Festival yang Pelan-Pelan Menjadi Sepi
Malam itu, festival Reog di Ponorogo baru saja berakhir. Lampu-lampu panggung mulai dipadamkan satu per satu, dan tenda-tenda pedagang perlahan dirapikan. Namun, di tengah sisa hiruk pikuk yang memudar, Rendi masih duduk di tepi panggung, menatap deretan topeng reog yang bersandar di dekat gudang kesenian. Di antara bulu-bulu merak yang mengembang, gigi-gigi raksasa dari kepala singa, dan kain merah yang menjuntai, ada sesuatu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Sejak kecil ia sudah terbiasa melihat barongan dan topeng reog di berbagai acara desa. Meskipun begitu, malam ini nuansanya berbeda. Karena angin yang turun tiba-tiba dari perbukitan membuat bulu merak di salah satu topeng bergoyang pelan, seolah kepala besar itu menghela napas panjang setelah menari sepanjang hari. Sementara itu, suara penonton sudah nyaris hilang. Hanya ada suara kursi dilipat, plastik dikumpulkan, dan beberapa anak kecil yang masih berlarian sebelum dipanggil pulang orang tuanya.
Selain itu, langit di atas alun-alun tampak berat dan mendung, menahan hujan yang belum jatuh. Lampu taman memantul samar di mata kaca topeng reog, menciptakan ilusi tatapan yang hidup. Karena perasaan itu, Rendi akhirnya berdiri dan membantu para penari dan kru mengangkut peralatan ke gudang belakang.
Gudang Kesenian di Belakang Panggung
Gudang kesenian terletak di sisi gelap alun-alun, sedikit terpisah dari keramaian. Bangunannya sederhana, dengan dinding kusam dan atap seng yang berdecit ketika angin lewat. Di depan pintu, Pak Wiryo, pawang Reog yang sudah sepuh, berdiri sambil memegang kunci tua yang menggantung di pinggangnya.
“Rendi, tolong bantu angkat ini dulu,” katanya sambil menunjuk satu set topeng reog dengan bulu merak yang paling tinggi. “Ini dadak merak tua, jangan sampai jatuh. Dulu sering dipakai almarhum Ki Sastro.”
Rendi mengangguk. Sementara itu, ia merasakan beban topeng besar itu bukan hanya berat secara fisik, tetapi juga berat oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Ketika ia melangkah masuk ke gudang, aroma kayu tua, kain lembap, dan asap kemeyan lama tercium samar-samar. Di sepanjang dinding, puluhan topeng reog lain digantung dan disandarkan, dengan berbagai ekspresi: marah, menyeringai, menantang, dan beberapa tampak seolah tersenyum sinis.
Kemudian, setelah semua peralatan dibawa masuk, Pak Wiryo menutup pintu gudang sebagian. Namun, ia belum mengunci. Ia menyalakan lampu kuning redup di pojok ruangan, lalu duduk di kursi kayu rendah. Rendi ikut duduk di lantai, sementara di sekeliling mereka, bayangan topeng-topeng besar bergoyang pelan mengikuti tarian cahaya.
Cerita Lama Tentang Janji yang Tidak Ditunaikan
Untuk mengusir lelah, Pak Wiryo mulai bercerita. Ia mengatakan bahwa dadak merak yang tadi mereka bawa masuk bukanlah topeng biasa. Menurutnya, Ki Sastro, pemilik aslinya, adalah salah satu penari Reog paling disegani di daerah itu. Namun, di balik kegagahannya di atas panggung, ia menyimpan satu janji yang sampai akhir hidupnya tidak pernah terpenuhi.
“Dulu,” ujar Pak Wiryo pelan, “Ki Sastro pernah bersumpah di depan topeng reog ini. Ia berjanji akan mempersembahkan satu pementasan terakhir khusus untuk arwah para leluhur, tanpa penonton biasa. Namun, sebelum sempat menepati, ia meninggal mendadak.”
Rendi menelan ludah. “Terus, topengnya diapakan, Pak?”
“Ya disimpan di sini,” jawab Pak Wiryo. “Tetapi kadang, setelah festival selesai dan alun-alun mulai sepi, beberapa orang bilang melihat topeng reog ini seperti menatap. Seolah meminta sesuatu yang belum selesai.”
Meskipun Rendi berusaha tertawa kecil, hatinya tidak ikut tertawa. Sementara itu, sudut matanya menangkap kilatan aneh di salah satu mata kaca topeng besar di hadapannya. Di luar, suara terakhir truk pedagang yang pergi menghilang, meninggalkan gudang dalam kubangan keheningan yang hampir total.
Tatapan yang Tidak Mau Pergi
Beberapa menit kemudian, panitia lain berpamitan. Satu per satu mereka keluar dari gudang, hingga akhirnya hanya Rendi dan Pak Wiryo yang tersisa. Namun, karena pawang tua itu mendapat panggilan telepon dari panitia utama, ia harus kembali sebentar ke area depan panggung untuk mengurus masalah honor.
“Ndak apa-apa kamu di sini sebentar?” tanya Pak Wiryo. “Tinggal matikan lampu kalau nanti keluar. Kuncinya saya bawa, pintu saya tutup dulu tapi ndak saya kunci rapat.”
Rendi mengangguk, meski sedikit ragu. Pintu gudang kemudian ditarik hampir rapat, menyisakan celah kecil di bawahnya. Lampu kuning di pojok masih menyala, namun bayangannya membuat sudut-sudut ruangan tampak lebih pekat. Di hadapan Rendi, deretan topeng reog seperti barisan wajah raksasa yang mengawasinya dari segala arah.
Karena bosan, ia mengeluarkan ponsel dan membuka kamera depan, berniat bercanda sendiri sambil memotret suasana gudang. Namun, ketika ia mengarahkan kamera ke dadak merak tua di tengah, ia tertegun. Di layar ponsel, mata topeng reog itu tampak sedikit berbeda: bola matanya memantulkan titik cahaya yang tidak ada di dunia nyata, seperti pupil yang mengecil menyesuaikan cahaya.
Ia menurunkan ponsel dan menatap langsung. Di hadapannya, mata topeng itu tampak biasa saja, dingin dan mati. Namun, ketika ia mengangkat ponsel lagi, pupil itu tampak membesar, seperti mata yang baru saja fokus menatap objek jauh. Rendi mencoba berpikir logis, menyalahkan kualitas kamera dan cahaya redup. Meskipun begitu, bulu kuduknya sudah berdiri.
Suara Gemeretak di Balik Bulu Merak
Tak lama kemudian, angin malam bertiup lebih kencang di luar. Atap seng bergemerisik, dan celah pintu bergetar tipis. Sementara itu, di dalam gudang, bulu-bulu merak di beberapa topeng reog bergoyang pelan. Awalnya, gerakan itu tampak wajar. Namun, kemudian, suara lain ikut muncul: gemeretak halus, seperti gigi kayu yang saling bergesek.
Rendi menajamkan pendengaran. Suara itu berasal dari arah dadak merak tua. Ia berdiri pelan, melangkah mendekat. Walau langkahnya hati-hati, lantai semen masih mengeluarkan gema kecil yang terdengar sangat jelas di dalam gudang yang sepi itu. Ketika ia sudah cukup dekat, ia bisa melihat rahang topeng besar itu tampak sedikit turun, tidak setertutup sebelumnya.
“Ah, mungkin tadi belum rapat habis diikat,” gumamnya. Namun, ketika ia mengangkat tangan hendak menyentuh, suara gemeretak berhenti seketika. Di saat yang sama, suasana sekeliling terasa mengerut, seakan udara di gudang menahan napasnya sendiri.
Selain itu, dari sudut lain, salah satu topeng reog yang disandarkan miring di dinding pelan-pelan bergeser turun beberapa senti, meski tidak ada yang menyentuh. Bulu meraknya bergetar, lalu diam kembali. Rendi memutar tubuh, menelan ludah, dan merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.
Bayangan Kepala Singa yang Terlalu Panjang
Karena perasaan tidak nyaman terus menguat, Rendi memutuskan untuk duduk kembali, kali ini lebih dekat ke pintu. Namun, sebelum ia sempat melangkah jauh, lampu kuning di pojok berkedip-kedip, lalu meredup. Ruangan tidak langsung gelap total, tetapi cahaya yang tersisa hanya cukup untuk menampilkan siluet besar-besar di dinding.
Di salah satu dinding, bayangan kepala singa dari topeng reog tua tampak menonjol. Taring besar dan rambut mengembangnya tercetak jelas. Akan tetapi, ketika lampu kembali berkedip, bayangan itu tampak memanjang, lebih tinggi dari wujud asli yang menggantung. Lehernya seperti bertambah, membuat kepala itu seolah menunduk ke arah lantai.
Rendi menahan napas. Kali ini, ia melihat dengan jelas bahwa bayangan itu bergerak berbeda dari topeng aslinya. Saat bulu merak di topeng nyata hanya bergoyang sedikit, bayangan di dinding tampak bergetar liar, seperti tertiup angin yang tidak menyentuh benda-benda lain.
Kemudian, di tengah ketegangan itu, terdengar suara rendah dari arah barisan topeng reog. Suara itu bukan jelas bahasa, tetapi lebih mirip helaan napas berat bercampur geraman tertahan. Seolah ada sesuatu yang sangat besar, sangat tua, dan sangat lelah, tengah berusaha bangkit setelah terlalu lama tidur.
Ketika Mata Kaca Terlihat Berkedip
Rendi ingin keluar, tetapi ia masih menunggu Pak Wiryo kembali dengan kunci. Ia tahu pintu tadi hanya ditutup, namun ia juga tahu pawang tua itu biasanya tidak suka jika gudang dibiarkan terbuka begitu saja. Sementara itu, pikirannya terombang-ambing antara takut dan rasa hormat pada tradisi.
Untuk mengalihkan perhatian, ia kembali duduk, namun kali ini ia menatap lantai saja. Meski begitu, sudut matanya tetap tertarik pada satu hal: mata kaca topeng reog tua di tengah. Di antara semua topeng, hanya mata itu yang tampak menangkap cahaya dengan cara berbeda.
Perlahan-lahan, tanpa sengaja, ia kembali menatap langsung. Untuk sejenak, semuanya tampak normal. Namun, ketika ia berkedip, ia bersumpah bahwa mata di topeng itu juga ikut berkedip. Tidak sekaligus, tetapi pelan, seperti kelopak yang sudah lama kaku tiba-tiba dipaksa menutup dan membuka.
“Jangan bercanda,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Cuma bayangan, cuma lelah.”
Namun, semakin ia menolak, semakin jelas ilusi itu menjadi nyata. Pandangan mata topeng reog itu tampak mengikutinya. Ketika ia bergeser ke kiri, sorot itu seperti berpindah. Ketika ia mencoba berdiri, ada momen singkat di mana ia merasa kepala besar yang bertumpu di bingkai kayu itu miring beberapa derajat.
Janji yang Tidak Pernah Diucapkan
Tiba-tiba, di tengah ketakutannya, Rendi teringat sesuatu. Beberapa hari sebelum festival, ia dan teman-temannya bercanda di dekat gudang. Salah satu dari mereka menantangnya untuk menyentuh gigi topeng reog tua dan bersumpah akan selalu tampil maksimal di panggung. Karena tidak ingin dianggap penakut, ia melakukannya sambil tertawa, mengucap sumpah asal-asalan.
“Kalau aku mengecewakan penonton, biar saja topeng reog ini marah,” katanya waktu itu. Semua temannya tertawa, termasuk dirinya.
Namun malam ini, ia baru menyadari bahwa saat siang tadi menari, ia sempat beberapa kali lupa gerakan. Selain itu, ia menertawakan koreografi yang dianggapnya kuno. Ia menyepelekan petuah Pak Wiryo tentang menghormati penonton tak kasatmata. Sekarang, ketika tatapan mata topeng itu menusuknya di kegelapan, ia merasa semua hal kecil itu tiba-tiba berarti.
Dengan suara bergetar, ia berusaha berbicara, seakan berharap sesuatu di dalam ruangan mendengarkan.
“Maaf… kalau tadi siang aku tidak serius. Maaf kalau sumpahku main-main,” gumamnya. “Aku… aku tidak bermaksud menantang.”
Untuk beberapa detik, tidak ada reaksi. Namun kemudian, suara gemeretak kayu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Rahang topeng besar itu tampak sedikit turun, menciptakan bayangan gigi yang lebih lebar, seperti senyum yang tidak wajar.
Tarian Tanpa Musik di Dalam Gudang
Saat suasana semakin menegang, Rendi tiba-tiba mencium bau berbeda di udara. Selain aroma kayu tua dan kain lembap, sekarang muncul wangi kemenyan tipis, seperti baru saja dibakar. Padahal ia yakin tidak ada dupa yang menyala di gudang. Bersamaan dengan bau itu, telinganya menangkap suara kendang jauh, samar-samar, seakan berasal dari ujung lorong yang tidak ada.
Suara kendang itu perlahan semakin jelas. Namun anehnya, suara itu tidak terdengar dari luar, melainkan seolah muncul dari dalam dada sendiri. Ritmenya sesuai dengan pola tabuhan Reog, mengundang kaki untuk bergerak, kepala untuk menunduk dan mengangkat, bahu untuk bergoyang pelan.
Tanpa sadar, telapak kaki Rendi mulai mengikuti irama. Sedikit demi sedikit, tubuhnya bergerak, seakan ditarik ke tengah ruangan. Sementara itu, di sekelilingnya, bayangan topeng reog di dinding tampak ikut bergetar. Dalam cahaya kuning redup, bulu-bulu merak terlihat seperti gelombang hijau kebiruan yang hidup.
Ia berusaha menghentikan gerakannya, namun setiap kali mencoba, ada dorongan tak terlihat yang memaksa sendi-sendinya tetap menari. Seolah ada banyak tangan tak kasatmata yang mengarahkan tubuhnya, memastikan tarian itu tidak terputus.
Ketika Topeng Itu Akhirnya Menunduk
Di tengah tarian yang terasa seperti tidak ada akhir, Rendi mendongak. Di depan, dadak merak tua itu tampak lebih besar dari sebelumnya. Kepala singanya tampak sedikit condong, dan mata kaca itu memantulkan bayangan dirinya sendiri yang menari dengan wajah pucat dan mata kosong.
Kemudian, untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang benar-benar melampaui logika. Perlahan, di balik mata kaca topeng reog itu, muncul kilatan merah redup, seperti bara yang menyala di kedalaman. Cahaya itu tidak kuat, namun cukup untuk membuat iris mata singa itu tampak hidup. Seiring irama kendang yang terus menghentak di telinganya, kilatan itu berdenyut pelan, seperti detak jantung.
Tiba-tiba, semua suara berhenti. Gudang sunyi total. Namun, di dalam kepala Rendi, terdengar suara berat yang bukan miliknya, bukan pula suara Pak Wiryo. Suara itu berbicara tanpa kata lengkap, lebih mirip bisikan rasa: kecewa, menuntut, dan menyuruh.
Ia merasa lututnya lemas. Tarian berhenti, tetapi tubuhnya tetap membungkuk seperti sedang memberi hormat di akhir pertunjukan. Di hadapannya, topeng reog tua itu menunduk sedikit, seakan membalas hormat. Di antara gigi kayu dan kain merah, ia seperti melihat sepasang mata lain, mata manusia, yang terjebak di belakang kisi-kisi kayu.
Pagi yang Meninggalkan Bekas
Ketika akhirnya pintu gudang dibuka dari luar, sinar matahari menyusup masuk, menyilaukan. Pak Wiryo berdiri di ambang pintu dengan wajah panik, ditemani beberapa panitia lain. Mereka mengaku mencari Rendi sejak subuh, karena orang tuanya mengatakan ia belum pulang sejak malam festival.
Rendi ditemukan duduk bersandar di dinding, tepat di seberang dadak merak tua. Matanya terbuka, namun pandangannya kosong. Ia masih memegang selendang kecil yang biasa dipakai menari, dan di lantai di depannya terlihat bekas langkah kaki membentuk lingkaran, seolah seseorang menari berulang-ulang di tempat yang sama.
“Dia sadar, tapi… seperti tidak benar-benar di sini,” bisik salah satu panitia.
Ketika Pak Wiryo menepuk pundaknya, Rendi berkedip pelan. Namun, saat pandangannya bertemu dengan topeng reog tua, tubuhnya menegang. Bibirnya bergerak, mengucap sesuatu yang tidak dimengerti orang lain. Kata-kata itu terdengar seperti potongan mantra dan potongan dialog pentas yang sudah lama tidak dibawakan.
Festival yang Tidak Pernah Benar-Benar Usai
Sejak hari itu, Rendi tidak lagi tampil di panggung. Ia lebih banyak diam di rumah, dan setiap kali mendengar suara kendang Reog dari kejauhan, ia tampak gelisah. Sementara itu, di gudang kesenian, Pak Wiryo memutuskan menutupi mata topeng reog tua dengan kain hitam tipis, dan menaruh sesajen kecil di depannya setiap selesai festival.
Meski begitu, beberapa penari muda bercerita bahwa kadang, ketika mereka mengambil kostum di gudang menjelang malam, mereka merasa diawasi. Mereka mengaku melihat kain hitam di mata topeng reog tua itu tampak sedikit menonjol, seolah ada sesuatu yang bergerak pelan di baliknya.
Pada setiap akhir festival, ketika alun-alun Ponorogo kembali menjadi lebih sepi, bayangan dadak merak tua itu selalu tampak berbeda. Di antara bulu merak yang mengembang, di antara taring kayu yang menyeringai, ada tatapan yang seolah belum selesai menuntut. Karena meskipun lampu panggung sudah dimatikan dan penonton sudah pulang, beberapa pertunjukan rupanya belum benar-benar usai—mereka hanya pindah ke tempat lain, ke ruang yang lebih sunyi, bersama topeng reog yang masih menatap dalam kegelapan.
Inspirasi & Motivasi : Rahasia Sukses Orang Hebat yang Tak Banyak Diketahui Umum