Kabut dari Lereng Gunung Bromo
Kabut turun tebal di lereng Gunung Bromo malam itu. Hawa dingin menembus kulit hingga membuat suara jangkrik pun lenyap ditelan udara pekat. Di desa kecil bernama Argosari, penduduk menutup jendela lebih awal. Tak seorang pun berani keluar setelah pukul sebelas malam.
Mereka percaya, bila kabut datang bersama aroma amis, maka titisan Nyi Blorong sedang berjalan di antara manusia. Wanita ular itu menagih tumbal anak kecil untuk melanjutkan hidupnya di dunia manusia.
Sari, seorang ibu muda, tak mempercayai cerita rakyat itu. Ia tinggal bersama anak semata wayangnya, Arga, bocah tujuh tahun yang ceria. Malam itu, Arga bermain bola kecil di ruang tamu. Ketika bola itu memantul keluar rumah, ia berlari menyusul.
“Sssst! Jangan keluar malam-malam!” seru Sari dari dapur. Tapi suaranya kalah oleh desir angin gunung. Lima menit berlalu, Sari memanggil-manggil nama anaknya. Tak ada jawaban. Ia keluar rumah dengan jantung berdebar, dan menemukan bola Arga tergeletak di tanah, berlendir, serta jejak kaki kecil yang berhenti di dekat sumur tua.
Di tanah basah itu ada bekas melingkar seperti lilitan ular dan selembar sisik hijau keemasan. Aroma amis begitu kuat.
Keesokan harinya, dukun desa, Mbah Rondo, datang dan menatap sisik itu dengan wajah pucat. “Tanda ini muncul seratus tahun sekali,” katanya lirih. “Titisan Nyi Blorong telah bangkit lagi.”
Kutukan dari Laut Selatan
Mbah Rondo menceritakan asal mula teror itu. Dahulu, seorang penguasa tanah Bromo menipu penguasa laut selatan, Nyi Blorong, untuk mendapatkan harta karun. Ia menjanjikan pengorbanan suci, namun mengingkari janjinya dan membunuh anak Nyi Blorong—seorang setengah manusia yang disembunyikan di lereng gunung.
Sejak itu, Nyi Blorong bersumpah: setiap tujuh windu, keturunan pengkhianat akan kehilangan anak-anaknya. “Rohnya akan bangkit dalam wujud titisan,” ucap Mbah Rondo, “menagih darah yang pernah diingkari.”
Desa Argosari mulai diselimuti teror. Banyak yang melihat sosok wanita berambut panjang mengenakan selendang hijau berjalan di sawah tengah malam. Kulitnya pucat, matanya berkilau seperti sisik, dan di belakangnya terdengar suara desis panjang. Orang-orang menutup pintu rapat, tapi teror tetap datang.
Ketukan di Jendela Malam
Korban berikutnya adalah Joko, cucu kepala desa. Malam itu ia sedang belajar, sementara ibunya menenun di ruang tengah. Tiba-tiba terdengar ketukan lembut di jendela, disusul suara perempuan memanggil, “Jokooo… bukalah, Ibu datang membawakan mainan.”
Suaranya lembut, keibuan, seolah berasal dari seseorang yang sangat ia rindukan. Sang ibu sempat mengira itu khayalan, tapi saat menoleh, terlihat bayangan panjang melingkar di luar jendela. Dua mata kehijauan menatap dari balik kaca, dan lidah bercabang menjulur perlahan.
Seketika lampu minyak padam. Saat api menyala kembali, Joko sudah lenyap. Di tanah hanya ada potongan kain hijau basah dan bekas lilitan besar seperti tubuh ular raksasa.
Ritual di Tengah Kabut
Ketakutan memuncak. Kepala desa memutuskan melakukan ritual tolak bala. Mereka menggelar upacara besar di lapangan: sesajen bunga kenanga, dupa, air dari tujuh mata air, dan darah ayam hitam diletakkan di tengah lingkaran obor.
Mbah Rondo berdiri di pusat lingkaran, memegang keris pusaka sambil melafalkan mantra. “Wahai titisan Nyi Blorong,” katanya dengan suara parau, “kembalilah ke lautanmu, jangan ganggu anak manusia.”
Namun, tiba-tiba angin berputar kencang, obor satu per satu padam. Dari pusaran kabut muncul sosok wanita berkulit pucat, separuh tubuhnya bersisik ular. Matanya hijau menyala, suaranya melengking menyeramkan.
“Kalian berhutang darah,” katanya. “Aku hanya menagih yang menjadi hakku.”
Tanah bergetar, suara gamelan terdengar samar dari udara, dan warga berlarian ketakutan. Keesokan pagi, Mbah Rondo menghilang. Yang tersisa hanya selendang hijau terbakar di tanah, dan bau amis yang tak hilang seminggu lamanya.
Anak dari Sumur Tua
Hening kembali melanda desa. Tapi tiga malam kemudian, anak perempuan bernama Dewi mendengar nyanyian lembut dari sumur di belakang rumahnya. Nyanyian itu begitu menenangkan, membuatnya melangkah mendekat tanpa rasa takut.
“Dewi… ibu datang, Nak… lihat, aku membawakanmu gelang cantik…”
Di permukaan air, terlihat wajah wanita cantik bermahkota ular. Dewi tersenyum kecil, tapi tiba-tiba tangan berlendir keluar dari air, mencengkeram lehernya, dan menariknya masuk. Air sumur bergejolak, memunculkan busa kehijauan dan aroma busuk.
Pagi harinya, air sumur berubah pekat, berwarna hijau gelap, dan di bibir sumur ditemukan rambut panjang melilit ember timba.
Jejak Darah dan Keturunan
Setelah kejadian itu, datanglah seorang peneliti mistik dari kota, Rendra. Ia tertarik pada kisah lama tentang titisan Nyi Blorong. Rendra mempelajari naskah kuno peninggalan Mbah Rondo dan menemukan kebenaran mengerikan: keluarga Sari adalah keturunan langsung dari pengkhianat yang dulu membunuh anak Nyi Blorong.
Ia menyimpulkan bahwa makhluk itu tidak menculik anak secara acak. Ia hanya menagih darah dari garis keturunan terkutuk. “Ini bukan teror biasa,” kata Rendra. “Ini penagihan dari masa lalu.”
Rendra mengajak warga yang tersisa untuk melakukan ritual pemutusan kutukan di tepi kawah Bromo pada malam bulan purnama. Mereka menyiapkan sesajen dan membaca doa pemutus darah.
Api Hijau dari Kawah Bromo
Kabut menebal saat mereka tiba di kawah. Langit gelap tanpa bintang, hanya bulan purnama yang samar-samar tertutup awan. Angin berembus membawa desisan panjang seperti suara ular raksasa.
Ketika Rendra menancapkan dupa terakhir, tanah bergetar. Dari dalam kabut muncul sosok setengah wanita, setengah ular, tubuhnya bersinar kehijauan. Ia menatap Rendra dengan mata penuh amarah.
“Kau membaca nama yang seharusnya dilupakan,” katanya.
Seketika tubuh Rendra terangkat oleh pusaran angin dan terseret ke dalam kawah. Dari kedalaman muncul semburan api hijau menyala terang, lalu padam dalam hitungan detik. Ritual itu gagal.
Sejak malam itu, tak ada yang melihat Rendra lagi. Beberapa warga yang ikut ritual melarikan diri ke kota, sisanya hilang tanpa jejak.
Desa yang Hilang dari Peta
Beberapa bulan kemudian, desa Argosari tak lagi ditemukan dalam peta resmi. Pendaki Gunung Bromo yang melintas di jalur lama kadang melihat cahaya lampu berkelip dari lembah, seolah ada desa tersembunyi di balik kabut. Namun ketika mereka turun, yang tampak hanya reruntuhan rumah dan sumur berlumut dengan air hijau pekat.
Di dekatnya berdiri batu nisan besar bertuliskan:
“Di sini bersemayam mereka yang diambil oleh titisan Nyi Blorong.”
Seorang petugas taman nasional pernah bersaksi melihat anak kecil berjalan sendirian di kabut pagi, menggenggam bola kecil berlendir. Saat dihampiri, anak itu hanya berkata, “Aku mau pulang ke Ibu.” Di belakangnya, terlihat bayangan wanita berambut panjang mengenakan selendang hijau, berdiri diam sambil tersenyum samar.
Dendam yang Tak Pernah Padam
Penduduk sekitar Bromo percaya bahwa roh titisan Nyi Blorong masih berkeliaran di antara kabut. Setiap malam Jumat Kliwon, mereka menutup jendela rapat-rapat, menyalakan dupa, dan menaruh bunga kenanga di depan rumah agar anak-anak mereka tak diganggu.
Mereka tahu, selama dosa masa lalu belum ditebus, roh itu akan terus menagih darah dan mencari anak-anak manusia sebagai pengganti keturunan yang dirampas.
Bagi orang luar, kisah ini mungkin terdengar seperti legenda lama. Namun di antara kabut Gunung Bromo yang lembap dan sunyi, suara gamelan sering terdengar samar, diiringi desisan panjang dan bisikan halus memanggil nama seseorang.
Dan jika suatu malam kau mendengar suara itu, lalu melihat bola kecil menggelinding dari arah kabut, jangan pernah membungkuk untuk mengambilnya. Sebab mungkin itu bukan bola, melainkan undangan dari titisan Nyi Blorong yang sedang mencari korban berikutnya.
Flora & Fauna : Fungsi Lumut dan Paku-Pakuan dalam Ekosistem Hutan