Awal dari Keheningan yang Aneh
Sekolah tua di daerah Waingapu, Sumba, berdiri di atas lahan bekas rumah misi Belanda. Pada siang hari, suasananya tampak seperti sekolah biasa. Namun begitu matahari terbenam, udara di sekitar gedung berubah menjadi dingin dan berat. Banyak warga mengatakan bahwa dari salah satu ruang kelas terdengar ayat terbalik, dibacakan dengan suara lirih dari arah papan tulis.
Malam itu, guru muda bernama Reni harus lembur di sekolah untuk menyiapkan ujian semester. Meski penjaga sekolah sudah memperingatkannya agar tidak sendirian di ruang kelas tiga, ia tak mengindahkan. Ia pikir itu hanya cerita lama untuk menakuti murid baru. Akan tetapi, malam itu menjadi awal dari pengalaman paling menyeramkan dalam hidupnya.
Ruang Kelas yang Terlupakan
Ketika jarum jam menunjuk pukul delapan malam, angin bertiup dari jendela yang terbuka. Suaranya menyerupai desahan napas. Reni yang duduk di depan meja guru berusaha fokus menulis soal di laptop, tetapi matanya terus melirik ke papan tulis yang kosong.
Sementara itu, dari langit-langit terdengar suara langkah pelan seperti seseorang berjalan di atas atap. Ia mencoba mengabaikan. Namun beberapa detik kemudian, kapur tulis di atas meja terguling sendiri dan jatuh ke lantai.
“Ah, mungkin karena angin,” katanya menenangkan diri.
Namun saat ia memungut kapur itu, tiba-tiba papan tulis menampakkan tulisan samar berwarna putih kehijauan. Tulisan itu tampak seperti huruf Arab, namun dibaca dari belakang. Ayat itu terbentuk pelan-pelan, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang menulisnya.
Bisikan dari Papan Tulis
Reni terpaku. Ia mendekati papan tulis sambil menyorotkan lampu dari ponsel. Semakin ia perhatikan, huruf-huruf itu makin jelas. Namun anehnya, saat ia mencoba membaca, suaranya sendiri terbalik.
“…llahA mihrar al-lahA…”
Suara itu tidak lagi berasal dari mulutnya, tetapi bergema dari seluruh ruangan. Reni tertegun. Ia menatap sekeliling, namun ruang kelas itu kosong. Pintu terkunci, dan angin seolah berhenti berhembus.
Lalu, dari belakangnya terdengar bisikan lain, jauh lebih pelan tetapi sangat dekat di telinga:
“Jangan baca ayat itu, karena dia sudah terbangun.”
Reni berbalik, tetapi tidak ada siapa pun. Ketika menatap papan tulis lagi, tulisan itu berubah menjadi merah seperti darah segar.
Penjaga Sekolah dan Kisah Lama
Ketakutan membuatnya berlari keluar menuju pos penjaga. Di sana, ia menemukan Pak Martinus, penjaga sekolah yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun. Mendengar cerita Reni, wajah Pak Martinus seketika pucat.
“Sudah kukatakan jangan masuk ke kelas tiga,” katanya dengan suara bergetar. “Dulu, di ruangan itu pernah terjadi ritual pemanggilan arwah.”
Reni terdiam, sementara pria tua itu melanjutkan. “Sepuluh tahun lalu, seorang siswa pintar bernama Seno mencoba meneliti kitab-kitab kuno peninggalan misionaris. Ia menulis ulang ayat-ayat suci secara terbalik di papan tulis untuk eksperimen. Tapi malam itu, ia ditemukan tak bernyawa, tubuhnya membeku seperti es. Papan tulis tempat ia menulis itu tidak pernah bisa dihapus.”
Malam yang Kedua
Walau trauma, Reni tidak tenang. Esoknya, ia kembali ke sekolah untuk memastikan semua yang ia lihat bukan halusinasi. Kali ini, ia datang lebih awal dan membawa rekaman suara.
Ketika senja berganti malam, suasana sekolah berubah lagi. Lampu lorong meredup, dan udara menjadi dingin seperti diselimuti kabut tipis. Reni menyalakan alat perekam, lalu perlahan membuka pintu ruang kelas tiga.
Begitu pintu terbuka, bau dupa terbakar menyeruak. Papan tulis masih penuh dengan tulisan merah. Kali ini, huruf-huruf itu menetes seperti darah yang segar menetes ke lantai.
Reni memutar alat perekam, berharap bisa merekam suara aneh yang ia dengar semalam. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dari speaker kecil alat itu keluar suara perempuan berbisik:
“Dia masih di sini… jangan hapus tulisanku.”
Ketika Ayat Itu Hidup
Reni menjerit dan menjatuhkan alat rekamannya. Namun suara bisikan itu tidak berhenti. Malahan, dari setiap sudut kelas, terdengar lantunan ayat suci—semuanya terbalik. Dinding kelas bergetar pelan, dan dari sela lantai yang retak muncul uap putih menyerupai kabut.
Siluet seorang siswa laki-laki muncul di pojok ruangan, berdiri menghadap papan tulis. Seragamnya basah, rambutnya menutup sebagian wajah. Ia mengangkat tangan dan menulis lagi huruf-huruf terbalik itu sambil bergumam pelan.
Reni mencoba berlari keluar, namun pintu tertutup sendiri dengan keras. Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, disusul bisikan:
“Kau membaca ayatku… sekarang kau bagian dari pelajaran ini.”
Pelarian yang Terlambat
Dengan panik, Reni berusaha memecahkan jendela. Pecahan kaca melukai tangannya, tapi ia berhasil keluar. Ia berlari ke halaman, napasnya tersengal. Dari balik kaca ruang kelas, ia melihat sosok siswa itu berdiri tegak, menatapnya. Di belakangnya, papan tulis menyala merah dengan tulisan terbalik yang berubah-ubah bentuknya.
Malam itu, Reni pingsan di depan gerbang sekolah. Ia ditemukan oleh Pak Martinus keesokan paginya. Saat siuman, ia tidak bisa bicara normal selama beberapa hari. Setiap kali membuka mulut, ia malah melantunkan ayat terbalik dengan suara yang bukan miliknya.
Rahasia yang Terungkap
Beberapa minggu kemudian, pihak sekolah memanggil seorang rohaniawan untuk membersihkan ruang kelas itu. Namun begitu ia masuk, semua lilin padam, dan udara di sekitar mendadak dingin seperti es. Rohaniawan itu segera keluar dengan wajah ketakutan. Ia berkata singkat, “Itu bukan jin. Itu jiwa manusia yang terikat oleh ayatnya sendiri.”
Sejak kejadian itu, ruang kelas tiga dikunci selamanya. Pihak sekolah menutup jendelanya dengan papan kayu, tetapi dari sela-selanya masih sering terlihat cahaya merah berkelap-kelip pada malam hari. Beberapa murid yang berani lewat mengaku mendengar suara kapur tulis menggores papan, meski tak ada siapa pun di dalam.
Kisah yang Tak Pernah Padam
Kini, sekolah itu masih berdiri di Waingapu, menjadi bagian dari cerita yang diwariskan turun-temurun. Warga percaya bahwa suara ayat terbalik itu bukan sekadar fenomena aneh, melainkan peringatan agar manusia tidak bermain-main dengan kata suci.
Setiap malam Jumat, suara bisikan masih terdengar, terutama menjelang pukul dua belas. Terkadang, kapur di ruang guru hilang begitu saja, lalu ditemukan keesokan harinya di depan ruang kelas tiga, dengan bekas tulisan merah di ujungnya.
Dan mereka yang mencoba menulis di papan tulis itu, konon akan bermimpi tentang seorang siswa berwajah pucat, berdiri di depan kelas sambil berkata pelan,
“Sekarang giliranmu membaca ayatku…”
Sejarah & Budaya : Sejarah Emansipasi Wanita dari Masa Kolonial ke Kini