Senja yang Terlalu Cepat Padam
Mula-mula aku datang ke Jatiluwih untuk memotret terasering saat senja. Namun, sebelum matahari benar-benar tenggelam, kabut menetes seperti kain basah. Selain itu, suara air subak terdengar seperti bisik yang disembunyikan batu. Karena itulah aku mempercepat langkah, berharap sempat kembali ke parkiran.
Di petak sawah bawah, boneka jerami berdiri sendirian. Lalu aku mengira itu hanya orang-orangan biasa. Akan tetapi, bentuknya terlalu rapi, seperti baru dipasang sore ini. Sementara itu, tidak ada petani yang terlihat, padahal biasanya masih ada yang menutup saluran. Meski begitu, aku tetap menyalakan kamera, sekadar mengambil satu frame.
Cahaya terakhir mengusap jerami itu seperti mengusap kulit. Kemudian, tanpa angin, bagian “kepalanya” miring sedikit. Setelah itu, bulu kudukku naik, karena geraknya seperti sadar sedang diperhatikan. Pada detik berikutnya, nada gamelan tipis terdengar dari arah yang tidak jelas.
Pematang Licin dan Bau Dupa di Angin
Langkahku menurun lewat undakan batu. Namun pematang di depan terlihat lebih sempit dari biasanya. Selain itu, lumpur di sisi jalan menghitam seperti tinta. Karena takut terpeleset, aku berjalan pelan, sambil menahan napas.
Dari saluran irigasi, air mengalir tenang, tetapi bunyinya seperti kata-kata yang dipecah. Lalu gamelan itu muncul lagi, lebih dekat, meski tetap jauh. Di sisi lain, bau padi muda mendadak kalah oleh aroma dupa. Dengan begitu, suasana terasa seperti upacara yang tidak mengundang manusia.
Aku menyorotkan senter kecil ke petak bawah. Akan tetapi, jarak pandang seperti dipotong kabut. Sementara itu, boneka jerami tampak tidak lagi di tempat semula. Bahkan, jejak gelap terlihat di lumpur, mengarah dari petak bawah ke pematang. Karena jantungku memukul dada, aku berhenti, menunggu kabut “membetulkan” penglihatanku.
Jejak Tanpa Jari dan Suara “Pluk” yang Mengikuti
Di dekat pematang, jejak kaki itu terlihat besar. Namun ujungnya bulat, tanpa pola jari. Selain itu, kedalamannya seragam, seperti dicetak. Karena penasaran, aku membungkuk untuk memastikan. Lalu air sawah di sampingku beriak pelan, padahal angin tidak bergerak.
Dari belakang, bunyi “pluk” terdengar sekali. Kemudian “pluk” kedua menyusul, lebih dekat. Setelah itu, “pluk” ketiga muncul tepat di sisi pematang, seolah ada yang baru naik dari petak air. Meski begitu, tidak ada apa pun yang terlihat.
Aku mencoba menenangkan diri dengan tertawa kecil. Akan tetapi, tawa itu patah di tenggorokan. Sementara itu, jerami-jerami halus yang menempel di pinggir pematang bergerak seperti disisir. Karena takut, aku mundur selangkah. Di saat yang sama, jejak baru terbentuk di lumpur—tepat di belakang tumitku.
Petani Tua yang Tidak Mau Menatap Sawah
Suara batuk memecah sunyi. Dari bawah pohon kelapa, seorang petani tua berdiri, membawa lampu minyak kecil. Namun wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, sebab cahaya lampu sengaja diarahkan ke tanah. Selain itu, ia menatap pematang, bukan petak sawah.
“Kamu cari siapa?” tanyanya singkat. Karena lega melihat manusia, aku menjelaskan soal foto dan kabut. Lalu aku hampir menyebut namaku, tetapi petani itu mengangkat telunjuk cepat. “Jangan sebut nama di sini,” katanya, datar namun tegas.
Aku mengernyit. Akan tetapi, nada suaranya membuatku patuh. Sementara itu, gamelan di kejauhan mendadak berhenti, seperti ditutup paksa. Karena kebekuan itu, suara air subak terdengar makin keras. Dengan pelan, petani tua menambahkan, “Kalau kamu sebut, sawah ingat. Kalau sawah ingat, boneka jerami ikut ingat.”
Boneka Itu Turun, Kabut Itu Naik
Petani tua memberi isyarat agar aku berjalan di belakangnya. Namun ia tidak menoleh, seolah takut menatap sesuatu yang bisa “membalas.” Selain itu, langkahnya selalu memilih bagian pematang yang paling kering, seakan sudah hafal tempat aman.
Dari petak bawah, bunyi “pluk” kembali terdengar. Lalu suara itu menjadi ritme: pluk… pluk… pluk… Sementara itu, kabut naik sedikit demi sedikit, seperti air pasang yang tidak basah. Meski begitu, petani tua tetap menjaga jarak langkah, tidak cepat, tidak lambat.
Aku melirik lewat sudut mata. Akan tetapi, cukup satu lirikan itu membuat nadi di leherku mengencang: boneka jerami bergerak di petak bawah. Geraknya patah, namun arahnya pasti. Selain itu, jerami di lengannya tampak basah, lalu mengembang seperti napas.
“Jangan lari,” bisik petani itu. “Kalau lari, dia mengira kamu main.” Karena peringatan itu, aku memaksa kaki tetap patuh, walau pikiranku ingin meloncat ke jalan utama.
Pantulan di Air dan “Wajah” Jerami yang Miring
Di depan kami ada petak sawah yang airnya tenang seperti kaca. Namun kaca itu tidak memantulkan langit, melainkan memantulkan sesuatu di belakang. Selain itu, pantulan itu bergerak, bukan airnya.
Aku tidak menoleh. Lalu aku memusatkan mata ke pantulan saja. Di sana, boneka jerami berdiri di pematang yang barusan kami lewati. Setelah itu, “kepalanya” miring lagi, seperti menahan rasa ingin tahu. Meski tidak punya mata, aku merasa ditatap.
Petani tua mengeluarkan segenggam beras dari kantong kain. Kemudian ia menaburkannya ke air. Dengan begitu, butir-butir beras membentuk lingkaran yang berputar pelan. Sementara itu, gamelan muncul lagi, tetapi nadanya seperti dibalik, membuat dada terasa sesak.
Dari arah belakang, suara serak terdengar, seperti daun kering digosok: “Wi… ra…” Aku tersentak. Namun mulutku tetap tertutup. Selain itu, petani tua mencengkeram pergelanganku agar aku tidak bereaksi.
Menahan Nama, Menahan Napas, Menahan Mata
Petani tua berbisik, “Dia cari nama.” Lalu ia menekan tanganku pelan, seakan mengajarkan cara menahan panik. Di sisi lain, bunyi lumpur semakin dekat, tetapi tetap tidak terlihat. Dengan begitu, ketakutan terasa seperti tangan yang menyentuh tanpa wujud.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Namun napas tetap bocor, cepat dan dangkal. Sementara itu, air sawah di depan beriak kecil, seperti ada jari yang mengaduk. Meski begitu, aku memaksa mata tidak berkedip, karena setiap kedipan terasa seperti membuka pintu.
Petani tua melantunkan gumaman pendek. Kemudian ia menyelipkan kata-kata pengikat yang seperti urutan: “lalu… kemudian… setelah itu…” Setelah itu, gamelan di kejauhan ikut melambat, seolah terikat oleh ritme gumamannya. Selain itu, kabut tampak ragu, seperti tidak yakin harus menutup atau membuka.
Di belakang, suara serak itu mencoba lagi: “Wi… ra…” Lalu jedanya panjang, seakan menunggu balasan. Karena aku tetap diam, petani tua menaburkan beras terakhir, kali ini ke arah belakang kami.
Kabut Terbelah dan Tangga Batu yang Tidak Sama
Beras jatuh seperti hujan kecil. Sesaat kemudian, bunyi “pluk” berhenti. Namun keheningan itu lebih menakutkan dari bunyi. Selain itu, kabut mendadak menipis, seperti ada tangan yang menarik tirai.
Petani tua menarikku maju. Lalu kami bergerak dengan lari pelan, bukan sprint. Dengan begitu, langkah kami tidak terdengar “menantang.” Sementara itu, pematang terasa memanjang, seperti sengaja dibuat jauh. Meski begitu, tangga batu akhirnya muncul di depan, menuju jalan utama.
Begitu sampai di atas, aku menoleh cepat. Namun yang kulihat membuat perutku mengeras: boneka jerami berdiri di pematang, diam, seolah puas. Selain itu, jerami-jerami di tubuhnya bergerak pelan seperti tertawa tanpa suara.
Petani tua berkata, “Sekarang sebut namamu sekali.” Lalu ia menambahkan, “Di tanah kering.” Karena bingung, aku menuruti. Aku menyebut “Wira” dengan suara serak. Sesaat kemudian, dada terasa lebih ringan, seperti beban yang dilepas.
Pagi yang Terlihat Normal, Tetapi Tidak Benar-Benar Aman
Keesokan paginya, aku kembali dengan dalih mencari tripod yang mungkin tertinggal. Namun terasering tampak normal, ramai petani, ramai turis. Selain itu, kabut tidak ada, seolah malam kemarin hanya mimpi.
Aku turun ke petak bawah. Lalu aku mencari titik tempat boneka jerami berdiri. Akan tetapi, tidak ada orang-orangan di sana. Sementara itu, jejak-jejak aneh juga tidak terlihat. Meski begitu, sesuatu membuatku berhenti: di pematang dekat saluran, ada patok bambu baru.
Pada patok itu, jerami basah diikat rapi. Kemudian aku melihat ukiran kecil di bambu. Dengan pelan aku membacanya: “Wira.” Setelah itu, tenggorokanku langsung kering, karena ukirannya segar, seperti baru dibuat pagi ini. Selain itu, di bawah ukiran, ada bekas jari lumpur yang bulat tanpa pola.
Aku mundur. Lalu dari kejauhan, gamelan terdengar lagi, tipis, patah, seperti malam kemarin. Karena tidak ingin menguji batas, aku berbalik dan berjalan pergi.
Pulang Membawa Foto, Tapi Kehilangan Keberanian
Di kamar penginapan, aku memeriksa foto-foto. Namun semua frame terasering bagus, semua cahaya sesuai harapan. Selain itu, satu foto yang kuambil saat senja tampak “kosong” di bagian petak bawah. Boneka jerami tidak ada, padahal aku yakin melihatnya. Meski begitu, ada sesuatu lain: garis jerami samar di kabut, seperti siluet yang bergerak.
Aku menutup laptop. Lalu aku menahan diri untuk tidak memikirkan itu lagi. Akan tetapi, setiap kali aku menutup mata, bunyi “pluk” muncul di kepala. Sementara itu, kata “Wi… ra…” seperti menggantung, menunggu dijawab.
Sejak hari itu, aku tidak pernah menyebut namaku sembarangan di sawah. Bahkan, kalau kabut turun, aku memilih diam. Karena aku paham, di Jatiluwih, sawah bukan sekadar tempat padi tumbuh. Dengan cara yang tidak manusiawi, sawah juga mengingat—dan boneka jerami berjalan ketika sawah memanggil nama.
Kesehatan : Manfaat Tidur Berkualitas bagi Kinerja Otak dan Imun Tubuh