Keramaian yang Terlihat Normal, tetapi Rasanya Tidak
Malam itu aku datang untuk tugas foto, sementara bisikan beringin sama sekali belum kupikirkan sebagai ancaman nyata. Karena deadline menekan, langkahku melewati pedagang, odong-odong, dan keluarga yang tertawa tanpa henti. Sementara itu, dua beringin besar di tengah alun-alun berdiri seperti gerbang tua; akibatnya, bayangan cabang membentuk anyaman hitam yang membuat area bawahnya terasa seperti ruang lain.
Selain itu, gerak orang-orang mendadak berbeda begitu mendekati beringin. Namun demikian, mereka tidak panik; mereka hanya melambat, lalu berbelok halus seolah menghindari garis tak terlihat. Kemudian, seorang penjual wedangan dari sudut memanggil sambil mengangkat gelas.
Selanjutnya, kalimatnya keluar pelan, “Mas, kalau dengar bisikan beringin, jangan jawab.” Pada saat itu, aku menertawakan separuh, lalu menyimpan separuhnya di kepala. Walaupun begitu, telapak tanganku tetap terasa dingin ketika kamera kuangkat.
Foto yang Hilang dan Layar yang Seperti Ditelan
Pertama kali memotret, aku mengambil sudut jauh agar lampu taman masuk frame. Berikutnya, jarak kupendekkan untuk memotret akar yang menggembung seperti urat tua. Setelah itu, sudut kuletakkan rendah supaya kanopi beringin menutup langit dan menjadikan pohon tampak raksasa.
Akan tetapi, satu foto tiba-tiba hilang dari galeri. Di sisi lain, hilangnya itu tidak seperti error biasa; foto tersebut seolah tidak pernah ada. Akibatnya, tombol shutter kutekan lagi dengan napas yang mulai rapat.
Bahkan sebelum jari lepas dari tombol, layar sempat gelap sepersekian detik. Lantas preview menyala dan menampilkan kabut tipis melintas seperti asap, padahal malam itu cerah. Seketika kepala menoleh ke belakang, tetapi yang terlihat hanya paving dan orang-orang di jarak jauh.
Sementara keramaian terdengar mengecil, suara halus muncul dekat telinga: “Balik….” Karena itu, kakiku mundur setengah langkah, dan keramaian langsung “normal” lagi. Namun rasa penasaran lebih besar, sehingga tubuh ini malah maju kembali.
Kemudian suara itu datang lagi, lebih jelas: “Balik… sini….” Pada detik itu, aku sadar etikanya sederhana: jangan jawab bisikan beringin, apa pun yang terjadi.
Daun Jatuh Membuat Batas, lalu Nama Dipanggil
Begitu berdiri di bawah kanopi, aku memotret akar sekali lagi. Selanjutnya, satu daun jatuh persis di ujung sepatu, disusul daun kedua yang jatuh di sisi kiri. Setelah itu, daun-daun lain turun cepat, tetapi bukannya berhamburan, mereka membentuk lingkaran rapi mengelilingi kakiku.
Akibatnya, langkahku tertahan. Walaupun aku mencoba keluar, celah lingkar “ditutup” oleh daun berikutnya seperti pagar yang diperbaiki terus-menerus. Di saat napas memendek, namaku dipanggil dengan suara yang terlalu akrab.
Anehnya, panggilan pertama meniru suara ibuku. Lalu tiruan berikutnya berubah menjadi suara teman kuliah. Bahkan, beberapa detik kemudian, suaranya menjadi mantan yang lama tak kudengar. Karena itu, lidahku hampir menjawab, sebab otak kecilku mengira ada orang sungguhan di dekatku.
Namun demikian, gigitan kecil pada ujung lidah menahan refleks itu. Sementara lutut terasa lemas, mataku menangkap simpul kain hitam pada akar beringin. Di bawah simpul, benang putih menggantung seperti baru digulung.
Di sisi lain, keinginan menyentuh muncul seperti dorongan konyol. Akan tetapi, ketakutan menahan tangan; sentuhan terasa seperti izin untuk membuka pintu.
Tarikan Kasar yang Menyelamatkan, lalu Penjelasan yang Membuat Ngeri
Tiba-tiba seseorang berteriak dari pinggir, “Mas keluar!” Kemudian tukang parkir berlari dan menarik lenganku keluar dari bayangan pohon. Sesudah melewati batas gelap itu, suara alun-alun kembali terdengar wajar, seolah ada pintu udara yang dibuka lagi.
Selanjutnya, tukang parkir menutup layar kamera dengan telapak tangannya. Karena itu, aku tidak sempat menunjukkan apa yang kulihat. Namun ia berbicara cepat, “Jangan lihat lagi. Makin dilihat, makin nyambung.”
Di saat dadaku bergetar, pertanyaan keluar, “Nyambung ke apa?” Lantas ia menjelaskan bahwa orang-orang tertentu mengikat simpul kain di akar beringin, lalu membisikkan nama orang yang dibenci. Akibatnya, pohon “menyimpan” niat buruk itu, dan simpanan tadi berubah menjadi suara dari waktu ke waktu.
Bahkan ia menegaskan, “Itu yang disebut bisikan beringin.” Walaupun suaranya pelan, kata-katanya terasa menghantam. Di sisi lain, ia menatapku lama seolah mengukur apakah aku sudah terlanjur menjawab.
Kemudian kalimat yang paling menakutkan keluar: “Mereka mau kamu sebut nama. Sekali saja.”
Simpul Bertambah dan Kentongan yang Datangnya Tidak Wajar
Sebelum pulang, mataku sempat melirik akar beringin sekali lagi. Anehnya, simpul kain hitam bertambah satu, padahal barusan hanya satu. Selain itu, benang putih tampak lebih panjang, seolah baru saja ditarik beberapa detik lalu.
Akibatnya, tukang parkir mengembuskan napas berat, “Ada yang baru nitip malam ini.” Lalu suara kentongan berbunyi: tok… tok… tok…. Namun bunyi itu bukan dari pos ronda, melainkan dari dalam bayangan beringin.
Sesaat kemudian lampu taman berkedip sekali. Setelah itu, sunyi menutup alun-alun seperti kain tebal. Bahkan tawa anak kecil terasa hilang, padahal barusan ramai.
Di balik batang, sosok berdiri diam dengan kain gelap menutup kepala sampai bahu. Lantas tekanan muncul di kepala seperti perintah asing: “Sebut… namanya….” Karena itu, telapak tanganku menutup mulut sekuat mungkin.
Walaupun lutut gemetar, aku tetap bertahan berdiri. Sementara tukang parkir berdoa lirih, aku meniru semampuku. Kemudian tekanan itu melemah, dan suara alun-alun kembali pelan-pelan.
Akhirnya sosok gelap mundur, lalu larut ke batang beringin seperti tinta diserap kayu. Namun demikian, dengung bisikan beringin tersisa jauh, seperti radio yang dikecilkan.
Foto Baru Muncul, Benang Terlihat, dan Ancaman Ikut Pulang
Di tempat yang lebih terang, galeri kamera kubuka lagi. Aneh, ada foto baru yang tidak kuingat memotretnya. Selain itu, foto tersebut memperlihatkan aku berdiri di lingkar daun, dan benang putih tipis menjulur dari punggungku menuju akar beringin.
Akibatnya, tukang parkir menelan ludah dan berkata, “Kamu kena batasnya.” Lantas ia menambahkan, “Benang itu harus diputus, atau bisikan beringin ikut pulang.” Karena panik, aku mengikuti saran kembali ke wedangan untuk air garam.
Air Garam, Napas Panjang, dan Aturan yang Tidak Boleh Dilanggar
Penjual wedangan menuang air hangat dan garam tanpa banyak tanya. Kemudian ia menyuruhku minum seteguk, lalu membasuh muka dan tangan dengan sisanya. Sesudah itu, dada terasa sedikit longgar, walau takut masih menempel.
Namun demikian, ia menatapku serius, “Kamu hampir jawab?” Karena itu, aku hanya mengangguk pelan. Lantas ia berkata, “Kalau kamu jawab, kamu jadi pintu.”
Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa manusia sering menitip kebencian pada benda tua. Akibatnya, ketika benda itu penuh, ia mulai berbisik mencari celah. Bahkan ia menekankan satu aturan: jangan balas, sehalus apa pun suaranya.
Akhirnya aku mengerti, sebab bisikan beringin tadi meniru suara yang paling mudah membuatku lengah.
Pulang dengan Bisikan yang Memelintir Kenangan
Di perjalanan pulang, lampu jalan tampak normal. Walaupun begitu, punggungku dingin seolah ada sesuatu menumpang di kain jaket. Sementara jok belakang kosong, sensasinya terasa “berisi”, dan itu membuat tenggorokan kering.
Kemudian suara halus muncul dari sela kerah: “Sebutin aja… biar selesai….” Karena takut refleks menjawab, ujung lidah kugigit sambil bersenandung pelan agar mulut sibuk. Sesudah tiba di kos, pintu kututup cepat, namun dengung tipis seperti menyusul dari arah lemari.
Lantas air garam kubuat lagi, lalu muka dan tangan kubasuh. Setelah itu, duduk menunduk terasa lebih aman daripada mondar-mandir. Anehnya, sebuah nama muncul di kepalaku—nama seseorang yang pernah menyakitiku.
Di titik itu, jebakannya jelas: bisikan beringin tidak menanam dendam baru; ia hanya menyirami dendam lama sampai lidah terpeleset. Karena itu, aku menolak menyebutnya.
Akhirnya suara memudar seperti tali yang kehilangan tarikan.
Benang Putus, Noda Tinggal, dan Pohon yang Masih Menunggu
Menjelang subuh, mimpi yang sama membangunkanku. Sesudah sadar, sehelai benang putih tipis menempel pada kaus. Lantas benang itu kutarik, dan putusnya terasa seperti memutus sambungan, bukan serat.
Sekejap kamar menjadi hangat. Kemudian dengung terakhir hilang. Namun noda hitam kecil seperti arang tetap menempel di sidik jariku, dan noda itu sulit hilang meski digosok.
Di sisi lain, tanda itu justru memperjelas pelajaran malam ini: benang bisa putus, tetapi jejak tetap tinggal. Akibatnya, aku tahu beringin itu masih menyimpan simpul-simpul dan suara-suara. Bahkan, selama manusia terus menitip kebencian, bisikan beringin akan selalu mencari mulut baru untuk dijadikan pintu.
Inspirasi & Motivasi : Membangun Disiplin Diri untuk Capai Tujuan Hidup Lebih Cepat