Awal yang Mengusik
Tiba-tiba, senyap malam pecah oleh suara ketukan dari dalam peti mati di ruang bawah tanah. Kukira itu hanyalah derit papan kayu tua; namun semakin saya mendekat, ketukan itu kian teratur, seolah ada yang berusaha memanggil. Jantungku berdegup tak karuan. Kulihat pintu besi yang mengarah ke ruang penyimpanan barang lama—di baliknya, rahasia paling mengerikan menanti.
Penemuan yang Mencekam
Lampu senterku menari di dinding lembap, menyorot serakan kayu lapuk dan kain kafan kusam. Setiap detik, suara ketukan dari dalam peti mati menggema, merambat melalui lantai semen. Dalam kegelapan, aku menemukan tiga peti tua—satu kayu jati penuh ukiran aneh, satu besi berkarat, dan satu lagi setengah terkubur. Ketukan berasal dari yang terkubur. Tangan gemetar, kupaksa membuka penutup peti.
Kebingungan dan Ketakutan
Saat penutup terangkat sedikit, udara dingin menubruk wajahku. Bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih busuk menyeruak. Papan kayu terbuka perlahan, dan aku menyaksikan palu kecil mengetuk. Tidak ada mayat di dalam—hanya kesunyian yang bergerak. Namun, suara ketukan dari dalam peti mati tak berhenti. Jiwaku berontak, menyadari bahwa sesuatu yang hidup atau mati mencoba keluar.
Bisikan dari Kedalaman
Dengan hati-hati, aku menunduk, menjerit menahan gemetar. Dalam kegelapan, terdengar bisikan halus, “Bebaskan aku…” Setiap kata mengiris kesadaran. Suara itu bukan milikku. Suara itu bukan milik manusia. Ketukan berubah ritme—lebih cepat, lebih kuat—seakan memaksa. Aku berusaha menahan diri, namun langkah kakiku tertuju pada obor dekat tembok.
Bayangan yang Muncul
Ketika obor menyala, cahaya oranye menolak gulita. Di dalam peti, sebuah bayangan menjulur keluar: tangan pucat dengan kuku panjang. Tubuhnya setengah tenggelam di tanah. Suara ketukan dari dalam peti mati kini berpadu dengan detak jantungku yang memekik. Bayangan itu menatapku dengan mata yang kosong, lalu menarik diri perlahan, menunggu aku mengulurkan tangan.
Pertarungan Jiwa
Aku lari terbirit menuju tangga sempit. Namun setiap langkah menimbulkan gema—ketukan berganda beradu di antara dinding batu. Semakin jauh, semakin jelas aku merasakan tatapan dingin mengikuti. Tangisan pelan mengiringi langkahku, membisikkan kata akhir kehidupan. Aku hampir terjatuh kala mendengar pintu bawah tanah terkunci sendiri, mengurungku dalam gema maut.
Pelarian Sang Buruh Malam
Dengan segenap nyali, aku mengayun pintu besi hingga terbuka. Angin malam menerpa, menyingkirkan bau kematian. Namun suara ketukan dari dalam peti mati masih terngiang, mengiringi pelarianku ke halaman belakang. Embun menetes di dedaunan, menambah aura menyeramkan. Aku terus berlari, merasakan bahwa bayangan itu mengikutiku, menolak dikubur lagi.
Jejak yang Terakhir
Kembali ke rumah, aku mengunci segala pintu dan jendela. Namun di dalam kamarku, di bawah ranjang, kupandangi sebuah palu kecil—sama persis yang mengetuk peti tadi. Tangan gemetar memungutnya. Saat kubaringkan diri, terdengar ketukan halus di kepala ranjang. Kepalaku menoleh perlahan, dan di sudut ruangan, bayangan pucat mengintai.
Akhir yang Teror
Malam itu, aku tak dapat tidur. Suara ketukan dari dalam peti mati berpindah ke dalam kepalaku sendiri—setiap ketukan adalah peringatan bahwa ia masih hidup. Kegelapan menelan seluruh kamar, lalu terasa tubuhku tertarik ke luar. Tangan halus menggenggam pergelangan, memaksa jiwa minggat. Dalam jeritan tanpa suara, kuterjatuh dari kasur—mataku terbuka lebar menatap langit-langit kamar sebelum semuanya padam.
Epilog Kelam
Sejak kejadian itu, aku selalu mendengar ketukan ritmis di malam hari. Setiap kali lampu padam, suara ketukan dari dalam peti mati kembali menguji batas kewarasan. Aku menulis kisah ini sebagai peringatan: jangan pernah menggali rahasia yang tersembunyi di bawah tanah, karena mereka akan menggali balik ke dalam jiwa.
Food & Traveling : Trip Murah Meriah 5 Hari 5 Malam ke Korea