Kisah Penunggu Sungai Mahakam Yang Menagih Janji Malam

Kisah Penunggu Sungai Mahakam Yang Menagih Janji Malam post thumbnail image

Tahlilan dan Gang yang Mengarah ke Air

Mula-mula aku pulang ke Samarinda untuk tahlilan paman. Di tengah doa, janji mahakam mendadak menekan dadaku. Meski ruangan ramai, telingaku seperti mencari bunyi air.

Sejenak aku keluar karena kepala pengap oleh asap kopi. Dari dalam rumah, bacaan doa masih menyusul pelan. Di sisi lain, angin membawa bau lumpur yang tajam.

Ponselku bergetar dan membuatku refleks menoleh. Tepat sesudah itu, pesan masuk dari nomor tak dikenal: “Kamu pulang. Bagus. Sekarang ingat.” Walau ingin mengabaikan, jariku tetap membuka layar.

Angkanya tidak lengkap, seperti ada digit yang “hilang.” Bahkan beberapa bagian tampak kosong meski sinyal penuh. Akibatnya, rasa dingin merambat sampai tengkuk.

Ujung gang mengarah ke dermaga kayu tempat aku dulu memancing. Dulu paman sering menertawakan ketakutanku pada sungai. Karena ingatan itu, langkahku bergerak sendiri, pelan tetapi pasti.

Dari kejauhan, bunyi “pluk” halus terdengar berulang. Suara itu terasa datang dari bawah permukaan. Sementara itu, malam merapat seperti kain gelap yang ditarik pelan.


Dermaga Retak dan Kabut yang Menutup Tengah Sungai

Di depan sana, kayu dermaga tampak retak dan kusam. Satu lampu kuning menggantung malas di tiang listrik. Akibat sorotnya, bayangan papan memanjang seperti tangan.

Kabut tipis mulai naik dari Mahakam. Perlahan kabut itu menutup bagian tengah sungai. Karena tertutup, arus hitam terlihat seperti kain berlipat.

Di ujung dermaga, perahu kecil masih tertambat. Anehnya, tali tambatnya basah seperti baru dicelup. Selain itu, papan perahu penuh bekas telapak tangan kehijauan.

Aku maju setengah langkah karena penasaran. Pada saat yang sama, arus yang tadi tenang membentuk pusaran kecil. Bentuk pusaran itu mirip mata yang baru dibuka.

Dari kabut, bisikan memanggil, “Bayu…” Namaku terdengar jelas. Meski begitu, suara itu tidak memantul. Rasanya justru keluar dari air langsung.


Kalimat Panik yang Dulu Kuucapkan

Ingatan lama menampar kepala tanpa izin. Malam banjir itu pernah hampir menelan kami. Saat itu paman menyeretku ke tepi dengan sisa tenaga.

Aku ingat aku berteriak ke sungai dengan mulut gemetar. Kalimatnya pendek dan bodoh: “Kalau selamat, nanti aku bayar!” Sesudahnya, kami benar-benar selamat.

Tahun berjalan, lalu aku merantau jauh. Seiring waktu, aku menertawakan cerita penunggu. Namun Mahakam rupanya tidak pernah menghapus catatan.

Aku menatap jari telunjuk. Di bawah kuku, garis hitam tipis tampak seperti tinta. Pelan-pelan garis itu merambat ke kulit.

Huruf kecil terbentuk: “JANJI.” Karena panik, aku menggosoknya keras. Alih-alih pudar, tulisan itu justru makin tegas.


Nelayan Tua dan Garis Garam

Suara serak memecah hening: “Jangan sentuh airnya.” Di belakangku, nelayan tua berdiri dengan jaring di bahu. Tatapannya sayu, tetapi tajam.

“Kamu keluarga almarhum?” tanyanya singkat. Aku mengangguk, lalu menahan napas. Meski ada manusia, suasana tetap terasa salah.

Nelayan itu tidak mendekat sama sekali. Sebaliknya, ia menunjuk perahu. “Kalau perahu itu sudah menunggu, jangan naik.”

Setelah itu, suaranya turun menjadi bisik, “Kalau namamu dipanggil dari kabut, jangan jawab.” Ucapannya terdengar seperti aturan tua yang sering terlambat.

Pertanyaan keluar begitu saja, “Siapa yang manggil?” Ia menghela napas panjang. Di sisi lain, kabut tampak bergerak mendekat.

“Penunggu,” jawabnya singkat. “Dia penagih, bukan hantu.” Lalu matanya jatuh ke kukuku yang menghitam, “Kamu sudah ditandai.”

Nelayan itu menabur garam ke papan dermaga. Anehya, garam tidak menyebar. Butir-butirnya justru membentuk garis lurus seperti batas.


Perahu Menepi Tanpa Ada yang Mendayung

Tali tambat perahu mengendur sendiri. Sesaat kemudian, simpulnya terbuka rapi. Akibatnya, perahu merapat ke ujung dermaga, pelan namun pasti.

Kayu perahu bergesek dan mengerang lirih. Sementara itu, kabut mengental seperti napas dingin. Karena tegang, aku menelan ludah berkali-kali.

Nelayan tua berbisik, “Kalau dia dekatkan perahu, itu ajakan bicara.” Aku bertanya dengan suara turun, “Kalau aku menolak?” Ia diam lama.

Akhirnya ia menjawab, “Mahakam tetap minta. Cuma cara mintanya beda.” Pada saat yang sama, air di sisi perahu bergelembung kecil.

Dari permukaan, sesuatu muncul: tangan hitam berkilau dengan jari panjang seperti akar. Tangan itu mengetuk lambung perahu tiga kali: tok… tok… tok… Bunyi ketukannya terasa sampai tulang.

Ponselku bergetar lagi. Pesannya lebih pendek: “Bayar malam ini.”


Suara Paman yang Terlalu Sempurna

Aku mencoba menawar dengan mulut kering. “Aku bisa bayar uang,” bisikku. “Aku bisa sedekah.” Namun sungai tidak menjawab dengan kata.

Keheningan turun berat seperti selimut. Di sisi lain, kabut menyusun suara yang kukenal. Suara itu mirip paman—lembut, akrab, dan tepat.

“Bayu… sini,” katanya. Nada itu terlalu sempurna. Bahkan jeda napasnya terasa dibuat.

Meski begitu, kakiku hampir melangkah ke perahu. Nelayan tua mendesis, “Jangan percaya suara yang kamu rindukan.” Tangannya menunjuk garis garam.

“Lewat garis itu, kamu masuk wilayahnya,” tambahnya pelan. Seketika perahu merapat lagi, seolah memaksa keputusan. Selain itu, papan perahu memunculkan ukiran basah: “BAYU.”


Memilih Bahaya yang Terlihat

Jalan pulang ke gang terasa memanjang seperti diregangkan. Setiap langkah seperti ditahan. Karena panik, aku menoleh ke nelayan tua, mencari celah lain.

Ia menatapku lama dan tidak berkedip. “Dengar dia dulu,” katanya. “Kalau tidak, dia datang ke rumah.”

Bayangan tahlilan melintas di kepala. Aku membayangkan air menetes dari plafon ruang tamu saat orang-orang berdoa. Akibatnya, aku memilih bahaya yang terlihat daripada yang merayap diam-diam.

Aku melangkah ke perahu dengan kaki gemetar. Meski tubuh menolak, telapak seolah diseret. Sementara itu, nelayan tua tetap di dermaga.

Dua pesan ia lempar pelan: “Jangan lihat ke belakang di tengah.” Pesan kedua menyusul, “Jangan sebut namamu.” Lalu perahu bergerak tanpa dayung.


Tengah Mahakam dan Tirai Kabut yang Terbelah

Suara kota menghilang setelah beberapa meter. Yang tersisa cuma derit kayu dan gemericik air. Di sisi lain, kabut menelan lampu dermaga sampai lenyap.

Perahu berhenti mendadak seperti ditahan sesuatu. Tepat setelah itu, kabut di depan membuka celah seperti tirai. Dari celah itu, sosok tinggi muncul.

Kulitnya hitam berkilau seperti ikan. Wajahnya tidak ada—hanya permukaan licin retak seperti dasar sungai. Air menetes dari “kepalanya,” namun jatuh tanpa bunyi.

Aku ingin berteriak, tetapi tenggorokanku mengunci. Sosok itu mengangkat tangan akar. Di ujung jarinya, cincin paman berkilat.

Dadaku ambruk karena cincin itu dikubur siang tadi. Suara lalu masuk ke kepalaku, bukan ke telinga: “Janji kamu. Bayar.” Pada saat yang sama, tulisan “JANJI” di kuku terasa panas.


Tiga Harga untuk Satu Janji

Aku memaksa bertanya, “Apa yang kamu mau?” Kalimat itu nyaris pecah. Sementara itu, kabut berputar seperti menghitung.

Jawaban datang dingin: “Suara. Darah. Nama.” Setelah itu, perahu bergoyang ringan seolah menunggu pilihan.

Aku berpikir cepat di bawah tekanan. Darah berarti luka yang tak selesai. Nama berarti hidup tanpa identitas.

Karena itu, aku memilih yang terasa “paling ringan”: suara. “Ambil suaraku,” bisikku, “asal aku pulang.” Begitu kata terakhir keluar, dingin menyentuh tenggorokanku tanpa sentuhan.

Aku mencoba berteriak, tetapi yang keluar hanya hembusan. Akibatnya, kepanikan meledak di dada tanpa suara. Sosok itu mundur, dan kabut menutup kembali.


Kembali ke Dermaga, Pulang dengan Kekosongan

Lampu dermaga muncul lagi, redup dan kotor. Perahu menabrak pelan lalu diam. Aku jatuh tersungkur di papan kayu, batuk tanpa suara.

Nelayan tua menarik lenganku, lalu menatap tenggorokanku. “Kamu pilih apa?” tanyanya. Aku menunjuk leher dengan tangan gemetar.

Ia mengangguk perlahan, seolah sudah menduga. “Kamu selamat,” katanya, “tetapi penagih tidak pernah benar-benar selesai.” Di sisi lain, garis garam di dermaga tampak pudar seperti disapu embun.

Aku pulang ke rumah tahlilan. Ibu menatapku dan bertanya kenapa pucat. Mulutku terbuka, namun tidak ada bunyi.

Malam berikutnya, tepat pukul 02.17, air menetes dari plafon kamarku. Tetesannya membentuk kata di lantai: “SISA.” Karena aku paham, janji mahakam bukan sekali bayar.

Dan selama Mahakam mengalir, penagihnya selalu punya cara mengingatkan. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan lubang kecil di hidup yang tidak bisa kutambal.

Food & Traveling : Tradisi Kuliner Unik dari Desa-Desa di Indonesia Timur

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post