Bisikan di Kedalaman Malam
Aku terbangun tepat saat pukul dua dini hari. Seketika, keheningan ruang tamu remang disayat oleh tangisan lirih—tangisan bayi dari loteng. Awalnya, aku mengira itu gema angin menembus celah jendela. Namun, suaranya berulang, semakin dekat, semakin menembus dinding. Perasaan ngeri mencengkeram dadaku; suara itu tidak mungkin datang dari bawah, melainkan dari atas—dari loteng yang bahkan tidak pernah memiliki akses tangga.
Misteri Loteng Tanpa Tangga
Sebelumnya, loteng rumah pusaka Simanjuntak hanyalah ruang penyimpanan barang tua; bukan area yang bisa dikunjungi. Selain itu, atapnya tertutup rapat, tanpa jendela maupun pintu akses. Namun belakangan, pintu kayu tua yang selamanya terkunci itu terlihat sedikit tersayat dari bawah, seakan ada tekanan. Di sisi lain, suara tangisan bayi dari loteng memanggilku—lembut namun memilukan, menimbulkan naluri protektif sekaligus rasa takut mendalam.
Langkah Pertama di Ambang Pintu
Meski enggan, aku mendekati tangga darurat lipat yang tersembunyi di balik lemari buku. Pertama, terdengar decitan engsel besi tua saat kupasang. Selanjutnya, aku memanjat dengan hati-hati, menyentuh permukaan kayu berdebu. Dengan perlahan, kuposisi senter ke arah langit-langit. Suara tangisan itu berhenti seketika, seolah bayi yang menangis mengetahui kehadiranku. Aku menelan ludah, berdebar kencang, dan membuka pintu loteng…
Kengerian Terungkap di Loteng Gelap
Dalam kegelapan, aku menyalakan senter. Bayangan kotak kayu antik, boneka rusak, dan kain kafan terurai kosong. Meski begitu, udara di ruang itu terasa lembap dan dingin. Dan di sudut paling gelap, kulihat bayangan samar: sesosok bayi terbungkus kain lusuh, berbaring di atas palet kayu. Begitu lampu senter menyorot, bayangan itu lenyap; yang tertinggal hanya buaian kosong dan aroma anyir. Namun aku tahu, tangisan bayi dari loteng bukan sekadar ilusi—itu panggilan arwah yang memekik tanpa wujud.
Awal Teror yang Menyusup
Setelah malam itu, setiap aku kembali ke kamar, bisikan lembut kembali menggema. Bahkan ketika lampu kamar menyala terang, aku mendengar isak bayi di atas kepalaku—padahal loteng berada di dua lantai atas. Meski kukatakan pada diri sendiri bahwa itu hanya bayangan pikiran, rasa dingin di tulang belakang tak pernah hilang. Setiap kali mencoba tidur, tubuhku kedinginan; selimut tak mampu menahan hawa gaib yang terus menancap.
Jejak Sejarah Kelam Rumah Pusaka
Dalam keputusasaan, aku menelusuri arsip keluarga. Ternyata, pada tahun 1923, rumah itu dimiliki seorang bidan desa yang menghentikan kelahiran bayi kembar cacat—seorang bayi selamat, namun dikubur hidup-hidup di loteng. Selain itu, kabar burung menyebutkan suara tangisan itu sudah terdengar oleh tetangga, tetapi tak ada yang berani menyelidiki lebih jauh. Kini, kubaca catatan kuno: “Buai arwah yang belum pulang, agar kerasahannya berhenti.” Dan sejak itu, terbentuk kutukan: tangisan bayi dari loteng tak pernah berhenti sebelum ia ditemani pulang.
Rencana Penghentian Kutukan
Dengan bekal naskah kuno, aku memutuskan melakukan ritual. Pertama, aku mempersiapkan sesaji: air suci dari sumur tua, bunga kamboja putih, dan boneka bayi kecil. Selain itu, kuciptakan lingkaran garam di sekeliling palet kayu. Namun ketika tengah malam tiba, suara tangisan itu berubah menjadi tangis kejam—melengking menyayat. Aku membacakan mantera, memohon arwah bayi berhenti menangis dan diizinkan beristirahat. Tiba-tiba, lantai loteng bergetar, suara balok kayu retak, dan sebuah sosok kabur terlintas di pojok.
Konfrontasi di Balik Bayangan
Aku mengeraskan suara mantera, lalu kulihat bayi itu—mata hitamnya menatap kosong, tubuh kecilnya melayang. Ia mendekat perlahan, menjerit pilu. Aku hampir pingsan, tetapi ingat nasihat naskah: “Lihat arwah mata dalam, panggil namanya.” Maka, aku berbisik, “Namamu siapa? Aku temanimu pulang.” Dia berhenti sejenak, tangis mereda, menatapku intens.
Sosok itu menunjuk satu kotak kayu tua yang tampak tertutup rapat. Dengan tangan gemetar, kutarik tutupnya, lalu kuletakkan boneka kecil di dalamnya. Bayangan bayi itu meraih boneka, lalu tersenyum tipis—tapi senyum penuh duri. Dengan kilatan cahaya putih, ia menghilang, meninggalkan ruang loteng tenang untuk pertama kalinya setelah seabad.
Epilog: Damai yang Rapuh
Keesokan paginya, loteng kembali sunyi. Pintu kayu tak lagi tersayat, suara tangisan hilang sepenuhnya. Namun, setiap kali malam tiba, aku masih mendengar bisikan samar—seperti bayi menguap di udara: “Terima kasih….” Meski kutukan terangkat, bayangan masa lalu tak akan pernah benar-benar sirna. Dan aku tahu, di balik pintu loteng yang tertutup, jejak tangisan bayi dari loteng akan terus membekas dalam ingatan—sebagai pengingat bahwa arwah yang terlupakan bisa menuntut ditebus selamanya.