Bayangan Pertama di Tengah Keramaian
Pertama-tama, jeritan kuntilanak merah muncul saat kerlap-kerlip lampu kios mulai meredup. Selain hiruk-pikuk pedagang, pancaran layar ponsel, dan aroma gorengan, tiba-tiba terdengar suara nyaring—sekilas seperti tangisan bayi yang terdistorsi. Oleh karena itu, pengunjung pasar malam menoleh kebingungan, tak menyangka malam yang semula riuh justru disusupi teror gaib.
Siang ke Malam: Pergantian yang Menegangkan
Setelah matahari terbenam, suasana pasar malam berubah drastis. Di satu sisi, hiburan musik dangdut mengundang berjoget. Namun, di sisi lain, kekosongan lorong sempit di ujung pasar memunculkan keheningan tak wajar. Lebih jauh, pedagang yang hendak menutup lapak merasakan hawa dingin menusuk tulang, seolah jeritan kuntilanak merah baru saja berbisik di telinga mereka.
Desahan Lirih di Balik Kain Merah
Di tengah kerumunan, seorang penjual sate bernama Lina meneguk air minum. Tiba-tiba, ia mendengar desahan lirih di belakang kiosnya. Selain suara nafas berat, terdengar gesekan kain—seolah selendang panjang berwarna merah menggesek batang besi tenda. Oleh karena itu, Lina membeku, menyesal tak menyiapkan doa pelindung.
Keriuhan dan Ketakutan Bersamaan
Lebih lanjut, beberapa pengunjung yang berani menyusuri gang sempit melaporkan suara langkah kaki berlainan ritme: bergeser pelan lalu mendadak menghentak. Kemudian, terdengar ratapan panjang yang mengiris suasana. Meski lampu senter berpendar, bayangan putih-merah di sudut gelap seolah menari tanpa kepala. Dari situlah wujud jeritan kuntilanak merah pertama kali terekam mata.
Pencarian Akar Legenda Lokal
Di sisi lain, para tetua kampung mengumpulkan cerita lama tentang wanita korban pembunuhan di tengah pasar malam seabad lalu. Konon, ia mengenakan kebaya merah mencolok, lalu diculik dan dibunuh sebelum melangsungkan pesta pertunangan. Lebih jauh, jenazahnya dibuang ke selokan pasar, menimbulkan kutukan. Sejak saat itu, suara tangis nya kerap terdengar setiap kali bulan purnama.
Saksi Mata Menggigil
Selanjutnya, Budi—seorang remaja penjaga toilet umum—mengaku merasakan tangan dingin menahan sepatunya. Selain itu, ia mendengar bisikan samar: “kembalikan…” yang terulang berkali-kali. Ketika berusaha menoleh, ia hanya melihat selendang merah terkapar di lantai. Dengan jantung berdebar, Budi lari tunggang-langgang, tak peduli gerobak pedagang lain hampir ditabraknya.
Gemerisik Pakaian di Lorong Kecil
Lebih jauh, saat tim keamanan pasar menyisir lorong-lorong sempit, mereka menemukan kain kebaya terkoyak tertempel pada tiang lampu. Selain retakan darah mengering di sana, ada bekas jejak kaki kecil tanpa bentuk jelas. Oleh karena itu, mereka semakin yakin bahwa jeritan kuntilanak merah bukan sekadar ilusi massal, melainkan manifestasi roh penasaran yang menuntut keadilan.
Rekaman yang Menghantui
Kemudian, beberapa vlogger mencoba merekam fenomena gaib tersebut. Akan tetapi, kamera ponsel mereka mati mendadak saat bersandar pada kursi lipat pasar. Selanjutnya, ketika lampu kamera kembali menyala, hanya terlihat pendar cahaya merah jauh di ujung gang—seolah sosok kuntilanak melambai pelan. Meski video sempat mereka unggah, menit ke-59 selalu terpotong saat tangisan memuncak.
Benturan Ritual dan Realitas
Di lain pihak, satu keluarga berencana mengusir roh dengan doa dan air suci. Setelah menaburkan garam di sekitar stan, mereka membaca ayat suci dengan lantang. Akan tetapi, tak lama kemudian, panci dari warung sebelah terpelanting, lalu terdengar dentuman bergema. Bahkan, layangan mini terpental, menciptakan bayangan menyeramkan di dinding tenda. Dengan demikian, upaya ritual justru memancing jeritan kuntilanak merah semakin menggema.
Keterpurukan Pedagang Kecil
Lebih jauh, akibat teror tersebut, omzet pedagang menurun drastis. Selain penurunan pengunjung hingga 70%, mereka kerap menyaksikan barang dagangan terlempar sendiri. Salah satu pedagang jamu, Pak Maman, mengaku botol-botolnya pecah beruntun tanpa sebab. Kata-kata “ambil… ambil…” terdengar bagai mantra yang menghantui setiap kali gelap tiba.
Panggilan Tengah Malam
Selanjutnya, seorang tukang mie ayam di pinggir gang terbangun oleh bunyi ketukan pelan di jendela gerobak. Ketika ia membuka tirai plastik, terlihat sosok berkebaya merah yang mematung—tidak bergerak sama sekali. Kemudian, ia mendengar jeritan memekik, namun tidak ada mulut yang membuka. Panik, ia meneguk air liur, menutup tirai, lalu bersembunyi di balik meja sambil gemetar.
Desakan Warga untuk Tutup Pasar
Di sisi lain, dewan kampung menggelar rapat darurat. Mereka sepakat menutup pasar malam selama seminggu dan meminta bantuan paranormal. Lebih jauh, kebijakan itu langsung disambut protes pedagang, karena hari-hari itu merupakan masa panen omset tertinggi mereka. Namun demikian, ketakutan akan jeritan kuntilanak merah memaksa semua pihak mematuhi keputusan.
Kedatangan Paranormal Terkenal
Kemudian, paranormal ternama, Kang Ujang, diundang untuk melakukan “seserahan gaib”. Ia membawa kendi keramik berisi air kembang tujuh rupa, sesajen, dan gong mini. Selanjutnya, upacara digelar di tengah lapak utama, lengkap dengan pengusapan dupa. Akan tetapi, pada puncak ritual, gong pecah sendiri—memecah keheningan malam—diiringi jeritan mengerikan yang membuat puluhan orang pingsan.
Darah di Atas Lantai Semen
Lebih jauh, saat api dupa meredup, mereka melihat bercak darah segar mengalir membentuk huruf kuno di lantai semen. Selain itu, bau anyir semakin pekat, membuat orang terdehidrasi. Meski Kang Ujang melantunkan mantra penenang, darah itu tak juga kering. Dengan terpaksa, ia memetik jarak satu meter dari titik tersebut, menandai bahwa kehadiran jeritan kuntilanak merah kini merasuk ke inti pasar.
Titik Balik Ajaib
Namun demikian, tepat sebelum upacara dibubarkan, seberkas cahaya putih tiba-tiba memancar dari tengah lapangan. Sosok berkebaya merah melintas cepat, seakan menyerahkan sesajen ke patung Dewi Sri di pojok pasar, lalu lenyap. Selanjutnya, darah di lantai kering mendadak memudar, bau anyir tergerus aroma kembang. Dengan demikian, Kang Ujang menyatakan roh telah difasilitasi untuk kembali ke alamnya.
Sisa Bisikan dan Peringatan
Selanjutnya, meski pasar malam buka kembali, pedagang dan pengunjung sering mendengar bisikan samar: “jaga janji…” yang sesekali terngiang saat angin bertiup. Selain itu, selendang merah kecil terkadang ditemukan tergeletak di atas meja, seolah panggilan kembali bagi yang lupa memberi sesajen. Oleh karena itu, peringatan tertulis tentang ritual ringkas setiap bulan purnama terpasang di papan pengumuman.
Kehidupan Normal yang Rapuh
Di lain pihak, keseharian pasar malam kembali semarak. Lampu neon menyala terang, pengunjung tertawa, dan musik mengalun. Namun, setiap kali senja tiba, gemerisik kain merah di salah satu kios selalu membuat orang terdiam sejenak. Dengan demikian, jeritan kuntilanak merah tetap mengintai, memastikan bahwa tradisi penghormatan dan sesajen tidak pernah dilalaikan.
Epilog: Suara yang Tak Pernah Padam
Akhirnya, cerita jeritan kuntilanak merah di pusat pasar malam tidak sekadar legenda. Ia menjadi pengingat bahwa dunia gaib dan dunia manusia berjarak tipis. Setiap dentingan gong mini, setiap aroma kembang, dan setiap gesekan kain merah adalah bagian dari kesepakatan tak tertulis—agar teror berhenti dan pasar tetap menyala. Sebab, siapa pun yang mengabaikan janji, akan kembali menyaksikan malam digenangi jeritan tanpa akhir.
Food & Traveling : Menjelajah Berburu Rasa di Pasar Tradisional Pagi Indonesia