Malam Pertama di Bangsal Lama
Malam itu, angin lembap dari arah sawah menampar pelan wajah Arta ketika ia turun dari ojek di depan gerbang Rumah Sakit Jiwa Klungkung. Lampu taman berkelip lemah, sementara bangunan utama berdiri redup seperti bayangan raksasa yang menahan napas. Sebagai perawat baru, ia seharusnya merasa bersemangat, namun langkahnya justru ragu ketika melewati pos keamanan dan memasuki area yang disebut para staf sebagai koridor jiwa.
Sejak orientasi siang tadi, para perawat senior sudah berbisik-bisik tentang lorong di sayap timur. Menurut mereka, koridor jiwa adalah jalur penghubung antara bangsal pasien kronis, ruang isolasi, dan gudang obat lama yang sudah jarang dipakai. Karena letaknya agak terpisah, lorong itu sering sepi saat malam. Walaupun begitu, para petugas jaga mengaku lebih suka memutar sedikit lebih jauh daripada harus lewat sana sendiri.
Arta tertawa gugup ketika mengingatnya. Ia menganggap cerita itu hanya cara senior menguji mental perawat baru. Namun, begitu pintu menuju sayap timur berdecit pelan, hawa dingin menyusup dari dalam, berbeda dari dingin AC. Udara di koridor jiwa terasa berat, mengandung campuran bau obat, disinfektan, dan sesuatu yang apek seperti kain basah yang disimpan terlalu lama.
Peringatan dari Rekan Jaga Malam
Sebelum jam jaga dimulai, Arta sempat duduk di ruang perawat bersama dua rekan senior: Luh dan Beni. Mereka sedang memeriksa daftar pasien ketika listrik di ruangan berkedip sebentar. Meskipun gangguan itu singkat, Luh langsung menoleh ke jam dinding dan menarik napas dalam.
“Kalau nanti jam dua sampai tiga pagi, usahakan jangan sendirian di koridor jiwa,” kata Luh pelan. “Kalau memang harus lewat, jangan berhenti, jangan menoleh kalau dengar ada yang manggil.”
Arta mengerutkan kening. Ia bertanya kenapa, tetapi Beni hanya tersenyum hambar. Menurutnya, dulu pernah ada pasien yang hilang tanpa jejak di lorong itu. Pasien itu dikenal tenang, walau punya riwayat halusinasi. Suatu malam, ia minta izin ke kamar mandi, lalu tidak pernah kembali. Kamera CCTV di ujung lorong menunjukkan sosoknya berjalan pelan, lalu menghilang di tengah frame, seolah disapu karet penghapus raksasa.
“Sejak itu,” tambah Beni, “kadang ada suara sandal pasien menyeret di lantai keramik, padahal semua pasien sudah tidur atau terikat rapi. Kadang ada bayangan lewat di dinding, padahal lampu lagi mati.”
Arta berusaha tersenyum dan mengatakan ia tidak mudah takut. Namun, kata-kata itu terasa kosong ketika bayangan lorong panjang di ujung ruangan seakan memanjang sendiri, menunggu.
Langkah Pertama di Tengah Shift
Shift malam berjalan biasa selama beberapa jam. Arta memeriksa tekanan darah pasien, mengganti infus, dan mencatat kondisi di lembar observasi. Walaupun begitu, menjelang pukul dua dini hari, aktivitas rumah sakit melambat drastis. Hanya suara kipas, bunyi halus alat monitor, dan hembus napas pasien yang tersisa.
Saat itu, Beni meminta Arta mengantar obat tambahan ke ruang isolasi timur. Karena jalurnya paling cepat melewati koridor jiwa, ia tidak punya banyak pilihan. Sementara itu, Luh sedang sibuk menangani pasien yang gelisah di bangsal lain. Arta menenteng nampan obat dan senter kecil untuk berjaga-jaga jika lampu lorong redup.
Begitu ia melangkah masuk, lampu neon di langit-langit berdesis pelan. Cahaya putih pucat tumpah di lantai, menciptakan pantulan memanjang dari tiang penyangga dan kursi roda tua yang diparkir di sisi dinding. Di satu sisi, deretan jendela kecil menghadap ke halaman belakang yang gelap. Di sisi lain, pintu-pintu tertutup rapat dengan label pudar.
Arta mencoba menjaga napas tetap teratur. Namun, setiap kali kakinya menjejak keramik, gema langkahnya terdengar terlalu keras, seolah lorong itu kosong sejak lama dan baru kali ini merasakan keberadaan manusia lagi.
Ketika Langkah Balasan Muncul
Di tengah lorong, Arta mulai menyadari sesuatu yang mengganggu. Suara “tap… tap… tap…” dari sepatunya memang teratur, tetapi ada bunyi lain di sela-selanya. Suara itu lebih pelan, lebih berat, dan sedikit diseret, mirip langkah seseorang yang memakai sandal rumah sakit.
Ia berhenti. Seketika, suara itu juga berhenti.
Lorong menjadi hening. Namun, keheningan itu justru membuat telinga Arta berdenging. Dengan hati-hati, ia melangkah kembali. Kali ini, ia sengaja memperlambat langkah untuk memastikan. Begitu sepatunya menyentuh lantai, suara balasan datang lagi, setengah detik terlambat, seperti echo yang salah tempo.
Arta menelan ludah. Senter di tangannya bergetar sedikit ketika ia menaikkan cahayanya ke dinding. Di sana, di antara bayangan tiang dan kursi roda tua, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada: bayangan kaki lain yang bergerak seirama dengannya, padahal tidak ada tubuh fisik di sampingnya.
Bayangan itu tampak seperti kaki telanjang dengan ujung celana pasien rumah sakit. Setiap kali ia melangkah, bayangan itu ikut bergeser, kadang setengah langkah di belakang, kadang sejajar, seakan mencoba mengejar posisi yang tepat.
Ruang Isolasi dan Pasien yang Tidak Tercatat
Dengan memaksa diri, Arta mempercepat langkah ke ruang isolasi. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan meski tahu pasien di dalam mungkin sedang tidur. Ia masuk setelah membuka kunci kode. Ruangan kecil itu hanya berisi satu ranjang besi, satu lemari kecil, dan jendela kecil dengan jeruji.
Pasien di ranjang tampak pulas, dengan tangan terikat longgar di samping tubuh. Monitor menunjukkan detak jantung stabil. Arta memeriksa identitas di ujung ranjang: nama yang tertera cocok dengan daftar pasien malam itu. Ia mengganti cairan infus, mencatat jam pemberian obat, lalu menoleh ke rak catatan di samping pintu.
Di sana, ia menemukan map tebal berdebu tanpa label jelas. Karena penasaran, ia membuka pelan. Isinya membuat bulu kuduknya meremang. Map itu berisi catatan lama tentang seorang pasien yang hilang, dengan catatan observasi yang berhenti tiba-tiba pada tanggal tertentu. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan terburu-buru:
“Sering terdengar langkah di koridor jiwa meski semua pasien sudah terkunci. Pasien A berkata ia diajak ‘jalan malam terakhir’ oleh seseorang yang tidak terlihat.”
Sementara itu, dari arah lorong, suara langkah menyeret kembali terdengar, kali ini lebih dekat ke pintu.
Panggilan Nama di Ujung Lorong
Arta menutup map itu cepat dan menaruhnya kembali. Ia keluar dari ruang isolasi, berusaha mengatur ekspresi agar tetap tenang. Namun, begitu pintu tertutup di belakangnya, lampu di koridor jiwa berkedip dua kali, lalu kembali stabil.
Lorong terlihat sama seperti sebelumnya, tetapi udara terasa lebih dingin. Saat ia hendak melangkah pergi, suara pelan memanggil namanya.
“Ar…ta…”
Suara itu serak, namun jelas, seolah seseorang berbisik tepat di telinganya dengan jarak sangat dekat. Padahal, ketika ia menoleh cepat ke kiri dan kanan, tidak ada siapa pun di sana. Jantungnya berdegup kencang.
“Arta…” suara itu datang lagi, kali ini dari ujung lorong yang lebih dekat ke bangsal lama. “Temani jalan… sekali saja…”
Kata-kata itu menggema tidak wajar, seperti diseret dari satu ujung ke ujung lain. Di dinding, bayangan kaki itu kini tampak lebih jelas, dan di atasnya mulai terbentuk siluet tubuh kurus dengan kepala sedikit miring. Walaupun wajahnya belum tampak, postur itu menggigil pelan, seolah kedinginan yang tidak pernah reda.
Bangsal Lama yang Sudah Ditutup
Keesokan harinya, Arta mencoba bertanya pada Luh tentang catatan pasien hilang yang ia temukan. Luh menghela napas dan menjelaskan bahwa dulu, sebelum renovasi, RS Jiwa Klungkung memiliki bangsal lama di ujung koridor jiwa. Bangsal itu kini sudah ditutup karena dianggap tidak layak pakai.
Pasien yang hilang tersebut kabarnya sering bercerita bahwa ia mendengar langkah-langkah yang tidak didengar orang lain. Ia menyebut lorong itu sebagai “jalan pulang” bagi mereka yang terlalu lama dipasung. Bahkan, ia kadang terlihat bicara sendiri sambil menoleh ke sudut-sudut kosong di koridor.
Suatu malam, ia meminta izin ke kamar mandi. Perawat jaga kala itu sudah terlalu lelah untuk mengantar. Mereka hanya mengawasi lewat CCTV. Kamera menunjukkan pasien berjalan pelan, lalu berhenti di tengah lorong. Sesaat kemudian, bayangan lain muncul di dinding, menggandeng bayangannya. Setelah itu, gambarnya bergetar dan menghilang.
“Sejak kejadian itu,” kata Luh, “bangsal lama di ujung sana dikosongkan. Namun, suara langkah di koridor jiwa justru makin sering terdengar.”
Shift Terberat dan Pasien Baru yang Peka
Malam berikutnya, hujan turun deras. Suara air yang menghantam atap membuat suasana semakin sesak. Rumah sakit tampak lebih suram, meski lampu-lampu tetap menyala. Arta mendapat tugas jaga dekat bangsal kronis, sementara Luh sibuk di IGD dan Beni menangani administrasi.
Di sela tugas, seorang pasien baru yang belum terlalu parah mendekati meja perawat. Matanya sayu tetapi sadar. Ia memandang ke arah koridor jiwa dengan dahi berkerut, lalu bertanya pelan, “Mas, kenapa yang jalan di lorong itu jalannya pincang semua? Kok Mas masih berani lewat sana sendirian?”
Arta tersentak. Ia menoleh cepat ke lorong. Dari tempatnya, lorong tampak kosong. Namun, ia tahu pasien dengan gangguan tertentu kadang lebih peka. Pasien itu kemudian menambahkan, “Barusan ada yang ngajak saya ikut jalan, Mas. Katanya, kalau saya ikut, saya nggak akan dengar suara di kepala lagi. Tapi saya takut.”
Pernyataan itu membuat Arta merasakan gelombang dingin menjalari punggungnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melewati koridor jiwa tanpa teman. Akan tetapi, malam itu justru memberinya pelajaran paling mengerikan.
Terjebak di Tengah Koridor
Sekitar pukul dua, alarm kecil di panel menyala, menandakan ada gangguan kecil di salah satu monitor pasien. Setelah dicek, ternyata sistem error yang bisa diperbaiki cepat. Namun, sistem komputer meminta reset manual dari panel di dekat bangsal lama, persis di ujung koridor jiwa.
Beni sedang di luar bangsal, sementara Luh masih sibuk di IGD. Meskipun takut, Arta merasa tidak bisa mengabaikan alarm. Ia menyalakan senter dan melangkah ke lorong dengan napas ditahan. Hujan masih terdengar, tetapi di lorong itu, suara hujan seolah jauh.
Di tengah lorong, langkah misterius mulai terdengar lagi. Kali ini, bukan hanya satu pasang. Ada beberapa langkah pelan, menyeret, serta sesekali bunyi ketukan kuku di lantai, seperti seseorang berjalan dengan tangan karena kakinya tak berfungsi. Bayangan di dinding berganda: ada yang pendek, ada yang tinggi, ada yang merunduk. Semuanya tanpa tubuh nyata di lantai.
Ketika Arta mencoba berbalik, ia mendapati pemandangan yang membuat lututnya lemas. Ujung lorong tempat ia datang tampak lebih jauh daripada sebelumnya, seolah lorong memanjang sendiri. Lampu-lampu di langit-langit jadi lebih sedikit, dan pintu-pintu di sampingnya kini tertutup dengan papan kayu berdebu yang tadi tidak ada.
Bisikan Terakhir di Ujung Jalan
Suara langkah makin dekat. Di antara gema itu, muncul bisikan-bisikan pelan, bercampur antara bahasa Indonesia dan Bali, serta potongan kata yang tidak jelas. Beberapa kalimat dapat ia tangkap:
“Sudah lama…”
“Temani… jangan pulang sendirian…”
“Di sini tenang… tidak ada suara dokter… tidak ada suntikan…”
Di dinding kanan, koridor jiwa kini menampilkan bayangan yang lebih utuh. Arta melihat siluet seseorang dengan rambut kusut, tangan terikat di depan, dan kepala menunduk. Di sebelahnya, bayangan anak kecil memegang ujung baju. Di belakang, beberapa bayangan lain saling bertumpuk, bergerak pelan seperti barisan yang sangat lelah.
Arta menutup mata sejenak dan mulai merapal doa dengan suara lirih. Setiap kalimat yang ia ucapkan membuat beberapa bayangan tampak mundur, namun ada satu yang tidak bergeser sama sekali: bayangan seorang pria dengan bahu tegap, mungkin salah satu pasien lama, yang berdiri tepat di ujung lorong menghadapnya.
Pria itu—atau bayangannya—mengangkat tangan, menunjuk ke dada Arta, lalu ke lantai di sebelahnya, seolah menunjuk tempat kosong yang siap diisi.
Koridor yang Menyimpan Nama
Entah bagaimana, di tengah ketakutan itu, Arta berhasil memaksa kakinya melangkah. Ia memutuskan untuk tidak lagi menatap dinding, tidak lagi menoleh ke belakang. Ia hanya fokus pada ujung lorong di depan, yang perlahan tampak mendekat.
Saat ia hampir mencapai panel reset, suara langkah di belakangnya berlari kecil, seolah iring-iringan itu mencoba mengejar. Punggungnya seperti dihembus napas dingin dari banyak mulut sekaligus. Namun, ia tetap mengabaikan, menekan tombol reset dengan tangan bergetar, lalu berlari kembali ke arah bangsal tanpa menoleh lagi.
Begitu ia tiba di ruang perawat, Luh dan Beni menatapnya dengan kaget. Wajahnya pucat, bajunya basah oleh keringat, dan napasnya terengah-engah. Ketika mereka mencoba menenangkannya, alarm sistem menunjukkan satu hal aneh: panel yang tadi ia reset mencatat log akses dengan tambahan nama di sistem, seolah ada petugas lain yang ikut menempelkan kartu identitas.
Nama itu bukan nama staf mana pun. Di layar, terbaca jelas:
“User: Pasien Koridor – Status: Hilang.”
Sejak malam itu, Arta tidak lagi ditempatkan di shift dekat koridor jiwa. Rumah sakit berpura-pura tidak tahu, dan laporan sistem dihapus dari catatan resmi. Namun, bagi mereka yang sering jaga malam, lorong itu tidak pernah lagi terdengar sama.
Sebab, setiap kali jam mendekati dua, langkah-langkah misterius kembali bergema. Kadang, para perawat mendengar suara yang memanggil pelan dari ujung lorong, menanyakan apakah ada yang mau menemani jalan “sekali saja”. Di dinding, bayangannya bertambah satu: sosok muda dengan seragam perawat, berdiri di antara pasien-pasien lama yang menunggu.
Berita & Politik : Modernisasi Digital Administrasi Publik di Era Pemerintahan