Bayangan Di Balik Dinding
Hujan deras mengguyur kota Singkawang malam itu. Angin menampar pepohonan tua di halaman asrama putri yang berdiri sejak tahun 1970-an. Suara petir memantul di dinding bangunan yang mulai retak, seakan ingin memperingatkan sesuatu.
Di kamar nomor tujuh, Laras menatap dinding di depannya dengan rasa tak nyaman. Retakan halus yang kemarin berwarna abu-abu kini berubah gelap kemerahan. Seketika, dari celah sempit itu, darah mengalir perlahan menuruni tembok. Warnanya pekat, aromanya tajam, dan suhu udara di ruangan menurun drastis.
“Ini pasti cat bocor,” bisik Laras pada dirinya sendiri. Namun, bau logam menusuk hidung membantah logika apa pun yang ia pegang.
Ketakutan Pertama
Keesokan paginya, Laras menceritakan kejadian itu kepada Maya dan Putri, teman sekamarnya. Maya menertawakannya, mencoba mencairkan suasana.
“Mungkin kamu ngantuk, Ras. Kadang mata suka salah lihat,” ujarnya sambil menyisir rambut.
Malam berikutnya, rasa penasaran mereka berbuah teror baru. Tepat tengah malam, darah mengalir lagi, kali ini dari langit-langit kamar. Tetesannya jatuh di ujung ranjang, menciptakan noda merah di seprai putih. Maya menjerit histeris, sementara Putri menutup wajah dengan bantal.
Ketiganya berlari ke kamar Ibu Asrama, Bu Ratna. Awalnya ia tak percaya. Namun begitu melihat sendiri dinding yang mengucurkan cairan merah, wajahnya langsung pucat pasi. Aroma anyir memenuhi ruangan, membuat semua terdiam tanpa suara.
Catatan Dari Masa Lalu
Pihak sekolah memanggil teknisi untuk menyelidiki. Mereka memeriksa setiap pipa, menelusuri loteng, hingga dinding belakang. Tak satu pun menemukan sumber cairan itu. Anehnya, bagian luar tembok benar-benar kering.
Laras merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Ia kemudian menelusuri arsip lama di perpustakaan. Dalam map lusuh, ia menemukan laporan bertanggal 1982: “Mahasiswi Keperawatan Hilang – Nama: Siska Halim.”
Lokasi terakhir Siska diketahui adalah kamar nomor tujuh.
Sejak saat itu, Laras yakin fenomena darah mengalir bukan kebetulan. Ia menunjukkan temuan itu kepada Maya, tetapi Bu Ratna keburu melihatnya. Dengan nada keras ia berkata, “Berhenti mencampuri urusan lama. Tidak semua hal perlu diungkap.”
Kata-katanya terdengar seperti ancaman yang disamarkan sebagai nasihat.
Suara Dari Dalam Dinding
Malam berikutnya, Laras terjaga oleh suara ketukan dari balik tembok. Tok… tok… tok… Suaranya pelan, teratur, dan datang dari arah retakan. Dengan hati berdebar, ia mendekatkan telinganya ke dinding.
“Aku… masih di sini…”
Suara itu terdengar lirih, seperti berasal dari dalam batu.
Lampu kamar berkelip, dan dari sudut mata, Laras melihat sesuatu merembes lagi. Darah mengalir keluar dari retakan, kali ini membentuk pola aneh menyerupai tulisan. Ketika kilat menyambar, sekelebat bayangan putih berdiri di ujung kamar, menatapnya diam-diam.
Ritual Pembersihan
Keesokan paginya, Bu Ratna akhirnya memanggil seorang ustaz. Ia berusaha menenangkan para siswi yang mulai ketakutan. Ruqyah dilakukan di depan kamar tujuh. Saat ayat-ayat suci berkumandang, udara berubah dingin.
Lampu tiba-tiba padam. Langkah berat terdengar di dalam kamar yang seharusnya kosong. Aroma darah menyebar. Dinding bergetar hebat hingga retakannya melebar. Lalu, darah mengalir deras dari celah tembok, menyembur seperti air dari luka terbuka.
Ustaz yang memimpin ritual berteriak keras, suaranya nyaris tertelan oleh deru angin. “Keluarlah dari tempat ini! Jangan ganggu mereka!” Namun sesosok perempuan berseragam putih muncul di antara kabut tipis. Rambutnya menutupi wajah, dan dadanya penuh bercak merah. Ia menatap mereka tajam sebelum menghilang.
Pengakuan Dosa Lama
Setelah kejadian itu, Bu Ratna tak sanggup lagi menyembunyikan kebenaran. Dengan suara gemetar, ia menceritakan masa lalunya.
Dulu, ia adalah salah satu mahasiswi keperawatan di asrama itu. Siska Halim, teman sekamarnya, menjalin hubungan dengan seorang dosen yang kemudian menolak tanggung jawab setelah Siska hamil. Saat malam hujan lebat, pertengkaran terjadi di kamar tujuh. Dosen itu memukul Siska hingga tak bernyawa. Tubuhnya lalu disembunyikan di dalam dinding sebelum renovasi asrama dimulai.
“Dinding itu… makamnya,” ujar Bu Ratna sambil menangis. “Setiap kali hujan turun, darah mengalir dari sana. Itu cara arwahnya mengingatkan kita bahwa ia belum mendapat keadilan.”
Maya tertegun. Putri menunduk, tak berani berkata apa pun. Laras menatap dinding kamar itu dengan ngeri. Kini semua misteri seolah menemukan jawabannya.
Dinding Yang Menangis
Keesokan malam, mereka menggali dinding yang terus mengeluarkan darah. Setelah lapisan bata terakhir runtuh, ditemukan kerangka manusia lengkap dengan seragam perawat yang sudah rapuh. Di saku bajunya terdapat sepucuk surat bertinta pudar:
“Aku tidak ingin dilupakan.”
Tangis Bu Ratna pecah seketika. Ia berlutut di depan kerangka itu sambil memohon ampun. Para siswi berdiri membisu, hanya suara hujan yang menemani. Setelah pemakaman ulang dilakukan, suasana asrama tampak lebih tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Pada malam berikutnya, Laras terbangun karena mendengar tetesan air. Saat lampu dinyalakan, ia melihat darah mengalir lagi di dinding, membentuk tulisan samar:
“Terima kasih… tapi aku masih di sini.”
Dosa yang Tak Pernah Padam
Beberapa bulan kemudian, asrama resmi ditutup. Dinding kamar tujuh dipaku dan dicor rapat. Meskipun begitu, warga sekitar sering melihat noda merah muncul di bagian luar tembok setiap kali hujan turun.
Kadang, dari jendela lantai dua, tampak sosok perempuan berseragam putih berdiri diam memandangi jalan. Ia tak bergerak, hanya menatap kosong seakan menunggu seseorang yang tak akan kembali. Setelah kilat menyambar, sosok itu lenyap, meninggalkan bekas merah di kaca.
Kini, bangunan itu menjadi legenda kota Singkawang. Orang-orang menyebutnya Asrama Dinding Berdarah, tempat di mana darah mengalir setiap kali langit menangis.
Lifestyle : Tren Clean Eating: Makan Sadar dan Berbasis Nutrisi