Suara dari Dalam Sumur
Malam di Desa Batu Beleq, Lombok, selalu tenang, hingga suatu waktu suara tangisan terdengar dari arah sumur tua di belakang balai desa. Awalnya hanya samar, tetapi lama-kelamaan suaranya menjadi jelas, seperti seseorang yang memanggil dari dasar air. Warga yang mendengar mengaku bulu kuduk mereka berdiri.
Sumur itu sudah lama tidak digunakan. Menurut cerita, dahulu tempat itu menjadi sumber air utama warga. Namun setelah seorang gadis remaja bernama Sari ditemukan tewas tenggelam di dalamnya lima belas tahun lalu, tak ada lagi yang berani mendekat.
Suatu malam, Rano—pemuda yang baru pindah ke desa itu—tak sengaja mendengar cerita tentang sumur terkutuk. Karena rasa penasarannya besar, ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri asal suara tersebut. Meskipun warga sudah memperingatkannya, ia tetap bersikeras, merasa semua hanyalah mitos.
Langkah Pertama ke Sumur Terkutuk
Pada malam Jumat Kliwon, Rano membawa senter dan kamera. Ia melangkah melewati kebun bambu yang mengarah ke sumur tua. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah dan bunga melati layu. Sementara itu, bulan purnama menggantung pucat di langit, menyoroti jalan setapak berlumut.
Begitu tiba di sana, ia menyorotkan senter ke arah sumur. Permukaannya dipenuhi daun kering, namun air di dalamnya tampak berkilau, seolah memantulkan cahaya mata bulan. Rano mendekat perlahan. Tiba-tiba, dari dalam sumur terdengar bunyi cipratan air kecil, lalu suara lembut memanggil, “Tolong aku…”
Rano berhenti. Suara itu terdengar jelas, seolah datang dari bawah tanah. Ia menatap permukaan air lagi, namun tidak ada siapa pun. Hanya bayangannya sendiri yang terpantul di air gelap itu.
Penjaga Desa yang Mengetahui Rahasia
Keesokan paginya, Rano menemui seorang tetua desa bernama Mak Diah. Ia ingin tahu asal usul sumur itu. Dengan mata sayu, perempuan tua itu menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Sumur itu bukan sekadar tempat air, Nak,” katanya. “Itu peninggalan dari masa kerajaan lama. Dulu, di bawahnya ada terowongan menuju sungai bawah tanah. Banyak orang hilang karena arusnya kuat. Sari… gadis yang meninggal itu, bukan jatuh. Dia diseret sesuatu dari dalam.”
Rano merinding mendengarnya. Namun karena pikirannya logis, ia menganggap semua itu hanya takhayul yang berkembang di desa. Walau begitu, sebagian dirinya mulai merasa curiga bahwa kisah itu mungkin tidak sepenuhnya bohong.
Malam yang Penuh Tanda
Malam berikutnya, Rano memutuskan untuk kembali. Ia menyiapkan tali panjang agar bisa menuruni bagian dalam sumur tua. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis turun, dan suara jangkrik seakan berhenti mendadak begitu ia tiba di lokasi.
Sebelum turun, ia menyalakan senter dan kamera. “Kalau memang ada yang di bawah sana, aku ingin tahu kebenarannya,” gumamnya.
Namun begitu ia menuruni beberapa meter, senter tiba-tiba mati. Suara dari bawah berubah menjadi gemericik air dan bisikan halus yang berulang-ulang memanggil namanya. Ketika ia mencoba menyalakan senter kembali, ia melihat bayangan putih mengambang di permukaan air di bawahnya.
Sosok itu perlahan menatap ke atas—wajah pucat dengan rambut panjang basah menempel di kulit. Matanya kosong, tetapi bibirnya bergerak pelan, seolah berbicara tanpa suara.
Mayat Gadis Basah Itu Hidup
Rano berusaha naik kembali, tetapi tali di tangannya terasa licin dan basah seperti dilumuri lumpur. Lalu sesuatu memegang pergelangan kakinya dari bawah. Ia berteriak dan menendang sekuat tenaga, namun genggaman itu semakin erat.
Dalam keputusasaan, ia menatap ke bawah. Sosok gadis itu kini berdiri di permukaan air, rambutnya menutupi sebagian wajah. Air terus menetes dari tubuhnya, menciptakan lingkaran kecil di sekitar kakinya.
“Kenapa kau turun?” bisiknya. Suaranya terdengar pelan tapi menusuk.
Rano tak sempat menjawab. Tiba-tiba, wajah pucat itu mendongak, dan dari matanya mengalir darah hitam pekat. Dalam sekejap, seluruh permukaan air bergolak seperti mendidih, dan tali yang ia pegang putus. Tubuhnya jatuh, menembus air dingin yang terasa seperti diselimuti tangan-tangan tak terlihat.
Bangun dari Mimpi yang Nyata
Beberapa jam kemudian, Rano terbangun di dekat sumur. Tubuhnya basah kuyup, dan di sekelilingnya ada bekas lumpur seperti seseorang menyeretnya keluar. Ia tidak ingat bagaimana bisa kembali ke permukaan. Namun di tangannya, tergenggam sehelai rambut panjang dan basah.
Sejak malam itu, Rano mulai sering mendengar bisikan saat tidur. Kadang terdengar seperti seseorang yang menangis di telinganya. Setiap kali ia menatap cermin, ia melihat bayangan gadis berambut panjang berdiri di belakangnya.
Ia mencoba pergi dari desa, tetapi setiap kali melangkah keluar gerbang, hujan turun deras dan jalanan tertutup kabut. Mak Diah datang menemuinya, berkata dengan nada lirih, “Dia sudah memilihmu. Sekarang kau terikat dengan sumur itu.”
Kembali ke Dasar Sumur
Beberapa hari kemudian, warga menemukan Rano berdiri di tepi sumur tua, menatap air tanpa ekspresi. Mereka memanggilnya, namun ia tidak menjawab. Perlahan, tubuhnya melangkah ke bibir sumur, dan sebelum sempat dicegah, ia terjun ke dalam air hitam itu.
Warga panik, berusaha menurunkan tali dan bambu. Namun ketika ditarik, tali itu hanya membawa gumpalan rambut basah dan potongan baju yang masih baru. Air di dalam sumur berubah keruh, lalu memantulkan dua bayangan: seorang pria dan seorang gadis, berdiri berdampingan di bawah air.
Sejak kejadian itu, sumur tua kembali ditutup dengan batu besar. Namun, setiap malam Jumat, terdengar dua suara memanggil bersamaan dari dalamnya—satu suara perempuan menangis, dan satu suara laki-laki memohon ampun.
Legenda yang Tak Pernah Reda
Kini, sumur tua di Desa Batu Beleq menjadi pantangan bagi siapa pun. Warga selalu menyalakan dupa setiap bulan purnama di dekatnya agar arwah di bawah sana tidak keluar. Meski begitu, terkadang ada pendatang yang nekat datang untuk membuktikan cerita itu hanyalah legenda.
Namun mereka yang datang setelah tengah malam sering pulang dengan wajah pucat. Sebagian mendengar suara air bergolak tanpa sebab, sebagian lagi mengaku mencium aroma melati basah dari arah sumur. Beberapa bahkan melihat tangan putih muncul dari sela batu penutup.
Dan konon, jika seseorang memanggil nama “Sari” di depan sumur itu, air di dalamnya akan bergerak pelan, lalu dari dasar muncul bayangan gadis basah dengan mata terbuka lebar—menunggu seseorang baru untuk menemaninya di dasar air yang abadi.
Berita & Politik : Netralitas TNI-Polri di Tahun Politik Kembali Dipertanyakan