.

Sebagai perawat pengganti, aku diminta mengecek arsip sebelum gedung ini direnovasi. Karena itu, aku membawa senter dan berkas. Sementara lampu halaman redup, jendela-jendela di lantai dua terlihat hitam, seperti mata yang ditutup rapat. Meski logika menenangkan, dadaku tetap tak nyaman.

Di dekat pintu utama, papan nama puskesmas tampak kusam. Lalu, jam dinding di lobi berhenti di angka 02.17. Karena jam mati sering terjadi di gedung tua, aku menepuk arloji sendiri. Akan tetapi, tepat saat itu, senterku berkedip. Dan di pantulan kaca pintu, wajah putih sekilas tampak, lalu lenyap.


Lorong Sunyi dan Bau Obat yang Tertinggal

Begitu masuk, bau karbol dan obat lama menyergap. Namun, aroma itu bercampur lembap, seperti kain kasa basah yang tak pernah kering. Di sisi kanan, lorong menuju ruang tindakan memanjang. Selain itu, lampu neon menyala setengah, sehingga bayangan seperti patah.

Aku melangkah pelan, sebab setiap langkah memantul terlalu keras. Sementara itu, pintu-pintu ruangan tampak sedikit terbuka, seolah ada yang mengintip. Ketika melewati ruang IGD lama, tirai hijau bergerak tipis. Padahal, jendela tertutup rapat.

Tak lama kemudian, dari ujung lorong terdengar bunyi logam jatuh. Karena kaget, aku berhenti. Lalu, setelah menarik napas, aku memanggil, “Permisi?” Akan tetapi, suaraku terdengar asing. Sesaat kemudian, kaca jendela di lorong memantulkan sesuatu. Wajah putih itu muncul lebih jelas—pucat, tanpa alis, dengan mata gelap yang tak berkedip.

Aku menoleh cepat. Namun, tidak ada siapa pun. Meski begitu, jendela itu berembun dari dalam. Bahkan, jejak telapak tangan kecil menempel, lalu menghilang.


Arsip Lama dan Catatan yang Terpotong

Karena ingin menghindari lorong, aku memilih masuk ke ruang arsip. Di sana, rak besi berderit saat kusentuh. Sementara berkas-berkas menumpuk, banyak yang berlabel “ditutup.” Karena gugup, aku fokus bekerja, berharap rasa takut reda.

Di antara map, ada catatan kejadian bertanggal lama. Namun, tulisannya rapi, dan kalimat terakhir selalu terpotong. “Pasien ditemukan…” lalu berhenti. “Perawat jaga…” lalu tak berlanjut. Selain itu, hampir semua catatan mencantumkan waktu yang sama: 02.17.

Ketika membalik halaman, lampu padam sesaat. Maka, aku menyalakan senter. Di dinding, bayangan rak membentuk garis menyerupai kisi jendela. Pada “kisi” itu, wajah putih muncul lagi, kini seperti menempel di tembok.

Aku memejam, lalu menghitung sampai tiga. Setelah itu, saat membuka mata, bayangan itu lenyap. Namun, di lantai, ada bekas tapak kaki basah menuju lorong belakang.


Jendela Pecah dan Hujan yang Tak Terdengar

Karena penasaran, aku mengikuti jejak itu. Akan tetapi, lorong belakang mengarah ke halaman dalam. Jendelanya pecah sebagian, tetapi kaca tidak berserakan. Anehnya, hujan turun di luar, namun tak ada suara. Jadi, air jatuh seperti ditelan udara.

Aku mendekat. Sementara kabut tipis menyelimuti halaman, wajah putih muncul di jendela luar, tepat di hadapanku. Kali ini jelas: kulitnya pucat seperti kapur, bibirnya tipis, dan senyumnya nyaris tak ada.

Refleks aku mundur. Namun, kursi roda di sudut bergerak sendiri, rodanya berdecit pendek. Di saat yang sama, jam di dinding lorong berdetak satu kali, lalu berhenti lagi di 02.17.

Aku berbisik, “Siapa kamu?” Meski pertanyaan itu terasa bodoh, aku tetap menunggu. Tetapi jendela berembun lagi, lalu membentuk huruf yang mengalir: “GILIRAN.”


Ruang Bersalin yang Terkunci

Dengan napas tertahan, aku menuju ruang bersalin lama. Namun pintu terkunci, sementara gagangnya hangat, seolah baru saja dipegang. Ketika kudorong, pintu terbuka tanpa suara.

Di dalam, ranjang besi berderit pelan. Selain itu, tirai putih menggantung, noda tua masih terlihat. Di sudut, inkubator mati berdiri seperti peti kaca. Ketika lampu senterku menyapu ruangan, cahaya berhenti di jendela kecil.

Di sana, wajah putih menempel di kaca dari dalam ruangan. Karena panik, aku berbalik cepat. Namun, tidak ada siapa pun. Akan tetapi, di kaca, wajah itu masih ada, tersenyum tipis.

Ketika aku mendekat, senyum itu memudar. Lalu, bibirnya bergerak, tanpa suara. Meski begitu, aku merasa ia sedang mengeja namaku pelan-pelan.


Jam Mati dan Langkah yang Mengikuti

Aku keluar tergesa. Namun lorong terasa lebih panjang. Lampu neon berkedip cepat. Dari belakang, langkah kaki terdengar, menyusul ritmeku. Karena takut, aku mempercepat langkah. Akan tetapi, langkah itu ikut cepat.

Di persimpangan lorong, kaca jendela berjajar. Pada setiap kaca, wajah putih muncul serentak, menatap lurus. Selain itu, matanya tak berkedip, dan mulutnya tertutup rapat, seolah menunggu aba-aba.

Aku menutup telinga. Namun bunyi detak terdengar di kepala. Detak itu menghitung mundur. Pertama lima. Lalu empat. Setelah itu tiga.

Ketika hitungan mencapai satu, semua lampu mati. Jadi, gelap menelan lorong. Senterku menyala redup, tetapi cahaya itu seperti ditahan. Di ujung cahaya, satu wajah tetap ada—lebih dekat.


Cerita Satpam dan Aturan yang Terlambat

Tiba-tiba, suara batuk memecah gelap. Satpam tua muncul dari pos kecil. “Kamu dengar?” tanyanya. Karena lega, aku mengangguk gemetar. Lalu ia menghela napas. “Harusnya kamu sudah pulang sebelum jam itu.”

Aku bertanya apa yang terjadi. Maka, dengan cepat, ia bercerita: dulu ada perawat yang sering lembur. Suatu malam, pasien hilang. Keesokan paginya, perawat itu ditemukan di ruang bersalin, menatap jendela. Wajahnya pucat. Sejak itu, wajah putih sering terlihat, menunggu pengganti.

“Kalau jam berhenti,” katanya pelan, “itu tanda giliran.” Selain itu, ia menambahkan, “Jangan pernah menjawab kalau ada yang memanggil dari kaca.”

Sebelum aku bertanya lebih jauh, jam berdetak lagi. Satu kali. Lalu berhenti di 02.17.


Menolak Giliran dan Mencari Pintu Keluar

Karena panik, aku berlari ke lobi. Namun pintu utama tertutup rapat, dan gagangnya dingin. Dari kaca pintu, wajah putih muncul di luar, menatap masuk.

Aku berbalik ke pintu darurat. Lampu hijau menyala redup. Ketika kudorong, pintu macet. Di belakangku, langkah mendekat, sementara bau obat menguat.

Aku memohon dalam hati. Lalu teringat catatan arsip yang terpotong: “Perawat jaga…” Karena itu, mungkin ada cara menghentikannya. Jadi, aku kembali ke ruang arsip, meski kaki gemetar.

Di sana, map terakhir terbuka. Halaman paling akhir kosong. Maka, aku menulis cepat dengan pena: “Perawat jaga meninggalkan gedung sebelum 02.17.” Pena bergetar, tetapi tinta mengalir.

Saat selesai, jam berdetak dua kali. Setelah itu, lorong mendadak sunyi.


Jendela Terakhir dan Pilihan yang Tersisa

Akibatnya, lampu menyala stabil. Aku menoleh ke jendela terdekat. Wajah putih memudar, seperti kabut tersapu angin.

Namun di jendela paling ujung, satu wajah masih ada. Ia menatap lebih lama. Lalu, perlahan, ia menggeleng, seolah kecewa.

Pada saat yang sama, satpam tua membuka pintu darurat. “Sekarang,” katanya. Karena tak ingin terlambat lagi, aku melangkah keluar. Udara malam dingin menyambut. Jam di luar menunjukkan 02.18.


Pagi yang Tidak Benar-Benar Tenang

Keesokan harinya, gedung itu ditutup. Berkas arsip dipindahkan. Namun setiap lewat jalan itu, aku menghindari menatap jendela lantai dua.

Kadang, saat hujan turun tanpa suara, aku melihat kilasan di kaca mobil. Wajah putih itu ada, menatap sebentar, lalu pergi. Meski begitu, aku tahu: kalau aku lengah, “giliran” bisa datang lagi.

Inspirasi & Motivasi : Kisah Inspiratif Perjuangan Menuju Kesuksesan Hidup

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post