Suara Tawa Dari Kuburan Cina Palembang Tengah

Suara Tawa Dari Kuburan Cina Palembang Tengah post thumbnail image

Senyum di Antara Batu Nisan

Di tengah hiruk-pikuk kota Palembang, berdiri sebuah kompleks pemakaman tua yang dikenal dengan nama Kuburan Cina Palembang Tengah. Lokasinya diapit rumah-rumah toko yang padat dan jalan yang jarang sepi. Namun, saat malam tiba, tempat itu berubah menjadi wilayah yang dihindari semua orang.

Warga sekitar percaya bahwa di balik ketenangan batu-batu nisan itu, ada sesuatu yang terus hidup. Mereka menyebutnya suara tawa — tawa yang muncul di antara angin malam, terdengar pelan, lalu semakin keras hingga membuat bulu kuduk berdiri.


Kisah Lama Tentang Kutukan

Menurut penuturan warga tua, pada awal abad ke-20 seorang pedagang kaya bernama Tjoa Liang dimakamkan di sana. Ia terkenal kikir dan suka menipu pekerjanya. Setelah kematiannya, makam megah dengan patung singa penjaga didirikan di tengah pemakaman. Namun beberapa bulan kemudian, keluarga Tjoa Liang bangkrut tanpa alasan.

Sejak itu, setiap malam Jumat, orang-orang mendengar suara tawa dari arah makamnya. Kadang terdengar seperti tawa manusia, kadang menyerupai suara perempuan menjerit yang berubah menjadi cekikikan.

“Dia tertawa karena puas melihat keturunan dan hartanya hancur,” ujar Mak Liem, penjaga makam yang sudah tua dan nyaris buta. “Tapi kalau kau dengar tawa itu lebih dari tiga kali, katanya umurmu tak lama.”


Mahasiswa dan Rasa Penasaran

Tiga mahasiswa sejarah dari Palembang, Adit, Rara, dan Imam, tertarik meneliti asal-usul pemakaman tersebut. Mereka ingin membuktikan apakah legenda suara tawa itu hanyalah sugesti.

Sore itu, mereka datang membawa kamera, senter, dan alat perekam suara. Udara di pemakaman terasa lembap, aroma dupa sisa upacara Qing Ming masih tercium. Di antara nisan-nisan berlumut, patung batu singa penjaga terlihat menatap tajam ke arah mereka.

“Bayangkan kalau kita bisa merekam suaranya,” kata Adit sambil tertawa.
Rara menepuk bahunya. “Jangan ngomong sembarangan di tempat begini. Orang bilang arwah di sini sensitif.”

Imam hanya diam, matanya tak lepas dari nisan besar bertuliskan nama Tjoa Liang.


Malam Pertama

Mereka memutuskan bermalam di area makam. Saat malam turun, suhu menurun drastis. Lampu kota yang biasanya terang tampak redup dari balik pagar tinggi pemakaman.

Sekitar pukul sebelas, Rara mendengar sesuatu dari kejauhan. Suara lirih yang terdengar seperti… seseorang tertawa kecil. Ia memandang ke arah Adit dan Imam, tapi keduanya sibuk memeriksa kamera.

Suara itu makin jelas. Heh… heh… heh… — tawa lirih yang panjang, seperti keluar dari tenggorokan yang kering. Rara menelan ludah. “Kalian denger nggak?”

Adit tertawa kecil. “Mungkin dari luar pagar.”

Namun Imam menatap tajam ke arah patung singa penjaga. “Patung itu… barusan gerak,” katanya pelan.

Mereka semua menoleh. Patung batu itu berdiri kaku di bawah sinar bulan. Tapi bayangannya di tanah terlihat berbeda: bayangan itu menunduk, seolah sedang tertawa sambil menutup mulut.


Rekaman yang Hidup

Adit menyalakan alat perekam dan menaruhnya di depan makam Tjoa Liang. “Kalau benar ada suara tawa, kita bisa tangkap bukti,” katanya.

Mereka duduk beberapa meter dari alat itu, menunggu dalam diam. Waktu berlalu lambat, hanya suara jangkrik yang menemani. Hingga tepat tengah malam, dari arah makam terdengar bunyi logam beradu, lalu disusul suara cekikikan pelan.

Rara menggigil. “Itu… dari alat perekam, kan?”

Adit mendekat dengan hati-hati. Lampu senter bergetar di tangannya. Ketika ia melihat layar alat perekam, jarum indikator suara melonjak tinggi tanpa henti. Lalu, terdengar jelas dari speaker kecilnya:

“Aku belum selesai tertawa…”

Alat perekam tiba-tiba panas dan mati. Asap tipis keluar dari lubang baterai. Imam menatap Rara dengan wajah pucat. “Kita harus keluar dari sini.”


Tawa di Telinga

Namun langkah mereka terasa berat. Jalan keluar seperti menghilang. Nisan-nisan di sekitar tampak berpindah posisi. Patung singa batu kini berdiri di belakang mereka, menghadap lurus dengan ekspresi yang tampak berubah.

Suara tawa terdengar lagi, kali ini di telinga kanan Adit. Ia menoleh cepat — tak ada siapa pun. Tapi di sudut matanya, ia melihat bayangan kepala manusia tergantung di ranting pohon beringin, tersenyum lebar tanpa mata.

Rara menjerit. Ia melihat tanah di bawahnya retak, dari celahnya muncul tangan pucat menggenggam dupa yang masih menyala. Asapnya membentuk wajah Tjoa Liang dengan ekspresi menyeringai.

“Kalian datang… untuk menertawakan aku?”

Udara berputar kencang. Daun-daun beterbangan, dan setiap hembusan angin membawa suara tawa yang semakin keras, menggema di seluruh area makam.


Satu Tak Kembali

Pagi hari, warga menemukan dua mahasiswa, Rara dan Imam, pingsan di luar pagar pemakaman. Tubuh mereka penuh lumpur dan abu dupa. Adit tidak ditemukan.

Polisi yang datang hanya menemukan kamera rusak di dekat nisan Tjoa Liang. Ketika diperiksa, di antara rekaman yang terbakar masih ada satu file utuh berdurasi tiga belas detik.

Dalam video itu, terlihat wajah Adit sedang menyorot kamera ke arah makam, lalu di belakangnya muncul sosok kepala lelaki tua dengan mulut menganga. Setelah itu layar bergetar, dan terdengar suara tawa panjang sebelum video berakhir.


Pengakuan Mak Liem

Beberapa hari kemudian, Rara dan Imam mengunjungi Mak Liem. Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Mak Liem memejamkan mata lama sekali sebelum berbicara. “Dulu Tjoa Liang bukan cuma kikir. Dia juga mencuri abu leluhur orang lain untuk dicampur dalam dupa dagangannya. Itulah sebabnya dia dikutuk. Arwahnya tak tenang, dan tawa itu adalah jeritan semua roh yang pernah dia tipu.”

Rara menunduk. “Tapi kenapa hanya Adit yang hilang?”

Mak Liem tersenyum tipis. “Karena dia menertawakan sesuatu yang bukan untuk ditertawakan. Kadang arwah hanya butuh dihormati. Tapi jika manusia berani menghina, mereka akan diajak ikut tertawa… selamanya.”


Kuburan yang Masih Hidup

Beberapa minggu kemudian, polisi menutup akses ke pemakaman. Namun warga yang tinggal di sekitar mengaku sering mendengar suara tawa dari balik pagar setiap malam Jumat.

Kadang terdengar suara langkah kaki di antara batu nisan, lalu diikuti aroma dupa menyengat. Ada pula yang melihat patung singa batu menunduk menghadap ke tanah, padahal sebelumnya berdiri tegak.

Di toko-toko sekitar, beberapa orang mengaku bermimpi didatangi pria berpakaian sutra merah yang meminta mereka menyalakan dupa di depan pintu. Ketika mereka menolak, tawa lirih terdengar dari belakang leher mereka, membuat darah terasa membeku.


Epilog: Tawa yang Tak Pernah Padam

Kini, Kuburan Cina Palembang Tengah tetap berdiri di tengah kota yang sibuk. Namun setiap kali malam turun dan lampu-lampu jalan mulai redup, sebagian orang masih mendengar suara tawa datang dari arah pemakaman.

Kadang pelan, kadang menggema panjang seperti sedang mengejek dunia hidup. Warga yang peka mengatakan bahwa tawa itu bukan sekadar suara, melainkan panggilan dari mereka yang tak pernah benar-benar mati.

Di bawah sinar bulan, batu nisan Tjoa Liang memantulkan cahaya samar, dan dari bayangannya tampak senyum panjang seorang lelaki tua — senyum yang menunggu seseorang baru untuk diajak tertawa bersama.

Berita & Politik : Netralitas TNI-Polri di Tahun Politik Kembali Dipertanyakan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post