Bayangan Misterius di Dalam Bus Malam Rute Blitar Surabaya

Bayangan Misterius di Dalam Bus Malam Rute Blitar Surabaya post thumbnail image

Terminal Sunyi dan Bus yang Tidak Terlihat Normal

Hujan baru saja berhenti ketika aku tiba di terminal kecil Blitar. Walaupun lampu-lampu kuning masih menyala, suasananya terasa ganjil—sepi, dingin, dan seperti kehilangan suara manusia. Karena kereta penuh dan aku harus masuk kerja pagi nanti, aku tidak punya pilihan selain menaiki bus malam menuju Surabaya.

Sesampainya di ujung peron, sebuah bus tua dengan cat hijau kusam menarik perhatianku. Meskipun catnya terkelupas, tulisannya masih bisa dibaca samar: “Surabaya.” Selain itu, bus itu tampak berdiri sendirian, tidak seperti kendaraan lain yang dikelilingi calo dan penumpang.

Kondekturnya berdiri sambil merokok, menatapku tanpa ekspresi. Ketika kutanya soal tiket, ia hanya mengangguk dan menyebut harga yang anehnya lebih murah dari biasanya. Bahkan caranya menghitung uangku tampak seperti ritual otomatis, bukan transaksi nyata.

Sesaat setelah aku melangkah masuk, udara dalam bus langsung berubah. Meski tidak terlalu gelap, suasananya seperti ruang kosong yang sedang menunggu kejadian buruk.


Penumpang yang Terlihat Nyata Namun Tidak Bergerak

Begitu duduk, aku menyadari bahwa penumpangnya sedikit. Seorang ibu memakai kerudung hitam duduk dekat jendela sambil memeluk tas dengan erat. Di depannya, lelaki tua berjas cokelat menunduk, tak bergerak sama sekali. Di kursi paling belakang, seorang pemuda mengenakan hoodie menutupi wajahnya, seakan tidak mau terlihat siapa pun.

Anehnya, setiap kali aku menggeser posisi duduk, kursi kosong di sampingku seperti terasa berat, seolah ada sesuatu yang pelan-pelan menempatinya meski tak terlihat. Karena merasa tidak nyaman, aku mencoba fokus ke luar jendela dan mengabaikan apa pun yang mungkin hanya bayanganku.

Namun, beberapa menit kemudian, kondektur menghitung penumpang sekali lagi. Ketika melewatiku, ia sempat berhenti. Matanya menatap kursi kosong di sampingku dengan pandangan bingung. Lalu ia berbisik, “Seharusnya… tidak penuh.” Setelah itu, ia buru-buru pergi.

Perkataannya membuat tubuhku menegang. Bahkan sebelum perjalanan dimulai, suasana bus terasa janggal.


Pantulan di Jendela yang Tidak Menyerupai Penumpangnya

Setelah mesin bus dinyalakan, perjalanan dimulai perlahan. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota. Namun, begitu bus melewati batas kota, pemandangan berubah gelap. Lampu jalan semakin jarang. Karena suasana lengang, pantulan kaca jendelaku tampak sangat jelas.

Awalnya, aku hanya melihat diriku sendiri. Akan tetapi, ketika bus melewati tikungan pertama, pantulan itu berubah. Di belakangku terlihat sosok tinggi tanpa wajah, berdiri di lorong, meski kenyataannya tidak ada siapa pun di sana ketika aku menoleh.

Aku mencoba mengabaikannya, tetapi pantulan itu terus mengikuti. Bahkan matanya—dua lubang hitam tanpa bentuk—seakan menatap lurus ke arah wajahku, bukan pantulan kaca.

Karena tidak tahan, aku memejamkan mata. Namun, setiap kali mata ini kubuka kembali, bayangan itu selalu muncul meski posisinya berubah sedikit demi sedikit, seakan bergerak mendekat setiap kali bus berguncang.


Pemberhentian yang Tidak Seharusnya Ada

Setelah satu jam perjalanan, bus melambat secara tiba-tiba. Di luar, tidak terlihat pos atau warung, hanya pepohonan gelap dan jalan kosong. Sopir menghentikan bus di tepi jalan, membuat seluruh penumpang sedikit tersentak.

Kondektur berjalan ke arah depan, lalu berbicara lirih kepada sopir. Nada suaranya panik meski dibuat-buat tenang. Ia menyalakan lampu kabin sebentar. Bahkan cahaya itu hanya membuat situasi semakin mencekam karena wajah para penumpang tampak pucat seperti boneka museum.

Kondektur berkata, “Istirahat sebentar. Silakan kalau mau keluar sebentar.”
Tidak ada satu pun penumpang yang bergerak. Bahkan lelaki tua yang sejak awal tidak bergerak tampak semakin kaku, seperti patung yang dipahat buruk.

Saat menoleh ke luar, aku melihat siluet seseorang berdiri di balik kabut. Sosok itu tinggi, rambutnya tergerai panjang, dan posisinya tidak berubah sama sekali meski angin meniupkan embusan dingin. Namun, ketika kutatap lebih lama, bus kembali berjalan. Lampu kabin dimatikan. Sosok itu menghilang.

Beberapa detik kemudian, udara bus mendadak menurun suhunya. Seakan sesuatu yang tadi di luar telah berhasil masuk.


Suara-Suara yang Tidak Sesuai dengan Mulut Pemiliknya

Beberapa menit setelah lampu bus mati, bisikan-bisikan pelan mulai terdengar. Pertama-tama seperti angin bocor dari jendela, namun lama-lama berubah menjadi tumpang tindih suara manusia.

Ibu berkerudung hitam terlihat menggerakkan bibirnya perlahan. Walaupun mulutnya nyaris tidak terbuka, suara lelaki dewasa keluar darinya. Sementara itu, lelaki tua di depanku membuka matanya—tanpa berkedip—tetapi suara anak kecil yang tertawa lirih keluar dari arah tubuhnya.

Pemuda ber-hoodie di bagian belakang tetap membungkuk. Namun, dari arahnya justru terdengar suara perempuan menangis tercekik, seolah seseorang menahannya untuk tidak berteriak.

Aku menutup telinga, tetapi suara-suara itu tidak teredam. Malahan semakin dekat, seperti berbisik langsung ke dalam rongga kepala. Di antara semua suara, ada satu kalimat yang paling sering terdengar:

“Turunlah.”
“Atau kembali.”
“Atau ulang.”

Suara-suara itu bergema seakan memaksaku memilih.


Pengakuan Kondektur tentang Rute yang Tidak Seharusnya Berjalan

Karena tidak kuat, aku memanggil kondektur ketika ia lewat. Dengan suara gemetar, aku bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Alih-alih menjawab cepat, ia duduk di kursi sebelahku dan menarik napas panjang, seakan membuang beban bertahun-tahun.

“Bus ini… seharusnya tidak ada,” katanya. “Beberapa tahun lalu, bus rute ini terbakar setelah terguling di sebuah tikungan. Banyak penumpang tewas terjebak di dalamnya.”

Menurutnya, setelah tragedi itu, kadang bus tua yang mirip bus tersebut muncul kembali di terminal pada malam-malam tertentu. Tak banyak orang yang naik karena jadwalnya tidak tetap. Penumpangnya selalu sedikit, dan sebagian besar tidak pernah menceritakan kembali bagaimana perjalanan berlangsung.

Karena penasaran, aku bertanya, “Lalu kenapa Anda ikut di sini?”

Ia menatapku dengan tatapan kosong. “Aku harusnya juga meninggal waktu itu. Satu-satunya yang membuatku selamat adalah karena aku turun sebentar. Sejak saat itu… aku tidak bisa pulang.”

Penjelasan itu membuat tubuhku gemetar. Jika kondektur saja bukan sepenuhnya manusia, lalu siapa penumpang lainnya?


Nama-Nama Penumpang yang Seharusnya Sudah Tidak Ada

Kondektur kemudian mengeluarkan buku kecil dari saku jaketnya. Warnanya cokelat tua, lusuh, dan beberapa halamannya tertekuk. Ia membuka halaman berisi daftar nama dan catatan singkat.

Di sana tertera banyak nama, masing-masing dengan keterangan singkat seperti “Ibu dan anak, duduk dekat jendela,” atau “Laki-laki tua, tidak sempat keluar.” Bahkan ada catatan bertanggal puluhan tahun lalu.

Namun, tatapanku berhenti pada nama paling bawah. Namaku. Tepat di sampingnya tertulis: “Duduk sendirian, memegang ransel hitam.”

Jantungku seakan berhenti. Aku mencoba menolak kenyataan itu, tetapi kepalaku mulai terasa berat. Kenangan tentang saat aku naik bus mendadak kabur. Terminal terlihat seperti mimpi yang samar. Bahkan langkahku menuju bus seakan bukan langkah nyata.

“Aku… masih hidup, kan?” tanyaku pelan.

Kondektur hanya menatapku lama. “Itulah yang dipikirkan semua orang sebelum rute ini mengulang.”


Kecelakaan yang Mengulang Setiap Malam

Beberapa menit kemudian, bus memasuki jalan berkelok. Kabut makin tebal, dan suara angin menampar sisi bus. Sopir mulai terlihat gelisah. Tangan kanannya menggenggam setir begitu erat.

Tiba-tiba dentingan logam terdengar dari bawah bus. Ban belakang bergeser, membuat bus melambat. Dari arah belakang, tawa dan tangis bersahut-sahutan. Bayangan tanpa wajah kembali muncul di lorong.

Bus memasuki tikungan berbahaya. Dalam hitungan detik, suara rem terdengar sangat terlambat. Aku hanya sempat melihat pepohonan dan langit gelap sebelum tubuh terlempar hebat. Kursi-kursi berputar, kaca pecah, dan api menyambar pandanganku.

Namun, ketika aku membuka mata lagi, aku kembali duduk di kursi yang sama. Bus melaju normal. Penumpang tampak seperti sebelumnya—tetapi wajah mereka semakin pucat, beberapa hampir transparan. Bahkan tubuh pemuda ber-hoodie kini tampak seperti abu yang berusaha tetap berbentuk.

Kondektur menatapku. “Rute ini akan mengulang sampai kau memilih. Semua orang harus memilih.”


Tujuan yang Tidak Benar-Benar Ada

Tidak lama setelah itu, lampu-lampu kota muncul dari kejauhan. Terminal Surabaya terlihat seperti bayangan tempat yang pernah kukenal. Bus memasuki area tersebut, lalu perlahan berhenti.

Pintu terbuka. Ibu berkerudung keluar dan menghilang seketika. Lelaki tua menyusul, tubuhnya lenyap sebelum menyentuh tanah. Pemuda ber-hoodie berhenti sejenak di pintu, lalu menghilang seperti kabut yang ditiup angin.

Kondektur berdiri di tangga bus, menghadapku. “Kalau kau turun, kau tidak akan benar-benar sampai di Surabaya,” katanya pelan. “Kalau kau bertahan, rute ini akan mengulang sampai kau lupa semuanya.”

Aku memandang luar. Terminal itu bergerak sangat lambat, seperti dunia sedang menunda waktu agar aku memutuskan dengan benar.

Namun, begitu aku menatap refleksi di jendela, aku melihat sesuatu yang membuatku mundur: bayangan hitam berdiri tepat di belakangku. Bayangan itu tidak menempel pada tubuhku. Ia berdiri terpisah, menunggu.

Tanpa berkata apa pun, aku kembali ke kursi. Bus menutup pintu dan mulai berjalan menjauh dari terminal. Jalanan gelap kembali menelan semuanya.


Bus yang Akan Kembali Mencari Penumpang Baru

Kini hanya ada aku dan kondektur. Kursi-kursi lainnya kosong, namun jejak bayangan masih tampak seperti bekas penumpang yang pernah duduk di sana. Kondektur menunduk, lalu berkata lirih, “Mungkin malam berikutnya ada orang lain yang naik.”

Di luar, hujan mulai turun lagi. Jalanan gelap membentang panjang, seakan tidak berujung.

Sementara itu, bayanganku sendiri memanjang di lantai bus. Namun, bayangan itu bukan lagi bayangan manusia hidup. Ia bergerak sedikit lebih cepat dariku, seakan tidak sabar menemukan penumpang berikutnya yang akan duduk di kursi kosong di sampingku.

Karena itu, jika suatu malam kau menunggu bus malam di terminal sepi, dan melihat bus tua dengan tarif terlalu murah berhenti di depanmu…

Jangan naik.
Beberapa perjalanan tidak pernah sampai tujuan.
Beberapa rute hanya mencari penumpang baru.

Inspirasi & Motivasi : Membangun Mental Tangguh dalam Menghadapi Perubahan Hidup

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post