Awal Kisah di Kampung Cikidang
Kampung Cikidang di Jawa Barat terkenal dengan suasana pedesaan yang tenang, dikelilingi sawah dan hutan yang masih asri. Namun di balik keindahan itu, ada satu kisah kelam yang membuat bulu kuduk warga berdiri: senandung lagu seram yang dipercaya sebagai kutukan makhluk halus.
Orang-orang tua di kampung sering memperingatkan, “Jangan pernah bersenandung di malam hari di dekat sungai atau hutan. Kalau suara itu dibalas, tandanya kau dipanggil.” Banyak yang menganggapnya sekadar mitos, tapi ada juga yang bersumpah pernah mendengar suara itu sendiri.
Malam Pertama yang Menyeramkan
Dewi, seorang mahasiswi yang sedang melakukan penelitian budaya di Cikidang, menolak mempercayai mitos. Ia justru tertarik menelusuri cerita tentang senandung itu. Bersama temannya, Arif dan Santi, ia memutuskan bermalam di rumah salah satu warga tua bernama Mak Iti.
Malam itu, udara terasa dingin menusuk. Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik bersahutan. Dewi sengaja berjalan ke dekat sungai kecil di belakang kampung. Ia mulai bersenandung pelan, mencoba lagu daerah Sunda. Namun tiba-tiba, suara lain membalas, lembut tapi sangat menyeramkan, seolah datang dari dalam air.
“Arif… kamu dengar?” bisik Dewi dengan wajah pucat.
Arif mengangguk, wajahnya ketakutan. Senandung itu makin jelas, kini terdengar seperti suara perempuan menangis diiringi melodi aneh.
Kutukan yang Menyebar
Setelah peristiwa itu, ketiganya kembali ke rumah Mak Iti. Namun malam itu mereka tak bisa tidur. Senandung lagu seram masih terdengar samar, seakan mengikuti mereka hingga ke dalam rumah.
Mak Iti berkata dengan nada serius, “Kalian sudah memanggil sesuatu. Suara itu bukan manusia. Itu suara arwah perempuan yang mati tenggelam di sungai ini puluhan tahun lalu. Ia dikutuk untuk terus bernyanyi, menjerat siapa pun yang berani menantang.”
Dewi merinding. Dadanya sesak karena merasa bersalah. Tetapi rasa penasarannya justru semakin besar.
Sosok Perempuan di Sungai
Malam berikutnya, Dewi nekat kembali ke tepi sungai. Kali ini ia membawa perekam suara. Saat ia mulai bersenandung, suara perempuan itu langsung membalas, lebih keras daripada sebelumnya. Dari kegelapan, muncul sosok samar perempuan berbaju putih lusuh dengan rambut panjang terurai, wajahnya pucat tanpa mata.
Santi menjerit, menarik Dewi menjauh. Namun Dewi terpaku, seakan terhipnotis. Sosok itu perlahan melayang ke permukaan sungai, mengulurkan tangannya, seakan ingin mengajak Dewi ikut.
Arif berteriak keras, membacakan doa. Sosok itu lenyap seketika, tetapi suara senandung masih terus bergema di telinga mereka.
Misteri Asal Usul Senandung
Esok harinya, Mak Iti menceritakan asal mula senandung lagu seram itu. Puluhan tahun lalu, seorang penari ronggeng bernama Nyi Ratna jatuh cinta pada pemuda desa. Sayangnya, cintanya ditolak. Dalam keputusasaan, ia berjalan ke sungai sambil menyanyikan tembang lirih, lalu menenggelamkan diri.
Sejak hari itu, setiap malam tertentu, warga sering mendengar senandung perempuan di sekitar sungai. Orang yang menanggapi atau membalas suaranya biasanya jatuh sakit, hilang akal, bahkan ada yang hilang tanpa jejak.
“Arwahnya terkutuk,” kata Mak Iti lirih. “Ia mencari pengganti agar bisa bebas. Dan kini, ia sudah menandai kalian.”
Teror di Rumah Warga
Malam ketiga, teror semakin menjadi. Senandung itu bukan hanya terdengar di sungai, tapi juga di dalam rumah. Pintu berderit terbuka sendiri, angin dingin masuk, dan selendang putih tergantung di tiang rumah tanpa ada yang tahu dari mana asalnya.
Dewi bangun dari tidurnya, tubuhnya bergetar. Ia mendengar suara memanggil namanya dengan nada nyanyian. “Dewiiiii…”
Arif dan Santi juga terbangun, wajah mereka pucat pasi. Mereka melihat bayangan perempuan di sudut ruangan, perlahan mendekat sambil bersenandung.
Mak Iti segera membakar kemenyan dan membaca doa-doa. Bayangan itu lenyap, tapi suara senandungnya masih mengambang di udara hingga fajar.
Ritual Pembersihan
Warga desa akhirnya sepakat melakukan ritual pembersihan. Para sesepuh berkumpul di tepi sungai, membawa sesajen, bunga, dan dupa. Dewi diminta untuk hadir, karena ia sudah berhubungan langsung dengan arwah itu.
Saat ritual berlangsung, suara senandung kembali terdengar. Lebih keras, lebih menyayat hati. Air sungai beriak seolah ada sesuatu yang bergerak di bawahnya. Dari permukaan, sosok Nyi Ratna muncul, matanya kosong, suaranya menggelegar.
Para sesepuh berdoa keras, membacakan mantra. Dewi berteriak, merasa dadanya sesak seakan ada yang menarik jiwanya keluar. Santi memeluknya erat, sementara Arif membantu sesepuh menaburkan bunga ke sungai.
Tiba-tiba, suara senandung berhenti. Sosok perempuan itu menatap Dewi dengan sorot mata hampa, lalu tenggelam kembali ke dalam sungai.
Akhir yang Tak Benar-Benar Berakhir
Setelah ritual itu, suasana kampung kembali tenang. Warga percaya arwah Nyi Ratna sudah diredam untuk sementara. Namun Dewi tahu, kutukan itu belum benar-benar berakhir.
Setiap kali ia menutup mata, senandung itu masih terdengar, lirih namun jelas, seakan menyanyi hanya untuknya. Kadang-kadang, ia melihat selendang putih tergantung di jendela kamarnya meski ia sudah kembali ke kota.
Kutukan itu kini mengikutinya, dan mungkin suatu hari, Nyi Ratna akan datang menjemput.
Lifestyle : Cafe Hopping dan Remote Work Jadi Kombinasi Favorit