Suster bergaun putih melangkah pelan di atas lantai dingin ruang operasi lama, tangannya menggenggam lampu senter yang cahaya kuningnya bergetar. Suster bergaun putih selalu muncul saat semua pintu terkunci, saat hanya kesunyian yang menyelimuti setiap sudut rumah sakit tua itu. Namun, meski ia tampak anggun, ada aura dingin yang merambat, seolah setiap hembusan napasnya mengubah udara menjadi beku.
Tak lama kemudian, bayangan sosoknya menari di dinding, memantulkan siluet jas putih yang basah oleh noda merah. Bahkan ketika lampu senter padam tiba-tiba, kilatan matanya yang kosong menatap lurus, membuat jantung berdegup kencang.
Bayangan di Sudut Ruangan
Seiring langkah kaki terdengar berderit, bayangan suster bergaun putih muncul di balik meja instrumen bedah berkarat. Seketika, bunyi alat bedah yang terjatuh bergema, memperjelas bahwa ia benar-benar hadir. Padahal, ruang operasi itu telah ditutup bertahun-tahun yang lalu. Namun, fenomena itu seakan menantang setiap logika: bila ruangan ini tak pernah digunakan lagi, mengapa jejak kaki basah darah masih tampak jelas?
Meskipun pintu baja terkunci rapat, suara ketukan pelan di jendela kecil menjaga ketakutan tetap hidup. Di detik berikutnya, bayangan itu hilang, seakan ditelan kegelapan, tetapi aroma antiseptik yang tercampur bau anyir darah tetap tertinggal di udara.
Jejak Darah
Tiba-tiba, kantong oksigen di sudut ruangan terbuka sendiri, mengeluarkan desahan lembut. Di tengah detik yang menegangkan itu, sesosok tangan pucat menuliskan jejak darah di dinding: “Tolong aku.” Kata-kata itu mengering, tetapi benar-benar menorehkan lara di hati siapa pun yang membacanya.
Suster bergaun putih sering kali muncul setelah jejak darah tercium oleh siapa saja yang nekat masuk. Jejak itulah yang menuntun langkah mereka, namun sekaligus menjebak mereka dalam pusaran mimpi buruk yang tak berujung.
Bisikan di Kegelapan
Saat lampu senter kembali berfungsi, terdengar bisikan lirih, “Kembalikan jiwaku…” Bisikan itu menggema, membelai telinga, tetapi tak pernah jelas dari mana asalnya. Bahkan ketika seseorang menutup mata, suaranya terus berputar, menjadikan keadaan semakin mencekam. Namun jantung berdegup lebih kencang ketika suara itu berubah menjadi tangisan pilu.
Meskipun pintu ruangan terkunci, kuncinya bergetar seolah ada tangan lain yang mencoba masuk. Lampu ruang operasi berkedip cepat, menciptakan ilusi siluet suster bergaun putih yang menari-nari di antara cahaya remang.
Pertemuan dengan Suster Bergaun Putih
Akhirnya, di ujung lorong panjang, sosok suster bergaun putih berdiri menatap lurus. Wajahnya pucat, rambutnya tergerai basah, dan bibirnya terbuka sedikit, tampak terengah. Begitu dekat, napasnya terasa dingin, menusuk tulang dada siapa pun yang berani mendekat.
“Kenapa kau pergi?” suaranya berderak, menembus keheningan. Suara itu membawa nuansa duka dan amarah. Meskipun tak pernah mengangkat tangan, setiap orang merasakan kekuatan tak kasat mata yang menekan mereka ke lantai dingin.
Pelarian yang Penuh Teror
Dalam sekejap, lorong berubah panjang tak berujung. Pintu-pintu ruang operasi terbuka satu per satu, menampakkan layar operasi yang berlumuran darah kering. Langkah kaki terdengar di belakang, membuat siapa pun yang berlari merasa dikejar bayangan sendiri.
Namun, ketika berbalik, sosok suster bergaun putih tak terlihat. Suara langkah kakinya seolah muncul dari segala arah, memaksa tubuh gemetar ketakutan. Bahkan suara detak jantung terasa terlalu keras, menggema di setiap telinga.
Pengungkapan Mengerikan
Ketika akhirnya pelarian membawa korban ke dalam satu ruang operasi tersembunyi, terpampang cerita lama tentang suster yang mati di meja bedah—korban kesalahan prosedur di malam badai puluhan tahun lalu. Ia dikenal sebagai suster bergaun putih yang selalu menjaga pasien, tetapi justru meninggal tanpa pemakaman layak.
Sejak saat itu, arwahnya terperangkap. Suster bergaun putih tak pernah bisa tenang, terus mencari keadilan, sambil menguji keberanian siapa pun yang menginjak ruang operasi lama. Tiap malam, ia muncul untuk menagih janji kehidupan yang seharusnya menjadi tugasnya.
Akhir yang Membekas
Pada akhirnya, hanya satu cara menghentikan teror: mengubur kembali jenazahnya dengan upacara layak dan memulangkan arwahnya. Namun, upacara itu sulit dilakukan di rumah sakit tua yang hampir roboh.
Meskipun begitu, setiap kali malam tiba, aroma antiseptik dan darah kering tetap menyeruak. Suster bergaun putih pun kembali berkeliling, tanpa lelah, menunggu pertolongan yang mungkin tak pernah datang. Dan bagi siapa saja yang nekat menyelinap ke ruang operasi itu, mereka akan mendengar sapaan dingin: “Selamat datang… Aku menunggumu.”