Jeritan Anak Hilang dari Makam Tua Kutai Kartanegara Malam

Jeritan Anak Hilang dari Makam Tua Kutai Kartanegara Malam post thumbnail image

Malam yang Tidak Pernah Tenang

Jeritan anak hilang dari makam Kutai Kartanegara bukan hanya dongeng yang diceritakan orang tua kepada anak-anak agar tidak bermain di malam hari. Jeritan itu nyata. Ia terdengar setiap malam Jumat, selalu pada pukul 02.13 dini hari, dan hanya terdengar dari dalam komplek makam tua peninggalan kerajaan.

Siska, seorang mahasiswa antropologi dari Samarinda, datang ke Tenggarong untuk meneliti legenda masyarakat lokal. Ia tertarik dengan kisah makam Kutai karena laporan-laporan kehilangan anak kecil yang selalu dikaitkan dengan suara jeritan dari makam. Warga menolak membicarakannya terlalu jauh. Mereka hanya menyarankan, “Kalau kamu dengar suara anak kecil menangis… jangan jawab.”


Penelusuran ke Wilayah Terlarang

Siska memutuskan untuk menginap di rumah seorang juru kunci makam bernama Pak Dirja. Laki-laki tua itu hidup sendirian, dan matanya selalu tampak seperti menyimpan rahasia besar. Ia memberi izin Siska untuk meneliti, tapi dengan syarat: jangan menyalakan api atau cahaya apa pun antara pukul 2 sampai 3 pagi.

“Apa hubungannya cahaya dengan jeritan itu, Pak?” tanya Siska. “Karena suara itu… bukan berasal dari tempat yang bisa kamu lihat dengan mata biasa,” jawab Pak Dirja pelan.


Malam Pertama: Bayangan di Antara Nisan

Malam pertama, Siska mencatat data dan mengambil gambar nisan-nisan tua. Banyak di antaranya sudah patah atau miring. Ada satu nisan kecil, berlumut tebal, tanpa nama. Pak Dirja menyebutnya “Nisan Lapar”—karena setiap malam Jumat, sesajen yang diletakkan di depannya selalu lenyap sebelum subuh.

Pukul 02.13, suara itu datang. Jeritan panjang, melengking, seperti suara anak kecil yang sedang kesakitan. Siska gemetar dan ingin menyalakan senter, tapi ia ingat pesan Pak Dirja. Ia hanya menutup telinga dan memejamkan mata.

Dalam gelap, ia melihat sesuatu lewat—bayangan kecil yang berlari di antara nisan.


Rahasia Nisan Tanpa Nama

Keesokan harinya, Siska bertanya tentang nisan itu. Pak Dirja akhirnya bercerita. Puluhan tahun lalu, seorang anak laki-laki bernama Rehan hilang saat bermain petak umpet di sekitar area pemakaman. Ia tak pernah ditemukan. Saat ibunya meninggal karena sedih dan sakit, ia dimakamkan dekat lokasi terakhir Rehan terlihat. Anehnya, suara tangisan anak-anak mulai terdengar beberapa tahun setelah itu.

Warga percaya bahwa roh Rehan masih mencari ibunya. Tapi mereka juga percaya, semakin banyak orang yang mendengar jeritannya dan menjawab… akan makin kuat kehadirannya.

“Dulu ada dua anak remaja menjawab ‘Kamu di mana?’ saat jeritan itu terdengar,” kata Pak Dirja. “Besoknya, mereka hilang. Sampai sekarang tak ditemukan.”


Suara Itu Mengikuti

Siska mulai mendengar suara itu bahkan saat siang hari. Suara langkah kaki kecil mengikuti dari belakang, suara tawa anak-anak yang tiba-tiba berhenti. Di dalam rekaman suaranya, terdengar bisikan samar: “Temani aku…”

Ia merasa penglihatannya mulai terganggu. Bayangan anak kecil dengan mata putih polos muncul sekilas di antara pepohonan, lalu menghilang. Ia belum menyerah—ia ingin membuktikan bahwa semua ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Namun malam ketiga, segalanya berubah.


Pukul 02.13: Pintu yang Terbuka

Malam itu, tanpa sadar Siska menyalakan ponselnya karena panik. Cahaya dari layar memantul pada kaca jendela. Ia melihat sesuatu berdiri di belakangnya—anak kecil, mata putih menyala, tangan hitam seperti terbakar.

Jeritan terdengar lebih keras dari sebelumnya, dan kali ini diikuti bisikan, “Kamu melihatku. Sekarang temani aku.”

Pak Dirja mendobrak masuk ke kamar dan membacakan doa-doa dengan keras. Siska pingsan.


Pengakuan Terakhir

Saat sadar, Pak Dirja mengatakan bahwa Siska beruntung. Jika ia menyalakan cahaya satu menit lebih lama, jiwanya mungkin sudah tidak di tempat yang sama.

“Kamu sudah disentuh olehnya. Dia akan terus mencari kamu sekarang,” ujar Pak Dirja.

Siska meninggalkan Kutai Kartanegara keesokan harinya. Namun sejak itu, ia tidak bisa tidur saat malam Jumat. Jeritan itu masih datang—selalu tepat pukul 02.13. Tak peduli ia berada di kota manapun.


Legenda yang Terus Bernapas

Kini, makam tua itu masih berdiri. Nisan Lapar masih ada. Dan Pak Dirja, sang penjaga, belum pernah digantikan. Karena hanya dia yang tahu cara menenangkan Rehan.

Warga tetap percaya bahwa jeritan anak hilang dari makam Kutai Kartanegara bukanlah suara minta tolong, melainkan undangan.

Undangan yang, jika dijawab… tak akan membiarkanmu kembali.


Gaya Hidup : Gaji UMR Jogja: Bisa Hidup Layak atau Sekadar Cukup?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post