Malam di Tepi Sungai Ogan
Bayangan pria bertanduk—itulah sebutan yang diberikan warga Desa Kelam untuk sosok misterius yang kadang muncul di tepi Sungai Ogan setiap malam Jumat. Sungai itu dulu menjadi sumber kehidupan, tapi kini hanya meninggalkan rasa takut yang dingin. Tak ada yang berani lewat selepas senja, kecuali satu orang:
Rendra, seorang mahasiswa asal Palembang yang datang untuk meneliti mitos sungai tersebut.
Awalnya, Rendra hanya menganggap semua itu tak lebih dari cerita rakyat. Tapi malam itu, ketika ia memutuskan untuk bermalam di dekat sungai, sesuatu yang tak bisa dijelaskan mulai terjadi.
Jejak Misterius di Sungai Kelam
Langit malam begitu pekat, hanya diterangi rembulan pucat yang memantul di permukaan air. Rendra menyalakan perapian kecil di pinggir sungai sambil menulis catatan di buku lapangannya.
Desa Kelam tampak tenang, terlalu tenang.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gemericik yang bukan dari sungai. Seolah ada seseorang berjalan di air dangkal. Ia menyorotkan senter ke arah suara, tapi tak menemukan siapa pun—hanya jejak kaki besar yang basah di lumpur, menuju semak belukar.
Jejak itu aneh. Panjang, dengan bekas seperti kuku di ujungnya.
Rendra mencoba menenangkan diri, tapi bau amis mulai memenuhi udara. Bau yang tajam, seperti darah dan tanah basah bercampur jadi satu.
Warga dan Rahasia Lama
Keesokan harinya, Rendra mendatangi rumah kepala desa, seorang pria tua bernama Pak Jafar. Saat ia menanyakan tentang jejak dan bau aneh semalam, Pak Jafar menatapnya tajam.
“Kau tidak seharusnya berada di sana malam-malam,” katanya lirih.
“Sungai Ogan menyimpan dendam, Nak. Dendam dari darah manusia.”
Rendra mendesak penjelasan. Akhirnya Pak Jafar bercerita tentang masa penjajahan Belanda. Dulu, banyak warga yang dipaksa bekerja membuka tambang batu di sekitar sungai. Salah satu pekerja, seorang lelaki bernama Tirta, menolak karena anaknya dibunuh tentara. Ia melawan, lalu ditangkap dan disiksa di tepi sungai itu.
Sebelum mati, Tirta bersumpah akan kembali menuntut balas. Konon, malam setelah ia dikubur di dasar sungai, air berubah hitam. Sejak itu, muncul sosok dengan tanduk panjang yang berjalan di tepi sungai—bayangan pria bertanduk.
Suara dari Dalam Air
Malam berikutnya, Rendra kembali ke tepi sungai, kali ini dengan alat perekam suara dan kamera. Ia bertekad membuktikan bahwa kisah itu hanya tahayul.
Namun ketika jam menunjuk pukul dua belas lewat lima belas, kamera mendadak merekam gangguan visual. Garis-garis statis muncul, lalu hilang.
Dari kejauhan terdengar suara berat seperti seseorang mengerang dari dalam air:
“Anakku… di mana… anakku…”
Rendra menyorotkan senter ke sungai, dan di antara kabut malam ia melihatnya—bayangan hitam berdiri di atas permukaan air. Sosok itu tinggi, dengan dua tanduk melengkung dari kepalanya dan mata merah menyala di kegelapan.
Bayangan itu menatapnya. Lalu satu langkah… dua langkah… air bergetar setiap kali kaki makhluk itu menyentuh permukaan.
Rendra mundur perlahan, tapi tanah di belakangnya lembek. Ia terperosok, dan senter jatuh ke sungai. Dalam cahaya samar, ia melihat wajah makhluk itu mendekat. Wajah manusia yang rusak—kulit robek, daging membusuk, dan mulut berisi gigi tajam.
Catatan yang Hilang
Keesokan harinya, warga menemukan tenda Rendra kosong. Hanya buku catatannya yang tergeletak basah di tepi sungai. Di halaman terakhir tertulis:
“Aku mendengar langkah di air. Suara itu memanggilku ‘Nak’… Aku melihat tanduknya muncul dari kabut. Dia… bukan manusia.”
Di bawah tulisan itu, ada bercak lumpur hitam yang mengering.
Pak Jafar melarang siapa pun mendekati sungai selama tujuh hari, tapi beberapa anak muda yang nekat mengaku melihat sesuatu di malam berikutnya: sosok pria berdiri di tepi sungai, membawa buku catatan di tangan kirinya—buku yang sama dengan milik Rendra.
Arwah yang Menyatu dengan Sungai
Beberapa minggu kemudian, seorang nelayan tua bernama Darto mengaku melihat hal yang lebih aneh. Saat ia memancing menjelang subuh, kailnya tersangkut pada sesuatu yang berat.
Ketika ia menariknya, yang muncul bukan ikan, tapi potongan pakaian manusia dan jam tangan yang masih berputar—jam yang diketahui milik Rendra.
Darto melapor ke kepala desa, tapi malam itu ia tak pernah pulang.
Istrinya menemukan perahunya hanyut dengan jejak tangan berdarah di sisi perahu, dan bau amis memenuhi udara.
Desa kembali diliputi ketakutan. Warga percaya, sungai itu kini menampung dua arwah: Tirta sang penambang dan Rendra sang pencari kebenaran—dua jiwa yang sama-sama tak bisa tenang.
Bayangan dari Kabut
Beberapa bulan kemudian, seorang jurnalis dari Palembang datang ke desa itu, bernama Hadi. Ia membawa rekaman video yang dikirim anonim—berisi gambar buram seorang pria berjalan di air dengan tanduk besar di kepalanya.
Dalam rekaman, sosok itu berhenti dan menatap kamera. Di dadanya tergantung kartu identitas mahasiswa dengan nama: Rendra Prakoso.
Hadi berusaha menelusuri lokasi perekaman dan menemukan titik yang sama di tepi Sungai Ogan.
Saat malam turun, ia mendirikan kamera dan menunggu. Tak lama kemudian, kabut turun perlahan. Dari arah seberang sungai, terdengar bunyi langkah pelan. Air bergolak tanpa angin.
Ketika ia menatap lensa kamera, sosok itu muncul perlahan dari kabut. Tanduk panjang, mata merah, dan di tangannya tergenggam buku catatan Rendra yang basah dan berlumpur.
Bayangan pria bertanduk itu berhenti di tepi sungai, lalu menunjuk ke arah Hadi.
“Kau… penulis berikutnya…”
Sebelum sempat berlari, kamera merekam Hadi jatuh ke tanah, diikuti suara tawa berat dari arah sungai.
Sungai yang Memanggil Nama
Kini, Sungai Ogan di Desa Kelam kembali sepi. Tak ada lagi nelayan yang berani melaut malam hari. Setiap kali kabut turun, warga hanya menutup jendela dan mematikan lampu.
Namun kadang, suara langkah di air tetap terdengar.
Pelan, berat, dan ritmis… seperti seseorang berjalan dengan beban di pundaknya.
Beberapa saksi mengaku melihat bayangan bertanduk itu berjalan di tepi sungai, menatap ke arah desa.
Dan di malam bulan purnama, jika kau berdiri cukup dekat, kau bisa mendengar bisikan yang berasal dari air hitam itu:
“Aku… masih di sini…”
Sejarah & Budaya : Upacara Kasada Suku Tengger di Gunung Bromo yang Sakral