Dermaga Retak dan Kabut yang Datang Terlalu Cepat
Mula-mula aku hanya ingin pulang cepat setelah liputan singkat di pinggir Danau Toba. Namun, saat matahari tenggelam, kabut turun seperti kain basah, dan perahu kosong muncul di ujung dermaga yang retak. Selain itu, air mendadak tenang, seolah menahan napas, padahal tadi angin masih mengacak permukaan.
Di dekat papan kayu yang lapuk, seorang nelayan tua duduk diam. Tatapannya kosong, tetapi telinganya seperti selalu mendengar sesuatu. Karena penasaran, aku bertanya apakah masih ada kapal penyeberangan. Alih-alih menjawab, ia menunjuk ke arah kabut. “Kalau ada yang lewat tanpa orang,” katanya pelan, “jangan kamu panggil.” Ucapannya sederhana, namun rasanya berat, seperti batu yang dilempar ke dada.
Sesaat kemudian, derit halus terdengar. Bukan mesin, melainkan suara kayu bergesek. Ketika aku menoleh, perahu kosong itu bergerak pelan, padahal tak ada ombak yang mendorong. Sementara itu, tali tambatnya terlihat masih terikat, tetapi longgar seperti sudah sering dilepas. Karena cuaca makin gelap, aku ingin mundur. Akan tetapi, kakiku tetap maju setengah langkah, seperti ditarik rasa ingin tahu.
Lampu Minyak di Atas Air dan Nama yang Dipanggil Pelan
Perlahan perahu itu mendekat ke dermaga. Di haluannya ada lampu minyak kecil, nyalanya kuning pucat. Anehya, api itu tidak bergoyang, meski angin menusuk dari danau. Karena lampu itu satu-satunya titik terang, mataku terpaku. Lalu aku sadar: bayangan lampu di permukaan air tidak lurus, tetapi melengkung, seolah ada tangan di bawah danau yang mengaduk.
Nelayan tua itu berdiri. “Kamu orang kota,” katanya. “Biasanya kalian suka ambil gambar.” Aku tersenyum canggung, lalu mengangkat kamera. Namun, saat lensa mengarah ke perahu kosong, layar kameraku mendadak gelap. Selain itu, baterainya turun drastis, seperti dihisap. Aku menurunkan kamera dengan kesal, tetapi nelayan itu justru menggeleng pelan. “Bukan alatmu yang rusak,” bisiknya. “Yang ada di sana tidak suka direkam.”
Tiba-tiba dari kabut terdengar suara seperti orang memanggil namaku: “Raka…” Suaranya lembut, namun dingin. Aku menoleh ke nelayan tua, berharap ia menyangkal. Akan tetapi, ia hanya berkata, “Kalau namamu dipanggil, jangan jawab.” Karena jantungku berdegup keras, aku mengangguk cepat. Meski begitu, perahu kosong itu seperti menunggu jawaban.
Menyentuh Dayung dan Membuka Jalur yang Tidak Pulang
Aku mencoba mundur. Namun papan dermaga mengeluarkan bunyi patah, dan aku kehilangan keseimbangan. Dengan refleks, tanganku meraih sesuatu. Yang kuraih adalah dayung yang menonjol dari perahu. Seketika, dingin merambat dari telapak tanganku sampai ke siku. Di saat yang sama, kabut mengental, dan suara daratan seolah dijauhkan.
Nelayan tua itu melangkah cepat. “Lepaskan!” katanya, kali ini tegas. Namun terlambat. Begitu jari-jariku menggenggam, perahu kosong itu menarik, seperti kuda yang tiba-tiba lari. Aku terseret masuk, jatuh di lantai perahu yang basah. Selain itu, tali tambat terlepas sendiri, simpulnya terbuka rapi, seakan ada yang mengurai dari bawah.
Perahu meluncur ke kabut. Tidak ada motor. Tidak ada tangan yang mendayung. Tetapi perahu bergerak dengan ritme teratur, seperti mengikuti garis yang tak terlihat. Aku mencoba berdiri, berteriak meminta tolong, namun suara tenggelam di kabut. Di belakang, dermaga dan nelayan tua memudar, seperti lukisan yang dihapus air. Di depan, hanya ada putih pekat dan bunyi kayu: derit, derit, derit.
Penumpang Tak Terlihat dan Kursi yang Masih Hangat
Di tengah perahu, ada bangku kayu kecil. Awalnya kupikir itu biasa. Akan tetapi, saat kuberdiri, lututku menyentuh bangku itu, dan aku merasa hangat—hangat seperti baru diduduki seseorang. Karena merinding, aku meraba permukaannya. Benar saja, kayunya tidak sedingin lantai. Seolah ada penumpang yang baru berdiri, tetapi tubuhnya tertinggal dalam suhu.
Kemudian, dari sisi kanan perahu, muncul cipratan kecil. Airnya bukan menabrak, melainkan seperti “disapu” jari. Pada saat yang sama, perahu kosong sedikit miring, seperti menyesuaikan beban yang tidak kulihat. Aku menahan napas. Meski aku ingin percaya pada logika, tubuhku tahu ada sesuatu lain di sini.
Dari kabut, bayangan pulau samar muncul, lalu hilang. Lalu muncul lagi, lebih dekat. Namun bentuknya tidak stabil. Seperti pulau itu bergerak, bukan perahu. Selain itu, lampu minyak di haluan mulai berpendar kehijauan. Aku menelan ludah. Sebab warna itu mengingatkanku pada cerita-cerita lama: api yang bukan untuk menerangi, melainkan untuk menuntun.
Dermaga Terlupa dan Papan Nama yang Terbalik
Tidak lama kemudian, kabut terbelah, dan sebuah dermaga lain muncul. Dermaga itu sempit, tiangnya miring, dan papan namanya terpasang terbalik. Aku mengeja pelan, tetapi hurufnya seperti tidak mau terbaca. Sementara itu, perahu kosong menabrak pelan, lalu berhenti, seolah tujuan sudah tercapai.
Aku ingin tetap di perahu. Namun kakiku turun sendiri. Papan dermaga licin, tetapi tidak ada lumut. Yang ada justru bekas telapak kaki, banyak sekali, dan semuanya mengarah ke darat, tidak ada yang kembali ke perahu. Karena takut, aku menoleh ke belakang. Perahu itu masih di sana. Tetapi lampu minyaknya kini berada di tengah perahu, seperti dipindah tanpa tangan.
Di darat, jalan setapak mengarah ke kumpulan rumah gelap. Rumah-rumah itu terlihat seperti kampung, tetapi tanpa suara. Tidak ada anjing. Tidak ada lampu listrik. Namun ada asap tipis dari beberapa atap, seperti tungku yang masih menyala. Selain itu, angin membawa aroma nasi hangat. Aroma itu menampar perutku, membuatku lapar mendadak, dan itu terasa salah.
Kampung Kabut dan Panggilan yang Meniru Suara Ibu
Aku berjalan pelan, sebab pulang lewat air tampak mustahil. Sementara itu, di kanan kiri, pepohonan seperti bergerak mengikuti langkahku. Bukan karena angin, tetapi seperti memiringkan tubuh untuk mendengar. Di depan, sebuah rumah paling ujung menyala dengan lampu minyak. Pintu rumahnya terbuka sedikit. Dari celahnya terdengar suara perempuan, lembut, akrab: suara ibuku.
“Raka… masuk dulu,” katanya.
Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Kakiku maju. Namun, sebelum sampai, aku menahan diri. Sebab aku ingat: ibuku ada jauh di kota. Selain itu, suara itu terlalu bersih, tanpa jeda napas. Seperti rekaman yang diputar ulang. Aku mundur setengah langkah, dan pada saat itu, perahu kosong di belakangku berderit keras, seolah mengingatkan.
Lalu suara itu berubah. Kini terdengar seperti sahabatku, lalu seperti mantan kekasihku, lalu seperti suaraku sendiri. Setiap suara memanggil nama yang sama, dan setiap panggilan membuat kabut menebal. Aku menutup telinga, tetapi panggilan itu tidak lewat telinga. Ia masuk lewat dada.
Menolak Undangan dan Menemukan Nama di Air
Aku memilih berbalik. Dengan napas terburu-buru, aku kembali ke dermaga terlupa. Namun, saat aku tiba, perahu kosong tidak ada. Yang tersisa hanya lingkaran riak di air, seperti bekas mulut yang baru menutup. Karena panik, aku mencari ke kiri-kanan. Kabut menertawakan jarak. Selain itu, bunyi dayung muncul dari belakangku, padahal danau di depan sunyi.
Di papan dermaga, aku melihat sesuatu: ukiran nama. Ukirannya dalam dan baru. Di sana tertulis “RAKA,” tetapi huruf terakhir terlihat belum selesai, seperti masih menunggu goresan. Aku meraba ukiran itu, dan jariku basah, bukan oleh air danau, melainkan oleh sesuatu yang hangat, seperti keringat.
Kemudian riak di danau membentuk bayangan. Bayangan itu bukan wajah. Ia lebih mirip tulisan yang mengambang. Satu demi satu huruf muncul, menyusun kalimat: “KAMU SUDAH NAIK.” Aku mundur. Namun papan dermaga bergetar, seolah ada sesuatu di bawahnya yang bangun.
Jalan Keluar yang Harus Dibayar dengan Suara
Dari kabut, terdengar langkah kaki banyak orang. Namun yang terlihat hanya garis-garis gelap di bawah kabut, seperti bayangan yang lupa punya tubuh. Mereka mendekat tanpa suara napas. Sementara itu, angin berhenti total. Danau menjadi kaca. Lalu perahu kosong muncul lagi, tetapi kali ini tidak dari depan—melainkan dari bawah dermaga, seolah naik dari kedalaman.
Di perahu, lampu minyak menyala terang. Di bangku tengah, ada benda kecil: sebuah peluit tua. Aku memungutnya, karena itu satu-satunya benda “nyata” di tempat ini. Begitu kupegang, suara di kepalaku berhenti sejenak. Karena itu, aku sadar: tempat ini menagih suara, bukan uang.
Aku meniup peluit itu. Nada yang keluar tidak nyaring, melainkan berat, seperti suara dari dalam sumur. Namun kabut langsung bergeser. Jalan setapak terbuka, mengarah ke air, bukan ke kampung. Sementara itu, bayangan-bayangan di sekitar mundur. Seolah mereka tidak suka bunyi itu.
Aku meniup lagi. Kali ini, perahu kosong bergerak mundur, mengarah ke danau. Maka aku melompat masuk. Meski takut, aku lebih takut tinggal. Lampu minyak kembali kuning pucat. Derit dayung terdengar lagi, meski tetap tak ada tangan.
Pagi di Tepi Danau dan Suara yang Tidak Kembali
Ketika kabut menipis, aku melihat dermaga awal. Nelayan tua itu masih ada, berdiri seperti patung. Perahu menabrak pelan, lalu diam. Aku jatuh tersungkur di papan kayu, batuk-batuk, meski aku tidak minum air. Karena lemas, aku mencoba berterima kasih. Namun, saat mulutku terbuka, tidak ada suara keluar.
Aku mencoba lagi. Tetap hening. Panik naik, tetapi nelayan tua itu menghela napas. “Kamu bayar dengan suara,” katanya. “Itu harga paling murah.” Ia menatap danau. “Kalau kamu masih punya suara, kamu akan dipanggil lagi.”
Aku meraba tenggorokanku. Rasanya normal. Namun suaraku hilang. Selain itu, di saku jaketku, ada peluit tua tadi. Aku ingin membuangnya. Tetapi tanganku gemetar. Sebab aku tahu, suatu malam, kabut akan turun lagi. Dan saat itu, tanpa suara, aku hanya bisa menonton perahu kosong lewat… menunggu aku naik untuk kedua kalinya.
Flora & Fauna : Fauna Gunung Tropis dan Adaptasinya terhadap Iklim Dingin