Ekspedisi Dimulai: Ambisi di Tanah Hulu Mahakam
Pagi yang lembap menyambut Dr. Satya dan timnya saat mereka tiba di hulu Sungai Mahakam. Udara hutan tropis yang pekat beraroma tanah basah dan dedaunan membusuk. Dr. Satya, seorang arkeolog ambisius dari Jakarta, memimpin tim kecil yang terdiri dari tiga peneliti muda: Maya, ahli epigrafi yang cerdas; Bayu, juru kamera yang berani; serta Rio, asisten lapangan yang cekatan. Misi mereka kali ini sangat penting: memverifikasi penemuan sebuah situs kuno yang diklaim sebagai salah satu lokasi ritual terakhir Raja Kutai Martadipura, sebuah wilayah yang dikenal angker dan jarang terjamah.
Penduduk lokal telah berulang kali memperingatkan mereka untuk tidak melanjutkan perjalanan. Meskipun demikian, mereka menyebut situs itu sebagai “Batu Tumbal”, tempat di mana darah tetes terakhir kali terlihat ratusan tahun yang lalu. Namun, semangat ilmiah Dr. Satya lebih kuat daripada mitos. Lagi pula, jika klaim itu benar, penemuan ini akan mengubah buku sejarah Indonesia.
Perjalanan mereka memakan waktu tiga hari, menembus hutan yang semakin tebal. Secara bertahap, tanda-tanda kehadiran manusia modern menghilang, digantikan oleh suara-suara alam liar yang mistis. Akhirnya, mereka tiba di sebuah area terbuka kecil, tersembunyi di balik tebing batu besar. Di tengahnya, berdiri sebuah struktur batu persegi yang diselimuti lumut tebal—sebuah altar kuno.
Penemuan Altar: Simbol Kutukan dan Keheningan
Altar itu menjulang sekitar satu meter dari tanah, permukaannya datar dan luas. Di sekelilingnya, ditemukan beberapa patung batu kecil yang bentuknya samar-samar, seolah-olah dipahat tergesa-gesa. Akan tetapi, hal yang paling menarik perhatian tim adalah ukiran yang menutupi permukaan altar. Maya segera menyentuhnya.
“Ini adalah aksara Palawa Tua, Dr. Satya,” kata Maya dengan suara bergetar karena kegembiraan. “Tapi isinya… sangat aneh. Ini bukan tentang persembahan biasa. Melainkan, tentang penyerahan jiwa dan janji kekuasaan yang diambil melalui pengorbanan.”
Sementara itu, Bayu mengarahkan kamera profesionalnya ke salah satu sudut altar. Di sana, mereka menemukan cekungan kecil yang mengering. Meskipun sudah berabad-abad, aura gelap dan dingin masih terpancar dari cekungan itu. Tiba-tiba, Rio, yang biasanya cuek, bergidik. Ia mencium bau amis yang aneh, Tuan,” bisiknya. Dr. Satya mendekat, dan ia yakin bau itu adalah bau besi tua yang bercampur dengan sesuatu yang lebih organik. Darah tetes terakhir yang mengering.
Terlepas dari itu, kegembiraan penemuan mereka mengalahkan rasa takut. Mereka memutuskan untuk mendirikan kemah tepat di samping situs tersebut. Sebagai tindakan pencegahan, Dr. Satya memerintahkan Rio untuk menyalakan api unggun besar, karena percaya bahwa panas dan cahaya bisa mengusir suasana kelam itu. Meskipun demikian, malam itu, api unggun mereka tampak meredup tanpa alasan yang jelas. Udara di sekitar altar terasa jauh lebih dingin.
Malam Pertama: Bisikan dari Masa Lalu
Malam pertama adalah awal dari teror. Dr. Satya terbangun sekitar pukul dua dini hari karena mendengar suara. Yang mengejutkan, suara itu bukan suara binatang hutan, melainkan suara berbisik yang datang dari arah altar.
Dengan hati-hati, ia mengintip dari tenda. Bulan bersinar redup di atas hutan. Saat itulah, di bawah cahaya rembulan, altar batu tampak lebih besar dan lebih mengancam. Dia melihat siluet samar, seperti bayangan hitam yang bergerak perlahan di permukaan altar. Saat ia mencoba melihat lebih jelas, bayangan itu tiba-tiba menoleh. Dr. Satya merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk hingga ke sumsum tulang.
Keesokan paginya, ia mencoba menceritakan pengalaman itu kepada tim, tetapi mereka semua tampak kelelahan dan muram. Maya mengeluh mimpinya dipenuhi dengan penglihatan mengerikan tentang orang-orang yang menjerit. Bayu melaporkan bahwa kameranya, yang ia letakkan di tenda, kini basah oleh cairan lengket berwarna cokelat kemerahan. Cairan itu berbau seperti yang Rio cium kemarin.
Tepat pada saat itu, Rio dengan ketakutan menunjuk ke altar. Di sana, di cekungan yang kering, kini muncul cairan baru. Darah tetes segar, yang perlahan mengalir membasahi lumut.
Eskalasi Teror: Altar yang Haus
Ketakutan mulai mendominasi. Dr. Satya, meskipun seorang ilmuwan, tidak bisa menyangkal bukti di hadapannya. Mereka sedang diganggu oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mempercepat proses dokumentasi dan segera meninggalkan situs tersebut.
Namun demikian, ketika mereka mencoba mengemas barang, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang menahan mereka. Peta mereka hilang. Peralatan komunikasi mereka tidak berfungsi, seolah-olah sinyal sengaja diputus oleh kekuatan yang lebih besar. Mereka terjebak, dan harus mencari cara lain.
Pada malam kedua, teror mencapai puncaknya. Mereka mendengar langkah kaki berat di luar tenda mereka. Langkah kaki itu tidak seperti manusia; melainkan, terdengar seperti tapak kaki gajah atau batu yang diseret. Tiba-tiba, Bayu berteriak.
“Lihat! Di sana!”
Di luar, di bawah cahaya obor yang kembali mereka nyalakan, terlihat sesosok pria berbadan besar, mengenakan pakaian ala bangsawan kuno, berdiri di samping altar. Wajahnya diselimuti bayangan tebal, tetapi matanya bersinar merah menyala. Itu adalah manifestasi dari roh Raja Kutai yang haus tumbal. Pada saat yang sama, altar itu tampak memancarkan cahaya gelap yang menghipnotis.
Pengorbanan dan Kutukan yang Kekal
Sosok Raja itu mengangkat tangannya. Pada saat yang sama, Rio, yang paling dekat dengan pintu tenda, tiba-tiba merasakan dadanya sesak. Ia mencengkeram lehernya, dan matanya melotot. Sebelum yang lain bisa bereaksi, Rio terlempar ke udara dan mendarat keras tepat di atas altar.
Rio mengerang kesakitan, sementara darah tetes mulai membasahi permukaan altar dari luka yang tiba-tiba muncul di dahinya. Darah itu tidak mengalir ke tanah, melainkan diserap oleh batu kuno itu dengan rakus. Seiring dengan itu, sosok Raja Kutai itu tampak semakin nyata dan kuat, seolah-olah energi Rio sedang disedot untuk memberinya kehidupan.
Dr. Satya, Maya, dan Bayu menyaksikan dengan horor yang tak terlukiskan. Mereka mencoba berlari, tetapi pintu tenda mereka terasa terkunci oleh kekuatan tak terlihat. Setelah itu, mereka mendengar suara tawa yang dalam dan menyeramkan dari sosok Raja tersebut, sebuah tawa yang dipenuhi kepuasan kuno.
Beberapa saat kemudian, Rio terdiam, tubuhnya layu dan tak bernyawa. Meskipun demikian, sosok Raja itu menghilang bersamaan dengan cahaya gelap dari altar yang meredup. Altar kembali sunyi, tetapi dengan genangan darah tetes segar yang kini berkumpul di cekungan.
Keesokan harinya, Dr. Satya, Maya, dan Bayu berhasil melarikan diri, menggunakan sisa tenaga mereka untuk berjalan tanpa henti kembali ke sungai. Mereka tidak membawa artefak, hanya kengerian dan trauma yang mendalam. Mereka meninggalkan Rio di sana, di tempat darah tetes meresap ke dalam batu.
Pada akhirnya, mereka selamat dan kembali ke peradaban. Namun, mereka tidak pernah berani mengungkapkan semua yang mereka lihat. Mereka hanya melaporkan kegagalan ekspedisi karena kecelakaan. Mereka tahu, di jantung hutan Kalimantan, darah tetes di altar kuno itu kini telah diperbarui, dan roh Raja Kutai yang berdarah masih menunggu tumbal berikutnya. Mereka membawa kutukan itu dalam keheningan, sebab mereka tahu, jika mereka kembali, altar itu akan menuntut sisa dari tim yang selamat.
Flora & Fauna : Peran Serangga dalam Menjaga Keseimbangan Rantai Makanan