Kedatangan di Penginapan Tua Batu
Hujan senja turun miring ketika Andra akhirnya menemukan penginapan tua di pinggiran kota Batu, tempat bilik nomor empat menunggunya tanpa suara. Meskipun lampu teras berkedip lemah, ia tetap melangkah masuk karena semua penginapan lain sudah menutup pintu. Selain itu, rasa lelah setelah perjalanan panjang membuatnya mengabaikan firasat tidak enak yang sejak tadi menggelayuti tengkuk.
Di balik pintu kayu, udara lembap bercampur bau kayu lapuk menyambut langkahnya. Sementara itu, lorong pendek mengarah pada meja resepsionis kecil dengan lonceng usang di atasnya. Seorang lelaki tua berkemeja kusam berdiri di belakang meja, seolah ia sudah menunggu tamu terakhir hari itu.
Tanpa basa-basi, lelaki tua itu melirik jam dinding yang hampir menyentuh pukul sebelas malam. Kemudian, dengan suara pelan namun tegas, ia berkata bahwa hanya ada satu kamar tersisa. Menariknya, ia berpesan agar Andra tidak membuka pintu untuk siapa pun setelah lewat tengah malam, terlebih jika suara itu datang dari arah bilik nomor empat.
Kunci dengan Angka Empat
Saat lelaki tua meletakkan kunci di meja, Andra langsung menyadari gantungan kayu kecil dengan angka 4 terukir gelap. Walaupun tampak biasa, angka itu seakan baru saja digores, lebih jelas dibandingkan nomor lain yang tercetak di papan rak kunci. Akhirnya, ia meraih kunci itu, meski jemarinya mendadak dingin seolah menyentuh logam yang baru diangkat dari es.
Kemudian, Andra mengikuti petunjuk resepsionis menuju lantai dua. Koridor di lantai atas lebih sempit dan lebih panjang, diterangi lampu kuning redup yang menggantung rendah. Walaupun langkahnya ringan, lantai kayu terus berderit, seakan setiap pijakan membangunkan sesuatu yang lama tertidur di bawah.
Di sepanjang dinding, deretan pintu kayu berjejer dengan nomor pudar. Namun, angka “4” di tengah lorong justru tampak paling jelas, seperti baru dicat ulang semalam. Sementara itu, udara di depan bilik nomor empat terasa lebih dingin dari bagian koridor lain, sehingga napas Andra berembus tipis tanpa sebab.
Dalam Bilik Nomor Empat
Begitu pintu terbuka, kamar itu tampak sederhana: ranjang besi dengan kasur tipis, meja kecil di sampingnya, kursi tua, dan lemari kayu yang pintunya sedikit menganga. Selain itu, jendela besar di sisi kanan tertutup tirai tebal berwarna cokelat kusam. Walaupun perabotnya biasa saja, Andra merasa seolah seseorang baru saja berdiri di tengah ruangan sebelum ia datang.
Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam, kemudian duduk di tepi ranjang. Sementara itu, hujan di luar mulai melemah, tapi angin mengguncang genteng sehingga bunyinya mirip langkah-langkah kecil di atas langit-langit. Andra mencoba menepis rasa gelisah dengan menyalakan ponsel dan mengecek pesan, seakan dunia luar masih cukup dekat untuk dijangkau.
Meskipun pikirannya lelah, ia tak bisa mengabaikan cara bayangan tirai di dinding terus bergerak meski angin di kamar terasa mati. Sesekali, dari celah pintu lemari yang terbuka, ia merasa ada mata yang mengintip. Namun, karena logikanya menang untuk sementara, ia hanya menarik napas panjang dan memutuskan untuk memejamkan mata di bilik nomor empat itu.
Malam Pertama: Bisikan di Dinding
Ketika lampu utama dimatikan dan hanya lampu kecil dekat ranjang yang menyala, kamar itu terasa menyusut. Walaupun Andra mencoba berfokus pada suara hujan sisa di luar, telinganya justru menangkap bunyi lain yang lebih pelan. Pada awalnya, ia mengira itu suara air merembes, namun lama-lama terdengar seperti bisikan yang tertahan di dinding.
Bisikan itu berasal dari arah kepala ranjang, tepat di balik papan tipis yang memisahkan bilik nomor empat dengan kamar sebelah. Sementara itu, suara berat seperti erangan pelan menyusul, seolah seseorang berjuang menelan tangis. Kemudian, terdengar ketukan lembut di dinding, teratur, tiga kali, lalu berhenti, seakan ada tetangga kamar yang meminta perhatian.
Andra mencoba mengabaikan semua suara itu dengan memiringkan tubuh dan menutup telinga. Meski begitu, bisikan tersebut seperti berpindah, merayap turun ke bawah ranjang. Kali ini terdengar seperti seseorang sedang menghitung mundur dengan suara parau, berhenti lama di angka empat, sebelum tertawa lirih lalu lenyap.
Pagi yang Terasa Tidak Wajar
Pagi harinya, sinar matahari berusaha menembus tirai tebal, namun cahaya yang masuk ke bilik nomor empat tetap tampak kusam. Andra bangun dengan kepala berat dan mata perih, seakan ia tidak benar-benar tidur semalam. Walaupun begitu, kamar tampak normal: lemari tidak bergerak, jendela tertutup, dan dinding terlihat polos tanpa tanda.
Ia turun ke ruang resepsionis untuk mencari kopi dan mie instan. Lelaki tua pemilik penginapan sudah duduk di sana, menatap buku tamu yang terbuka di hadapannya. Ketika Andra menyebut soal suara dari kamar sebelah, pria itu hanya menghela napas panjang. Setelah itu, ia memutar buku tamu dan menunjuk beberapa nama lama yang dicoret dengan tinta merah.
“Yang menginap di bilik nomor empat kadang tidak sempat check-out,” ucapnya pelan. “Mereka sering tergesa-gesa pergi… atau memilih diam di tempat yang tidak terlihat mata.” Kalimat itu mengambang di udara, membuat Andra merinding meski secangkir kopi panas sudah ada di tangannya.
Jejak di Koridor dan Udara Dingin
Setelah sarapan seadanya, Andra berniat keluar sebentar untuk mencari udara segar di sekitar penginapan. Namun, begitu ia melangkah ke koridor lantai dua, sesuatu membuatnya berhenti. Di lantai kayu depan bilik nomor empat, ada bekas basah berbentuk jejak kaki kecil yang memanjang ke arah tangga.
Jejak itu tampak baru, seolah seseorang baru saja melintas sambil kakinya meneteskan air. Anehnya, bagian lain koridor tetap kering, dan tidak ada suara aktivitas lain di lantai itu. Sementara itu, udara mendadak menjadi sangat dingin, hingga uap napas Andra terlihat tipis.
Meskipun ngeri, ia mengikuti jejak itu beberapa langkah. Akan tetapi, sesampainya di belokan menuju tangga, jejak tersebut berhenti mendadak, seperti pemiliknya menghilang di tengah udara. Karena terlalu resah, Andra memutuskan turun ke kota sebentar dan menghabiskan siang di luar, berusaha mengabaikan bayangan penginapan tua yang terus menempel di pikirannya.
Kembali ke Bilik Nomor Empat
Menjelang malam, langit Batu kembali dipenuhi kabut dan gerimis halus. Walaupun ia ingin menginap di tempat lain, keuangan Andra yang menipis memaksanya pulang ke penginapan yang sama. Selain itu, barang-barangnya masih tertinggal di bilik nomor empat, sehingga ia tidak punya banyak pilihan.
Ketika ia memasuki kamar lagi, suasananya seolah berbeda dari pagi tadi. Ranjang tampak rapi, padahal ia yakin meninggalkannya sedikit berantakan. Tirai jendela yang tertutup kini terbuka sedikit, membuat cahaya lampu jalan di luar membentuk garis tipis di lantai. Sementara itu, pintu lemari yang sebelumnya rapat kembali terbuka beberapa sentimeter.
Andra menyalakan semua lampu, lalu memastikan setiap sudut kamar. Walaupun tidak menemukan apa pun, perasaan diawasi belum juga pergi. Akhirnya, ia menyalakan musik pelan dari ponsel, berharap suara itu bisa menenggelamkan bisikan-bisikan yang mungkin muncul lagi di dinding bilik nomor empat.
Malam Kedua: Ketukan di Pintu
Jam dinding di lorong berdentang pelan, menandai waktu mendekati tengah malam. Sementara itu, musik dari ponsel terdengar semakin jauh, seakan terhisap keluar dari kamar. Andra duduk bersandar di ranjang, menatap langit-langit usang yang retaknya menyerupai garis-garis peta.
Tepat ketika dentang terakhir bergema, tiga ketukan terdengar di pintu kamar. Bunyi itu pelan tetapi jelas, dengan jeda teratur di antara tiap ketukan. Andra langsung teringat peringatan pemilik penginapan untuk tidak membuka pintu setelah tengah malam. Meskipun begitu, rasa penasaran perlahan mendorongnya berdiri dan melangkah ke arah pintu bilik nomor empat.
Ia menempelkan mata ke lubang intip. Namun, di baliknya hanya ada kegelapan pekat tanpa koridor, tanpa lampu, tanpa sosok apa pun. Walaupun demikian, ketukan kembali terdengar, kali ini sedikit lebih keras, seolah si pengetuk mulai resah karena tidak segera disambut.
Suara dari Lemari yang Terbuka
Setelah beberapa saat, ketukan di pintu berhenti sepenuhnya. Andra mundur perlahan, mengira kejadian itu sudah selesai. Akan tetapi, kepalanya langsung menoleh ketika mendengar derit halus dari sudut kamar. Suara itu berasal dari lemari kayu yang sejak sore sudah menganga sedikit. Kali ini, pintunya bergerak sendiri, terbuka lebih lebar.
Dari dalam lemari, hembusan udara dingin berbau lembap perlahan keluar, membuat bulu kuduk Andra berdiri. Selain itu, terdengar suara seperti kain yang diseret pelan di lantai kayu bagian dalam. Kemudian, bunyi langkah kecil terdengar, bukan di luar lemari, melainkan di sisi terdalam, seolah seseorang berjalan mengitari dinding sempit di dalam.
Dengan tangan bergetar, Andra mendekati lemari. Ia menyibak pintu sepenuhnya dan menyorot bagian dalam dengan ponsel. Di rak bawah memang kosong, tetapi pada dinding belakang lemari terdapat goresan-goresan panjang, seperti bekas cakaran. Di antara goresan itu, ada tulisan berantakan: “buka… pintu… empat…” yang tampak seakan terukir dengan kuku.
Pengakuan Tentang Gadis Bilik Empat
Keesokan harinya, wajah Andra semakin pucat ketika turun ke resepsionis. Ia langsung menuntut penjelasan, kali ini tanpa basa-basi. Lelaki tua pemilik penginapan memandangnya lama, lalu menutup buku tamu dengan gerakan lambat, seolah sudah menebak percakapan ini sejak awal Andra datang ke bilik nomor empat.
Dengan suara berat, ia mulai bercerita. Bertahun-tahun lalu, penginapan ini sering didatangi rombongan wisatawan. Di antara mereka, ada seorang gadis muda yang selalu memilih bilik bernomor empat. Gadis itu senang duduk di jendela, mengobrol dengan “teman” yang tidak pernah terlihat. Pada suatu malam berkabut, ia ditemukan tergantung di dalam lemari kamar itu, dengan kuku-kuku berdarah dan dinding yang penuh goresan.
Menurut pemilik penginapan, sejak kejadian tersebut, beberapa tamu yang menginap di kamar sama mengaku mendengar ketukan tengah malam dan suara perempuan meminta pintu dibuka. Beberapa di antaranya check-out tergesa-gesa, tetapi ada juga yang namanya hanya tinggal di buku catatan, diikuti catatan kecil: “tidak jelas keberangkatan.”
Niat Melarikan Diri
Setelah mendengar cerita itu, Andra memutuskan untuk segera pergi. Ia meminta pengembalian sisa uang, namun pemilik penginapan hanya menggeleng pelan. Meski demikian, lelaki tua itu tidak mencegahnya mengambil tas dan meninggalkan bilik nomor empat selamanya. Seolah-olah, pria itu pun lega setiap kali ada tamu yang masih bisa turun membawa langkah sendiri.
Ketika Andra kembali naik, koridor lantai dua terasa lebih panjang daripada sebelumnya. Lampu-lampu kuning berkedip tidak stabil, membuat bayangan pintu-pintu memanjang aneh di dinding. Ia mempercepat langkah, berniat hanya mengambil tas, lalu langsung turun tanpa menoleh lagi.
Namun, sesampainya di depan kamarnya, pintu bilik nomor empat sudah sedikit terbuka. Dari celah itu, tampak bagian dalam kamar yang gelap, seolah lampu dimatikan meski ia yakin meninggalkannya dalam keadaan menyala. Hawa dingin kembali menyusup keluar, mengelus wajahnya seperti tangan yang terlalu dingin untuk milik manusia.
Koridor yang Berputar ke Angka Empat
Andra buru-buru masuk, meraih tas di samping ranjang, dan bergegas keluar lagi. Akan tetapi, ketika ia melangkah ke koridor dan menutup pintu, sesuatu terasa ganjil. Papan nomor di atas pintu di depannya juga bertuliskan angka 4. Ia berjalan lebih jauh, namun pintu berikutnya pun menampilkan angka yang sama.
Seiring langkahnya dipercepat, napasnya makin berat. Walaupun ia yakin sudah menempuh hampir seluruh panjang koridor, ia terus-menerus kembali melewati pintu dengan angka 4 yang gelap. Bahkan, lantai di depan pintu itu tampak sedikit lebih basah, seperti selalu baru dilintasi kaki tak terlihat. Seakan-akan, berapa pun jarak yang ia tempuh, ia tetap dikembalikan ke depan bilik nomor empat.
Akhirnya, ia berhenti, bersandar ke dinding yang dingin, dan menyadari bahwa lorong itu sudah tidak lagi mengikuti bentuk bangunan yang ia ingat. Lampu-lampu menjauh dalam kabut tipis, dan hanya satu pintu yang tampak jelas: pintu dengan angka 4, sedikit terbuka, seolah mempersilakan ia masuk sekali lagi.
Akhir di Bilik Nomor Empat
Dengan sisa keberanian yang entah datang dari mana, Andra mendorong pintu itu. Di dalam, kamar tampak lebih gelap dari sebelumnya, meski lampu seharusnya menyala. Siluet seseorang berdiri di dekat lemari, tubuhnya ramping dengan rambut panjang menjuntai menutupi wajah. Namun, yang membuat jantung Andra hampir berhenti adalah fakta bahwa sosok itu memakai kaus yang sama persis dengannya, lengkap dengan noda kecil di ujung lengan.
Pelan-pelan, sosok itu mengangkat kepala. Wajahnya tampak kabur, seperti diselimuti kabut pekat, namun di antara samar itu muncul senyum lebar yang tidak sepenuhnya manusia. Dari kedua sisi, bisikan-bisikan yang tadi hanya berasal dari dinding kini memenuhi ruangan, memanggil-manggil nama Andra dan menyebut bilik nomor empat sebagai “rumah baru”.
Langit-langit kamar terasa turun, dinding-dinding mendekat, dan jendela lenyap dalam gelap. Ketika pintu menutup pelan di belakangnya, suara kunci berputar sendiri terdengar jelas. Setelah itu, penginapan kembali sunyi, seolah tidak pernah ada seorang pun yang baru saja masuk.
Sejak hari itu, penginapan lama Batu jarang sekali menerima tamu. Pemiliknya hanya duduk di meja resepsionis, menatap gantungan kunci kayu yang kini memiliki satu tambahan nama kecil tergores samar di bawah angka 4: “Andra”. Walaupun begitu, pada malam berkabut, warga sekitar mengaku melihat lampu redup menyala di lantai dua.
Kadang, dari luar jalan, terdengar dua suara tertawa pelan di dalam kamar. Bayangan seorang gadis dan seorang lelaki sering tampak berdiri di jendela yang menghadap jalan, seolah menunggu tamu berikutnya. Namun, semua orang yang tahu cerita memilih berjalan lebih cepat ketika melewati penginapan itu, agar tidak tergoda menoleh ke arah bilik nomor empat yang tidak pernah benar-benar kosong.
Kesehatan : Manfaat Tidur Berkualitas bagi Kinerja Otak dan Imun Tubuh