Awal yang Sunyi
Malam itu terasa begitu hening, hingga setiap detak jam di lorong rumah terdengar bergema. Sejak kecil, aku sering mendengar cerita tentang orang yang bisa keluar dari tubuh—melayang di sela-sela realita tanpa bisa kembali. Namun malam ini, aku mengalaminya sendiri. Awalnya, semuanya bermula dari kantuk yang luar biasa; aku terbaring di kasur sambil menanti mimpi datang. Kemudian, tanpa peringatan, tubuhku bagai tertarik ke atas, menjauh dari daging dan tulang yang diam di bawahku. Suara napasku teredam, sementara aku menyadari bahwa aku benar-benar keluar dari tubuh.
Dia terbaring dengan wajah tenang, hanya lampu redup di sudut kamar yang menjadi saksi bisu. Namun, perlahan, keheningan itu berubah menjadi bisikan lirih—seolah tirai realita terkoyak, memperlihatkan sosok bayangan di sudut. Aku tak bisa bergerak, meski kesadaranku begitu jernih. Kemudian, ketakutan pertama itu datang, menancap di kerongkongan.
Kamar yang Mencekam
Setelah berhasil menenangkan detak jantung yang tercepat, aku mencoba mengerti apa yang terjadi. Ruang kamar begitu familiar, tetapi aura di dalamnya menyesakkan. Bayangan panjang bergerak di dinding; entah apakah itu pantulan atau sosok lain yang tak kasat mata. Padahal, ketika aku menoleh, tak ada apa-apa selain diriku sendiri—dia yang terbaring itu—melihatku dengan mata tertutup rapat.
Meskipun tubuh astralku terapung di atas, pikiranku sibuk memikirkan cara kembali. Namun, semakin aku berusaha, semakin jauh rasanya. Suara gemerisik selimut membangkitkan kejanggalan: kain yang merekah menciptakan pola menyerupai tangan-tangan kecil. Suatu perasaan bahwa ada yang menunggunya di bawah sana, di antara lipatan kain.
Perpisahan yang Tak Terduga
Kemudian, ingatanku melayang kembali ke kisah orang-orang yang terperangkap dalam keadaan ini—mereka yang gagal kembali, menjadi jiwa penunggu ruang sepi. Bayangan di pojok kamar itu tiba-tiba bergerak cepat, meluncur ke arah tubuhku yang tidur. Jantung astralku berdegup kencang, tetapi tak ada otot yang bergerak. Dalam sekejap, bayangan itu menempel pada tubuhku, dan aku merasakan getaran dingin menembus jiwa.
Padahal, hingga detik itu, kata “keluar dari tubuh” terasa seperti mitos belaka. Namun kini, aku menyadari bahwa batas antara jiwa dan jasad begitu tipis. Meskipun panik, aku berusaha menarik diri kembali, seraya berbisik mengulang kata ajaib di dalam hati. Namun, yang kudapat justru jeritan tanpa suara—tubuh astralkku terperangkap di antara dua dunia.
Bayangan Mengintai
Selanjutnya, kegelapan menjadi selimut yang menelan segenap cahaya. Mimpi buruk ini berubah nyata ketika aku melihat bayangan itu menyentuh dahi diriku yang tidur. Tiba-tiba, aku mampu merasakan detak nadi yang menipis, udara kian sulit kutarik. Dalam kondisi setengah sadar, aku mendengar bisikan: “Jadilah kami.”
Kemudian, sosok lain muncul—bayangan yang sama persis dengan diriku, namun bermata merah menyala. Ia menatap tanpa berkedip, seolah menunggu undangan. Momen itu rasanya abadi: udara dingin menusuk, lantai kayu berderit sendiri, dan jendela bergetar seperti ada yang mengetuk dari luar. Ketika akhirnya pintu kamar terbuka perlahan, cahaya lorong menerobos, tetapi bayangan merah itu tetap di sana, membuat bulu kuduk meremang.
Kepulangan yang Suram
Akhirnya, di ambang batas kekosongan, aku memaksakan setiap serat roh untuk kembali. Tubuhku yang tidur berguncang hebat, napas tersengal-sengal ketika aku tiba-tiba terbangun. Namun, kelegaan itu segera sirna begitu kulihat sosokku sendiri terbaring—dengan mata terbuka lebar, memandang kosong ke langit kamar.
Padahal, aku yakin telah pulang. Meskipun begitu, pantulan diri di cermin memperlihatkan mata yang sama merah seperti bayangan tadi. Sebuah desahan sendu terlepas dari bibirku, menyadarkan bahwa sesuatu telah mengikuti pulang. Sejak malam itu, setiap kali aku terlelap, bayangan itu menunggu untuk “meminjam” tubuhku kembali.
Kini, setiap hirup udara malam hari berubah menjadi siksaan. Aku terus menghitung detik, takut saat aku kembali keluar dari tubuh pada malam berikutnya—terperangkap selamanya dalam kegelapan yang haus jiwa.
Inspirasi & Motivasi : Berpikir Realistis Kunci Menjadi Orang Kaya