Senja Terakhir yang Tenang di Kebun Raya
Langit Bogor perlahan berubah jingga ketika Dimas, penjaga malam baru di Kebun Raya, menutup gerbang utama. Sementara angin membawa aroma tanah basah dan daun gugur, ia berusaha mengabaikan cerita lama tentang tangisan bocah yang kabarnya terdengar setiap malam Jumat. Meski begitu, bayangan pepohonan besar dan akar-akar raksasa yang mencuat dari tanah membuatnya sulit benar-benar tenang.
Selain itu, ia baru seminggu bekerja di sana sehingga belum hafal semua sudut kebun yang luas dan rimbun itu. Di pos kecil dekat jalan setapak, Dimas menyeduh kopi instan sambil menyalakan radio kecil untuk memecah keheningan. Namun, di antara suara musik pelan dan desir angin, ia merasa seolah ada sesuatu yang menunggu saat cahaya terakhir matahari benar-benar menghilang.
Kisah Lama Anak yang Tak Pernah Pulang
Beberapa jam sebelumnya, seniornya, Pak Arman, sempat bercerita sambil tertawa hambar. Menurutnya, bertahun-tahun lalu, seorang anak kecil hilang di dalam area hutan kebun. Meskipun tim pencari sudah dikerahkan berhari-hari, mayat atau jejaknya tak pernah ditemukan. Karena itu, warga sekitar mulai berbisik bahwa kebun itu “meminjam” anak tersebut dan tidak berniat mengembalikan.
Sejak saat itu, banyak laporan pengunjung yang mengaku mendengar tangisan bocah dari arah pepohonan besar, terutama dekat area hutan koleksi dan danau kecil di tengah. Walau sebagian menganggapnya sugesti, beberapa petugas lama memilih tidak berpatroli sendirian pada jam-jam tertentu. Namun, Dimas menertawakan cerita itu, meskipun dalam hati ia menyimpan sedikit rasa waspada. Bagaimanapun juga, malam di antara ribuan pohon tua bukanlah tempat ideal untuk menguji nyali.
Langkah Pertama Menuju Hutan yang Mengurung
Menjelang pukul sebelas, hujan rintik mulai turun, membuat udara semakin lembap dan dingin. Karena jadwalnya menuntut patroli keliling, Dimas mengambil senter dan jas hujan tipis. Sementara itu, lampu-lampu taman menyala temaram, menyorot batang-batang pohon besar yang menjulang seperti pilar katedral tua.
Ia memulai dari jalur utama yang mengarah ke area koleksi palem, lalu berbelok menuju bagian hutan yang paling jarang dilalui wisatawan siang hari. Meskipun rute itu terasa memutar, ia ingin cepat selesai agar bisa kembali ke pos. Namun, semakin jauh melangkah, semakin tipis suara kota di kejauhan, digantikan bunyi gemerisik daun, tetes air, dan sesekali suara serangga. Selain itu, kabut tipis mulai muncul di permukaan tanah, seolah kebun itu mencoba menutupi sesuatu.
Tangisan Pertama di Antara Akar Raksasa
Di dekat sebuah pohon besar berakar menjalar seperti ular batu, Dimas tiba-tiba berhenti. Di sela-sela bunyi rintik hujan, ia mendengar suara samar. Awalnya, ia mengira itu sekadar suara kucing atau bayi monyet yang terpisah dari induknya. Namun, setelah beberapa detik, suara itu terdengar jelas sebagai isakan pelan.
Tangisan itu terdengar patah-patah, seperti anak kecil yang kehabisan napas karena terlalu lama menangis. Sekali dua kali ia kedengaran menyebut “Ibu… Ibu…”. Walau otaknya mencoba mencari penjelasan logis, bulu kuduknya langsung berdiri. Sementara detak jantungnya berpacu, ia memaksa dirinya bersuara. “Halo? Ada yang masih di dalam kebun?” serunya. Akan tetapi, alih-alih jawaban, tangisan bocah itu justru terdengar semakin dekat, seperti datang dari balik batang pohon tebal di hadapannya.
Jejak Kecil di Tanah Basah
Dengan tangan sedikit gemetar, Dimas mengarahkan senter ke arah tanah. Selain dedaunan dan serpihan ranting, kini tampak jelas jejak kaki kecil di lumpur basah. Jejak itu tidak menggunakan sandal atau sepatu, hanya telapak kecil telanjang yang mengarah lebih dalam ke bagian hutan yang lebih gelap. Karena merasa bertanggung jawab, ia berusaha menekan rasa takut. “Kalau ini benar anak tersesat, aku harus menolong,” pikirnya.
Namun, ada yang aneh. Jejak-jejak itu tidak terlihat baru. Meskipun hujan baru saja turun, tepiannya tampak mengering, seolah sudah lama tercetak di sana. Walau begitu, setiap kali tangisan bocah terdengar, jejak itu terasa seperti baru saja dilalui. Selain itu, jejak tersebut berakhir di dekat akar besar, lalu menghilang begitu saja, tanpa arah balik. Seakan pemiliknya menembus tanah atau lenyap di udara.
Bayangan Putih di Tepi Danau
Setelah beberapa menit kebingungan, Dimas kembali mendengar isak itu, kali ini di kejauhan, dari arah danau kecil yang dikelilingi pepohonan. Karena tidak ingin kehilangan sumber suara, ia bergegas menyusuri jalan setapak yang licin. Sementara hujan semakin deras, cahaya senter mulai memantul di permukaan air danau yang bergelombang halus.
Di seberang danau, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Di antara dua batang pohon, tampak sosok kecil berpakaian putih lusuh berdiri membelakangi. Rambutnya lepek menutupi sebagian wajah. Walau tubuhnya tampak seperti anak perempuan berumur sekitar tujuh tahun, cara berdirinya kaku, tidak seperti bocah yang ketakutan. Selain itu, suara tangisan bocah itu seolah keluar dari seluruh hutan, bukan hanya dari arah sosok tersebut.
Dimas memanggil pelan, berharap itu sekadar anak yang tertinggal. “Dek… kamu sendirian?” tanyanya. Sosok itu tidak bergerak, tetapi air danau di dekat kakinya bergolak pelan, seolah ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan.
Panggilan yang Menjebak
Karena merasa tak mungkin menolong dari jarak sejauh itu, Dimas mencari jalan memutar untuk mendekati sisi danau yang lain. Namun, semakin ia berjalan mengitari tepian air, semakin jauh sosok itu terlihat, seolah selalu berada di sisi berlawanan. Walaupun langkahnya semakin cepat, jarak di antara mereka tidak pernah berkurang.
Sementara itu, tangisan bocah berubah menjadi rengekan memohon. “Jangan tinggalkan aku… Jangan tinggalkan aku di sini…” Suaranya menggema di antara dahan-dahan, memantul di air, dan membuat kepala Dimas terasa berputar. Selain itu, ia mulai menyadari bahwa lampu-lampu taman di sekitar situ padam satu per satu, menyisakan cahaya kuning pucat dari bangunan konservasi jauh di belakang.
Pada titik tertentu, ia berhenti dan menyadari bahwa jalur setapak yang tadi ia lewati sudah tidak tampak. Tanah di bawah kakinya berubah menjadi akar-akar besar yang saling bertumpuk, menciptakan permukaan tidak rata seperti jalinan ular raksasa.
Pohon Besar dan Nama yang Terukir
Di tengah kebingungan, Dimas melihat sebuah pohon raksasa yang tampak lebih tua dari pohon lain. Batangnya begitu lebar hingga tiga orang dewasa pun tidak akan bisa memeluk seluruh diameternya. Pada permukaan batang yang mengelupas dimakan usia, ada goresan-goresan yang tampaknya dibuat dengan benda tajam.
Saat senter menyorot lebih dekat, ia membaca sebuah nama yang sudah hampir pudar: “N A D I A”. Di bawahnya tergores tanggal dari bertahun-tahun lalu. Selain itu, ada garis-garis kecil seperti goresan tangan anak-anak. Seketika, tangisan bocah kembali terdengar tepat di belakangnya, begitu dekat seolah seseorang berdiri hanya sejengkal dari punggungnya.
Pelan-pelan, tanpa berani berbalik, ia bertanya, “Kamu… Nadia?” Tidak ada jawaban berupa kata-kata, tetapi ia merasakan sentuhan dingin di ujung jarinya, seperti tangan kecil yang penuh air. Pada saat yang sama, hujan tiba-tiba mereda, digantikan suara daun yang basah bergesekan, seolah seluruh kebun menahan napas.
Kebenaran yang Diungkap Penjaga Lama
Tiba-tiba, senter di tangan Dimas mati. Dalam gelap total, hanya tangisan bocah yang mengisi ruang di kepalanya. Ia berjalan tersaruk, mencoba menemukan kembali jalur setapak. Namun, justru di saat panik itu, seseorang menepuk bahunya dengan kuat. Ia berteriak, tetapi cahaya mendadak menyilaukan matanya.
Saat penglihatannya pulih, ia sudah berada dekat gerbang samping kebun, dengan Pak Arman mengguncang bahunya keras-keras. “Kamu ngapain di dalam hutan jam segini? HP kamu nggak aktif, senter nggak nyala, kamu mau hilang beneran?” bentak pria tua itu dengan suara kesal bercampur cemas. Sementara itu, Dimas menoleh ke belakang, namun hutan yang tadi terasa seperti labirin kini hanya terlihat sebagai deretan pepohonan biasa dengan jalan setapak berkerikil yang normal.
Di pos jaga, setelah sedikit tenang, Dimas menceritakan semuanya: jejak kaki kecil, sosok putih di tepi danau, nama di batang pohon, dan tangisan bocah yang memohon agar tidak ditinggalkan. Wajah Pak Arman mengeras. “Kamu sudah dengar nama Nadia?” tanyanya pelan. Ketika Dimas mengangguk, pria itu menarik napas berat, lalu mulai bercerita.
Anak yang Tertinggal dan Janji yang Dilanggar
Menurut penuturan Pak Arman, Nadia adalah anak dari salah satu pegawai kebun puluhan tahun lalu. Pada suatu akhir pekan yang ramai, ia ikut ayahnya bekerja dan bermain bersama teman-teman di area hutan dekat danau. Namun, ketika jam tutup tiba, semua orang mengira ia sudah pulang bersama yang lain. Sehingga, gerbang ditutup tanpa ada yang menyadari bahwa satu anak masih tertinggal di dalam.
Malam itu turun hujan lebat dan angin kencang. Esok paginya, setelah menyadari Nadia hilang, pencarian besar-besaran dilakukan. Walau tim menyisir hampir semua sudut kebun selama berhari-hari, mereka tidak pernah menemukan tubuh, pakaian, atau benda-benda milik Nadia. Di dekat pohon besar yang sama, ayahnya konon pernah terisak sambil menggoreskan nama putrinya di batang, berjanji akan terus mencarinya. Namun, akibat rasa bersalah dan tekanan, keluarga mereka akhirnya pindah, meninggalkan kota dan keperihan itu.
Sejak saat itu, beberapa penjaga malam melaporkan mendengar tangisan bocah di area hutan yang dulu sering menjadi tempat bermain anak-anak. Selain itu, ada yang mengaku melihat sosok kecil di tepi danau, berkali-kali memutari air seolah mencari jalan keluar yang tidak pernah benar-benar ada.
Peringatan untuk Penjaga Baru
Setelah cerita itu selesai, Pak Arman menatap Dimas dengan sorot mata yang berat. “Kebun ini punya ingatan,” katanya pelan. “Dan beberapa ingatan tidak pernah benar-benar reda, terutama yang lahir dari rasa bersalah dan janji yang dilanggar.” Sementara itu, hujan kembali turun tipis di luar, memantul di kaca jendela pos kecil.
Ia lalu menambahkan bahwa penjaga baru seharusnya diperingatkan untuk tidak terlalu dalam masuk ke area hutan setelah jam tertentu, terutama ketika kabut mulai turun dan suara kota menghilang. Menurutnya, tangisan bocah itu bukan sekadar minta tolong. Di sisi lain, mungkin itu juga cara kebun menahan siapa pun yang terlalu lama mendengarkan. Karena, semakin lama seseorang mengikuti suara itu, semakin sulit baginya menemukan jalan kembali.
Dimas mengangguk, tetapi pikirannya masih kacau. Di sudut meja pos, ia melihat noda air kecil di lantai, seperti tetesan dari telapak kaki yang baru saja basah. Jejak itu berukuran jauh lebih kecil dari ukuran kakinya atau Pak Arman. Jejak tersebut memanjang beberapa langkah, lalu berhenti di dekat pintu, seolah seseorang berdiri di sana dan mengamati mereka dalam diam.
Kebun yang Menyimpan Tangisannya Sendiri
Beberapa hari setelah kejadian itu, rutinitas di Kebun Raya Bogor kembali berjalan seperti biasa. Wisatawan berpose di depan pohon besar, keluarga berpiknik di rumput, dan anak-anak berlarian mengejar kupu-kupu. Namun, di balik keriuhan siang hari, Dimas kini berjalan lebih hati-hati ketika malam tiba. Setiap kali melewati jalur dekat danau atau pohon besar, ia memilih mematikan obrolan di dalam kepala dan hanya fokus pada langkahnya sendiri.
Meski begitu, pada beberapa malam tertentu, ketika hujan turun pelan dan kabut menggantung rendah di antara batang pohon, ia masih mendengar tangisan bocah itu, lirih dan bersahut, seolah datang dari kedalaman tanah. Sementara sebagian orang mungkin menyebutnya sekadar legenda, bagi Dimas, suara itu adalah pengingat bahwa kebun tidak hanya menyimpan koleksi tanaman, tetapi juga menyimpan luka yang tidak pernah betul-betul sembuh.
Pada akhirnya, setiap kali gerbang ditutup dan pengunjung terakhir melangkah pulang, Kebun Raya Bogor kembali menjadi dunianya sendiri. Pohon-pohon tua saling berbisik, air danau memantulkan bayangan-bayangan samar, dan di suatu tempat di antara akar dan kabut, tangisan bocah masih menggema pelan, menunggu seseorang yang entah ingin ditolong… atau diajak ikut menghilang.
Otomatif : Cara Mengecek Kondisi Ban Mobil Sebelum Perjalanan Jauh