Kabut Jalan Raya Meneror Lewat Korden di Desa Wae Rebo

Kabut Jalan Raya Meneror Lewat Korden di Desa Wae Rebo post thumbnail image

Perjalanan Menuju Desa Wae Rebo

Kabut jalan raya menjadi hal yang sering ditemui ketika menuju Desa Wae Rebo. Desa yang dijuluki negeri di atas awan ini memang mempesona, tetapi bagi sebagian orang, kabut yang tebal sering membawa cerita kelam.

Dara, seorang mahasiswi arkeologi, memutuskan berkunjung ke Wae Rebo untuk menulis tesis tentang arsitektur rumah adatnya. Namun sejak melintasi jalan berliku di tengah hutan, ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Kabut begitu tebal, hingga jarak pandang hanya beberapa meter. Di tengah kabut jalan raya itu, bayangan hitam terlihat menyeberang cepat, lalu menghilang.


Malam Pertama di Rumah Adat

Sesampainya di rumah adat Mbaru Niang, Dara disambut hangat warga. Malam itu ia beristirahat di salah satu kamar tamu yang dilapisi korden tebal berwarna coklat tua.

Namun, tepat tengah malam, ia terbangun. Dari balik korden, terlihat siluet samar seseorang berdiri di luar. Dara memberanikan diri membuka korden, tetapi hanya ada kabut pekat yang menyelimuti halaman. Anehnya, siluet itu masih jelas terlihat meski kabut begitu tebal.


Bisikan dari Balik Korden

Malam berikutnya, gangguan semakin nyata. Dara mendengar bisikan dari balik korden. Suara itu terdengar serak, seolah berasal dari tenggorokan yang penuh pasir.

“Jangan buka… jangan lihat… kabut jalan raya membawamu pulang.”

Dara menutup telinga, namun suara itu justru semakin keras, seakan langsung menyusup ke dalam kepalanya.


Cerita Lama dari Warga

Keesokan harinya, Dara memberanikan diri bertanya kepada seorang tetua desa. Lelaki tua itu menunduk lama sebelum menjawab.

Ia mengatakan bahwa dahulu, sebuah rombongan pedagang hilang di jalan menuju desa. Saat kabut jalan raya turun, mereka tersesat, lalu ditemukan meninggal dengan wajah pucat dan mata terbuka lebar. Sejak itu, arwah mereka diyakini menampakkan diri di balik korden rumah warga, mencari orang baru untuk menemani mereka.


Teror yang Semakin Kuat

Malam ketiga, Dara kembali mendengar suara di balik korden. Kali ini bukan hanya bisikan, tetapi juga ketukan berirama, seperti seseorang sedang mengetuk kaca jendela dengan kuku panjang.

Korden itu bergerak sendiri, bergelombang meski tidak ada angin. Ketika Dara menutup mata, ia merasakan sesuatu duduk di sisi ranjang. Napasnya dingin, teratur, dan begitu dekat.

Saat ia memberanikan diri membuka mata, korden terbuka sedikit. Dari celahnya, tampak wajah pucat dengan mata hitam pekat menatapnya tanpa berkedip.


Kabut Jalan Raya Mengikuti

Sejak malam itu, Dara merasa kabut jalan raya bukan hanya fenomena alam, tetapi entitas hidup yang membuntutinya. Setiap ia berjalan keluar rumah, kabut muncul lebih cepat dari biasanya. Bahkan di dalam rumah, korden seolah menjadi jendela menuju dunia lain yang diisi kabut dan arwah gentayangan.

Warga desa menyarankan Dara meninggalkan desa sebelum purnama, karena konon kabut jalan raya saat purnama menjadi jalur arwah untuk menyeret manusia ke alam mereka.


Puncak Teror di Malam Purnama

Sayangnya, Dara terlambat. Malam purnama datang, kabut menelan seluruh desa. Dari setiap korden, muncul siluet-siluet tubuh tinggi kurus dengan kepala miring dan tangan panjang.

Kamar Dara dipenuhi ketukan, bisikan, dan tawa parau. Korden terbuka lebar, dan kabut menembus masuk, melingkari tubuhnya. Siluet wajah pucat mendekat, sementara suara serak kembali bergema:

“Kini kau milik kabut jalan raya.”

Dara berteriak, namun tubuhnya terasa ditarik masuk ke dalam kabut. Dunia berputar, lalu segalanya gelap.


Desa Wae Rebo Setelah Kejadian

Keesokan harinya, warga tidak lagi menemukan Dara. Barang-barangnya masih tersusun rapi di kamar, tetapi korden di jendelanya basah kuyup dan berbau tanah basah.

Sejak saat itu, para tetua selalu memperingatkan pendatang untuk tidak menatap lama korden ketika kabut jalan raya turun. Karena siapa pun yang berani menantang, akan hilang tanpa jejak, sama seperti Dara.

Berita & Politik : Politik Identitas di Pilkada: Ancaman atau Keniscayaan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post