Kembalinya ke Rumah Masa Kecil
Pada suatu malam yang sunyi, aku kembali ke rumah masa kecil—tempat kenangan manis dan luka lama tersimpan. Namun begitu melangkah melewati teras, suara panggilan ibu terdengar samar, memecah kesunyian. Meskipun pintu kamar di ujung lorong sudah terkunci mati sejak bertahun lalu, getaran nada suaranya membuat tulang rusukku bergetar.
Kilas Balik yang Menghantui
Selanjutnya, ingatan masa kecil kembali menyeruak. Dahulu, aku sering memanggil “Ibu…” di kamar ini, berharap pelukan hangatnya. Namun seiring waktu berlalu, ia pergi tanpa pesan. Kini, kembali ke ruang itu, semua kenangan berbaur menjadi gelap, menimbulkan kerinduan sekaligus ketakutan.
Langkah Pertama di Lorong Panjang
Kemudian, aku melangkah perlahan menyusuri lorong berkarpet lusuh. Cahaya lampu temaram menari di dinding, menciptakan bayangan yang tampak hidup. Sementara itu, suara panggilan ibu semakin jelas, memanggilku untuk membuka pintu yang terkunci oleh kunci besi tua—kunci yang tak pernah kuberani sentuh.
Bisikan dan Dentuman Pintu
Setelah itu, bisikan lembut menggema di telinga: “Nak…” Seketika, telapak tanganku membeku di gagang pintu. Bahkan detak jantungku terasa terdengar di setiap sudut kepala. Lebih jauh, terdengar dentuman pelan setiap kali aku mengangkat tangan ingin mengetuk, meski aku tahu pintu itu terkunci rapat.
Jejak Kaki di Permadani
Kemudian, aku menoleh dan melihat jejak-jejak kaki kecil terpatri di permadani tua. Jejak itu basah, seperti baru saja menapaki lorong. Sementara napasku terengah, aku mencoba mendekati, namun jejak itu memudar di tikungan—membiarkanku terhanyut antara rasa penasaran dan ketakutan yang mencekam.
Cahaya Penerang yang Padam
Selanjutnya, aku menyalakan lampu senter di ponsel. Namun sinarnya sekonyong-konyong padam, digantikan kilatan kelabu yang menembus celah pintu. Meskipun gelap menggulung cepat, aku masih bisa menebak siluet pintu—besi kuno dengan paku besar mengunci rapat. Bahkan udara di sekitar terasa lembab dan berat.
Denting Jam Tua dan Suara Gaib
Lebih dari itu, dari ruang tengah, terdengar denting jam tua—suara yang sama saat Ibu masih hidup. Dentangannya menghitung waktu yang seakan berhenti sejak peristiwa tragis itu. Kemudian, diiringi suara gaib, suara panggilan ibu muncul lagi, memanggil dengan nada memohon dan menyeramkan.
Percobaan Membuka Pintu
Setelah menahan napas, aku mengambil kunci cadangan yang kutemukan di laci antik. Dengan gemetar, aku memasukannya ke lubang kunci. Meski semula berat, tiba-tiba kunci berputar sendiri, menimbulkan bunyi kretek yang membuat bulu kuduk meremang. Namun aku tak bisa mundur, karena suara Ibu memanggil semakin mendesak.
Petualangan di Balik Pintu Terkunci
Kemudian, pintu terbuka setengah, menyingkap lorong gelap yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kabut tipis menyelimuti lantai, dan aroma dupa terbakar menyeruak. Bahkan lampu-lampu gantung di langit-langit bergetar, seolah ada tangan tak terlihat sedang memetiknya. Perlahan, aku mendorong pintu lebih lebar, memasuki misteri yang menanti.
Sosok Bayangan Ibu yang Membisu
Sesaat kemudian, kulihat sosok perempuan berbalut kain putih—tidak lagi seperti Ibu yang kukenal. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan ia berdiri tanpa suara. Meskipun ia membuka mulut seolah hendak berkata, tak ada suara keluar kecuali hembusan napas dingin. Sedetik kemudian, bayangan itu lenyap ke sudut gelap.
Jeritan Terakhir dan Kegelapan
Selanjutnya, di belakangku terdengar jeritan lirih yang menyayat: “Jangan tinggalkan aku…” Rasanya seperti Ibu menjerit dari dasar bumi, memanggilku pulang. Namun lorong itu tiba-tiba tertutup kabut pekat, menelan semua cahaya. Aku terdiam, hanya suara detak nadi dan tetesan keringat dingin menemani.
Pelarian Menuju Pagi
Kemudian, entah bagaimana aku berbalik dan berlari menuruni tangga kayu. Setiap langkah menimbulkan suara retakan keras di papan. Terakhir, sebelum mencapai pintu depan, suara panggilan ibu berhenti mendadak, digantikan hening yang memekakkan. Saat kuketuk pintu luar, ia membuka sendiri, membiarkanku keluar ke cahaya fajar.
Bayangan yang Tak Pernah Hilang
Akhirnya, meski terlepas, bayangan malam itu terus menghantui. Bahkan di siang hari, aku masih mendengar deting jam tua dan bisikan memanggil. Setiap kali aku melewati lorong, bayangan pintu terkunci itu terasa menatap, menunggu kunjungan selanjutnya. Dan suara itu, suara panggilan ibu, tak pernah berhenti meninggi dalam ingatanku—menjadi kengerian yang abadi.
Lifestyle : Rahasia Gaya Casual Elegan untuk Penampilan Sehari-hari