Cerita Tukang Gali Kubur tentang Tamu Malam Tanpa Wajah

Cerita Tukang Gali Kubur tentang Tamu Malam Tanpa Wajah post thumbnail image

Sejak pertama aku menekuni profesi sebagai tukang gali kubur, kisah tentang tamu malam tanpa wajah selalu bergelayut di setiap sudut pekuburan tua di tepi desa. Selain dingin tanah segar yang menguar, suara sekop bergemerincing di kegelapan menimbulkan rasa ngeri yang tak tertahankan. Bahkan sebelum bulan menghilang di balik awan, jantungku sudah berdegup lebih cepat—karena aku tahu, malam ini adalah malam yang akan mengubah segalanya.


Awal Tugas yang Sunyi

Pertama-tama, aku tiba di kuburan saat senja menyisakan semburat jingga di langit. Sementara itu, para pelayat pulang lebih cepat dari biasanya, meninggalkanku sendiri bersama liang baru dan pepohonan cemara yang merunduk. Setelah menakar kedalaman liang, aku mulai mencangkul tanah liat yang padat. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berat di lorong sempit antara batu nisan. Selain itu, suara itu terhenti tiba-tiba, lalu terdengar bisikan lirih: “Tunggu…”

Lebih jauh, aku menoleh, tapi hanya melihat batu nisan retak dan akar pohon yang menjulur ke permukaan. Meski cahaya senter kukencangkan, bayangan di antara pepohonan tampak bergerak pelan. Tidak ada hewan, tidak ada orang—tetapi rasa waspada melonjak hingga ke ubun-ubun.


Gemerincing Sekop Tanpa Pemilik

Setelah itu, demi menepis rasa takut, aku kembali ke pekerjaan menggali. Akan tetapi, ketika sekopku menancap ke tanah, tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing lain—sekop lain, seakan ada yang menggali di sisi liang yang berlawanan. Padahal, aku sendirian. Jadi, aku menghentikan hentakan cangkul dan menunggu. Akhirnya, bunyi itu menghilang, berganti desahan panjang yang menembus udara malam.

Kemudian, kulihat sesosok berdiri di tepi liang—tinggi, dengan pakaian compang-camping, namun tanpa wajah. Kepalanya datar, tak menampakkan mata, hidung, atau mulut; hanya permukaan kulit yang berkerut. Ia memegang sekop tua, dan tanpa berkata apa-apa, melayangkan alat itu ke tanah dengan ritme yang sama denganku.


Bisikan dari Dalam Tanah

Selanjutnya, aku mengambil napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun, desakan angin malam membawa bisikan dari dalam liang: “Bayar utang…” kata-kata itu terulang sambil gemerincing sekop semakin cepat. Lebih jauh, tanah di dasar liang bergolak, seperti ada yang mengepalkan tangan dan mendorong tubuhku ke dalam.

Sontak aku melompat mundur, dan saat itu pula sosok tanpa wajah menghilang. Namun, di permukaan tanah tiba-tiba tercetak jejak kaki besar, lingkaran-lingkaran kasar yang mengarah ke pusara tua di pojok pekuburan. Tanpa ragu, aku bergegas mengikuti jejak itu, padahal hati kecil memohon: jangan!


Pusara Tua yang Menangis

Ketika aku tiba di pusara, bulan sudah tinggi dan udara semakin pengap. Kubuka penutup makam kayu lapuk, dan di dalamnya terdapat tengkorak berlumuran lendir hitam—lembaran kain kafan tersobek setengah, seakan baru saja dicabut. Tiba-tiba, aku mendengar suara tangisan—bukan tangisan manusia, melainkan ratapan panjang yang menyayat hati.

Lantas, aku menyadari bahwa ini bukan makam biasa: pusara itu milik tukang gali kubur pertama di desa, yang konon mengkhianati sumpahnya dan menanam korban hidup-hidup. Akibatnya, arwahnya terperangkap tanpa wajah, menuntut ganti nyawa sebagai tebusan.


Pertemuan Mengerikan

Kemudian, bayangan sosok tanpa wajah muncul kembali, berdiri di atas pusara. Kali ini, ia menunduk, memperlihatkan rongga gelap di mana wajah seharusnya berada. Tanpa ragu, aku menyentuh tengkorak tua itu, dan seketika teriakan menggema di pekuburan, menembus dada. Sekop di tanganku terlepas, menciptakan suara denting yang menggema sepanjang malam.

Selanjutnya, sosok itu mendekat perlahan, tanpa kaki nampak menyentuh tanah—seakan melayang di atas kabut tebal. Setiap napasnya terdengar berderu, menandai amarah arwah yang belum tuntas. Aku terperangah, namun ingatanku terpaku pada satu hal: kutukan hanya bisa diputus dengan janji suci.


Ritual Tolak Bala

Oleh karena itu, aku teringat mantra yang diwariskan turun-temurun di keluargaku: “Dengan nama yang hidup, kut siapa meremukkan rantai kematian…” Sambil menggenggam rosario perak, aku melantunkannya perlahan. Sesaat, sekop di tanah gemetar, lalu gemerincingnya berhenti total. Meskipun demikian, sosok tanpa wajah masih berdiri diam.

Akhirnya, aku mengangkat tengkorak sambil melanjutkan doa, menekankan niat membebaskan arwah dari penderitaan. Tiba-tiba, kabut pekat menyelimuti seisi pekuburan, dan suara jeritan bergulung-gulung sebelum meledak satu kali: ledakan gaung yang memecah keheningan. Ketika kabut menghilang, sosok itu telah lenyap, meninggalkan tengkorak yang hancur menjadi debu halus.


Fajar yang Penuh Luka

Akhirnya fajar menyingsing, dan aku terbaring lemas di samping liang. Sekopku bersih, tanah kembali rata, seakan tak pernah ada penggalian. Meski demikian, pundakku pegal, dan suara detak jantungku terasa berat. Semua makam tampak tenang, pepohonan pun tidak lagi merunduk menyeramkan.

Namun, sebelum pergi, aku menandai pusara tua dengan bunga segar dan membacakan doa terakhir. Selain sebagai bentuk penyesalan, ini juga jaminan agar arwah itu benar-benar berpulang. Rasa takut masih membekas di relung jiwa, tetapi setidaknya aku tahu—aku telah memenuhi sumpah suci tukang gali kubur: menjaga batas antara hidup dan mati.

Bisnis & Ekonomi : Merek Otomotif China di Indonesia: Peluang dan Tantangan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post