Malam yang Tak Pernah Tenang
Di sebuah desa kecil di lereng gunung, berdiri sebuah pohon beringin tua yang konon telah berumur ratusan tahun. Warga menyebutnya “Pohon Penunggu.” Letaknya di tepi jalan dekat sungai kecil, dan setiap kali malam tiba, suasana di sekitar pohon itu berubah mencekam.
Warga sering mendengar tangisan anak yang terdengar lirih di bawah pohon tersebut. Suara itu terdengar seolah datang dari jarak dekat, namun tak seorang pun bisa menemukan sumbernya. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa suara itu milik arwah seorang anak kecil yang hilang puluhan tahun lalu — dan sampai kini belum ditemukan.
Awal dari Sebuah Kejadian
Semua berawal dari kisah seorang ibu bernama Sarmi yang kehilangan putranya, Danu, pada tahun 1987. Danu, bocah laki-laki berusia tujuh tahun, terakhir terlihat bermain layangan di dekat pohon beringin itu saat sore hari. Setelah senja tiba, Danu tak pernah pulang.
Pencarian dilakukan selama berhari-hari. Warga menyisir sungai, ladang, hingga hutan kecil di belakang desa. Namun hasilnya nihil. Yang mereka temukan hanyalah layangan biru robek tersangkut di akar pohon beringin besar itu. Sejak malam setelah pencarian dihentikan, warga mulai mendengar suara tangisan samar.
“Ma… aku di sini…” begitu kata beberapa orang yang mengaku mendengarnya.
Sejak saat itu, tak ada yang berani lewat di dekat pohon beringin setelah magrib.
Kepala Dusun yang Tak Percaya
Beberapa dekade kemudian, seorang kepala dusun baru bernama Pak Warto memutuskan untuk membuktikan bahwa suara itu hanyalah ilusi. Ia dikenal keras kepala dan tidak mempercayai hal gaib.
“Jangan biarkan anak-anak takut dengan cerita nenek-nenek!” katanya sambil menertawakan warga.
Pada malam Jumat Kliwon, Pak Warto membawa senter dan duduk di bawah pohon beringin sendirian. Ia menunggu, menatap gelap di sekelilingnya. Angin malam bertiup lembut, membuat dedaunan bergemerisik. Awalnya tenang, hingga perlahan suara isak tangis anak kecil terdengar dari arah akar pohon.
Tangisan itu semakin jelas, seolah seorang anak sedang menangis di dekat kakinya.
“Siapa di sana?” teriak Pak Warto, mencoba berani.
Namun jawabannya bukan suara manusia, melainkan bisikan lirih di telinganya:
“Pak… tolong… Danu kedinginan…”
Senter di tangannya tiba-tiba padam. Ia meraba-raba gelap, namun mendadak sebuah tangan kecil dingin menggenggam tangannya. Seketika tubuhnya kaku, dan pandangannya menjadi gelap.
Keesokan paginya, warga menemukannya tergeletak di bawah pohon beringin dengan wajah pucat dan mata terbuka lebar. Ia masih hidup, tapi tidak bisa berbicara. Sejak malam itu, Pak Warto hanya menatap kosong setiap kali melewati pohon tersebut.
Suara yang Semakin Nyata
Beberapa hari kemudian, warga mulai mendengar suara tangisan lebih sering. Kali ini, bukan hanya satu suara, melainkan dua. Kadang terdengar di antara desir angin, kadang seperti langkah kaki kecil berlari di tanah basah.
Seorang remaja bernama Rina sempat merekam suara itu dengan ponselnya. Dalam rekaman terdengar jelas suara anak kecil menangis, lalu diikuti suara perempuan berbisik,
“Sudah, Nak… sini sama Ibu…”
Ketika Rina memutar ulang rekaman itu di rumah, ibunya langsung pingsan. Pasalnya, suara perempuan dalam rekaman terdengar sangat mirip dengan suara mendiang Bu Sarmi, ibu Danu, yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.
Cerita dari Penjaga Makam
Penjaga makam desa, Pak Seno, mengaku sering melihat sosok kecil bermain di sekitar pemakaman dekat pohon beringin itu. Sosok tersebut terlihat dari jauh, berlari di antara nisan sambil membawa layangan robek. Namun ketika didekati, sosok itu menghilang begitu saja, meninggalkan aroma tanah basah dan suara tertawa pelan.
Pak Seno juga bercerita, setiap menjelang tengah malam, muncul bayangan perempuan berambut panjang berdiri di dekat beringin. Kadang ia tampak membelai udara kosong, seolah sedang menidurkan seseorang.
“Yang bikin saya takut, kadang saya dengar dua-duanya — si ibu nyanyi, si anak nangis,” katanya pelan.
Ritual Pembersihan
Warga desa akhirnya memutuskan untuk melakukan ritual ruwatan di bawah pohon beringin. Seorang dukun tua dari desa sebelah datang untuk memimpin upacara. Ia membawa dupa, bunga tujuh rupa, dan kendi berisi air sungai.
Ritual dimulai saat malam turun. Dukun itu menabur bunga di sekitar akar pohon, lalu menyalakan dupa. Bau harum bercampur dengan aroma tanah lembap. Saat mantranya mulai dibacakan, angin tiba-tiba berhembus sangat kencang, membuat daun-daun beringin bergoyang liar.
Tiba-tiba terdengar tangisan keras dari dalam batang pohon, seperti suara anak kecil yang sedang menjerit ketakutan. Semua warga mundur ketakutan, kecuali sang dukun.
“Pergilah dengan tenang, Nak… ibumu menunggu di sana…” ucap sang dukun.
Tak lama kemudian, suara tangisan itu perlahan menghilang, digantikan dengan suara lembut seperti bisikan, “Terima kasih…”
Namun setelah ritual berakhir, sang dukun jatuh pingsan dan baru sadar tiga hari kemudian. Ia hanya berkata singkat, “Mereka sudah pergi… tapi pohon itu masih dijaga.”
Kejadian Baru
Beberapa tahun berlalu, desa mulai tenang. Jalan di dekat pohon beringin kini diterangi lampu, dan anak-anak kembali bermain di sekitar sana pada siang hari. Namun kedamaian itu tidak bertahan lama.
Pada tahun 2023, seorang pengemudi ojek daring melaporkan kejadian aneh. Ia melewati jalan itu sekitar pukul dua dini hari dan melihat seorang anak kecil berdiri di tengah jalan, menangis sambil memegang layangan biru. Saat ia turun untuk menolong, anak itu berlari ke arah pohon beringin dan menghilang begitu saja.
Paginya, pengemudi itu jatuh sakit tanpa sebab. Ia mengaku setiap malam mendengar suara tangisan anak di depan rumahnya.
Misteri yang Tak Pernah Padam
Hingga kini, tangisan anak di bawah pohon beringin masih menjadi misteri bagi warga desa. Beberapa percaya itu hanyalah gema masa lalu, sementara yang lain meyakini arwah Danu dan ibunya belum benar-benar tenang.
Banyak yang mengatakan bahwa pohon beringin besar itu adalah “gerbang” antara dunia manusia dan dunia roh. Setiap kali seseorang melintasi jalan itu dan mendengar tangisan, mereka disarankan untuk tidak menoleh. Sebab siapa pun yang mencoba mencari sumber suara itu, konon akan kehilangan arah dan tidak bisa pulang hingga fajar tiba.
Malam yang Sama
Suatu malam, seorang pendatang baru bernama Adi yang baru menetap di desa itu memutuskan untuk melewati jalan beringin karena ingin jalan pintas menuju rumah. Ia mendengar cerita warga, tapi tidak mempercayainya.
Saat melewati pohon itu, ia mendengar tangisan lirih, suara tangisan anak kecil. Penasaran, ia menoleh ke arah akar pohon. Di sana, tampak seorang anak kecil duduk membelakangi, bahunya bergetar karena menangis.
Adi mendekat dan bertanya pelan, “Nak, kamu kenapa?”
Anak itu berhenti menangis, lalu perlahan menoleh. Wajahnya pucat tanpa mata, hanya dua lubang hitam menganga. Ia tersenyum dan berkata, “Aku sudah menunggumu…”
Sejak malam itu, Adi tak pernah terlihat lagi.
Namun warga sering mendengar dua suara tangisan sekarang — satu suara anak kecil, satu lagi suara laki-laki dewasa. Keduanya terdengar di bawah pohon beringin, setiap malam Jumat Kliwon.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua kehilangan bisa dijelaskan dengan logika. Ada luka yang tetap tinggal di tempatnya, berdiam di antara akar dan bayangan, menunggu seseorang untuk mendengarkan suara tangisan anak yang tak pernah berhenti memanggil dari dunia lain.
Food & Traveling : Tempat Makan Legendaris yang Masih Bertahan Sejak 1950